Feature

Dari Hobi Jadi Bisnis: Alumnus UMM Raup Omzet 100 Juta per Bulan dari Anggrek

33
×

Dari Hobi Jadi Bisnis: Alumnus UMM Raup Omzet 100 Juta per Bulan dari Anggrek

Sebarkan artikel ini
Nandia Anindhita di antara koleksi anggrek hasil budi dayanya di salah satu greenhouse miliknya di Tulungagung, Jawa Timur. (Foto Humas UMM)

Berawal dari magang kampus, Nandia Anindhita menemukan passion sekaligus peluang bisnis di balik keindahan anggrek. Kini, alumnus Pendidikan Biologi UMM itu sukses membangun usaha florikultura dengan omzet tembus Rp100 juta per bulan.

Tagar.co – Keindahan bunga anggrek tak hanya memikat mata, tetapi juga menjadi jalan kesuksesan bagi Nandia Anindhita, alumnus Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Berawal dari hobi dan pengalaman magang semasa kuliah, kini Nandia menjelma menjadi pengusaha anggrek sukses dengan omzet mencapai Rp100 juta per bulan.

Baca juga: UMM–Shimonoseki City University Resmikan Japan Corner

Perjalanan bisnisnya dimulai pada tahun 2016, ketika ia masih duduk di semester enam. Saat itu, Nandia menjalani magang di sebuah kebun anggrek dan mulai menyadari bahwa di balik kecantikan bunga tersebut tersimpan peluang ekonomi yang besar.

“Awalnya tidak pernah terpikir untuk terjun ke bisnis anggrek. Tapi setelah magang, saya melihat banyak peluang yang bisa dikembangkan,” kenangnya, dikutop dari siaran pers Humas UMM, Jumat (7/11/25).

Baca Juga:  Dari Malang untuk Indonesia: FEB UMM Tawarkan Solusi Atasi Ketimpangan Ekonomi

Sejak saat itu, Nandia mulai menanam dan memelihara anggrek sendiri. Berbekal ilmu botani dan ekologi yang diperoleh dari bangku kuliah di Pendidikan Biologi UMM, ia menekuni budi daya dengan penuh kesungguhan.

“Ilmu yang saya peroleh di kampus sangat berguna, terutama dalam memahami karakter tanaman dan bagaimana menciptakan lingkungan tumbuh yang optimal,” ungkapnya.

Awal usahanya terbilang sederhana. Nandia memasarkan hasil budi dayanya melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram. Respons publik begitu positif hingga ia sempat kewalahan melayani pesanan. Perlahan, usahanya berkembang pesat. Kini, ia telah memiliki tiga greenhouse yang tersebar di Tulungagung, Malang, dan Batu.

Koleksi anggreknya kini mencapai ratusan ribu tanaman dari berbagai varietas. Bahkan, ia telah memiliki petani mitra — meskipun baru satu orang — yang menjadi langkah awal menuju ekspansi usaha yang lebih besar.

Nandia Anindhita menunjukkan tanaman anggrek siap jual di rumah tanam miliknya. (Foto Humas UMM)

Menariknya, nama Nandia juga diabadikan dalam salah satu varietas anggrek yang terdaftar di Royal Horticultural Society (RHS), yakni Dendrobium Nandia Anindhita (D.S. Santoso, 2018).

Baca Juga:  Ngabuburit di Kayutangan: Ada Buku, Ecoprint, hingga Dapur Live Cooking

Varietas ini merupakan hasil persilangan Dendrobium Otto I. Leidin × Dendrobium lineale, dengan pengaruh genetik kuat dari spesies Dendrobium lineale dan Dendrobium helix.

“Tentu saya bangga ada varietas yang menyandang nama saya. Ini menambah semangat untuk terus berkontribusi di dunia florikultura Indonesia,” tuturnya dengan senyum.

Kini, jangkauan pemasaran anggrek milik Nandia telah mencapai seluruh Indonesia. Banyak pesanan datang dari kota-kota besar, bahkan ia melayani penjualan grosir untuk para reseller dan penjual anggrek di berbagai daerah. Meski demikian, ia masih menghadapi tantangan dalam menembus pasar luar negeri.

Kesuksesan tersebut tentu tidak diraih secara instan. Nandia menuturkan, tantangan terbesar di awal adalah membangun kepercayaan pelanggan dan menjaga kualitas produk. Ia mengandalkan pendekatan personal, pelayanan responsif, serta kualitas tanaman yang terjaga untuk membangun reputasinya.

“Kerja sama dengan petani mitra juga sangat membantu menjaga kualitas dan kuantitas produksi,” tambahnya.

Sebagai pengusaha muda sekaligus alumnus UMM, Nandia mengakui bahwa semangat dan nilai-nilai yang ia pelajari di kampus sangat membekas.

Baca Juga:  Program CoE UMM Dorong Mahasiswa Siap Kerja di Industri Sawit

“Di UMM saya tidak hanya belajar ilmu biologi, tapi juga belajar menjadi pribadi mandiri dan berjiwa wirausaha. Pesan untuk anak muda, jangan pernah takut mencoba hal baru. Ilmu yang kita pelajari bisa menjadi bekal untuk banyak hal, termasuk membuka lapangan kerja. Yang penting terus belajar, berinovasi, dan percaya pada proses,” ujarnya. (*)

Penyunting Mohammad Nurfatoni