
Setiap kejadian, setiap apa yang ditakdirkan oleh Allah pasti ada hikmahnya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.
Tagar.co – Hampir sepertiga isi ceramah Dr. Muhammad Arfan Mu’ammar, M.PdI., di Pengajin Ahad Pagi yang diselenggarakan Masjid At-Taqwa Menganti Gresik Jawa Timur, Ahad (5/1/25) berisi kisah, cerita, atau dongeng.
“Kita didongengi itu senang. Buktinya Al-Quran banyak berisi cerita,” alasan dia mengapa banyak bercerita dalam ceramah dengan durasi 50 menit tersebutPengajian.
Dia pun mengutip ungkapan terkenal berbahasa Inggris yang artinya cerita itu adalah cara yang paling efektif untuk menjelaskan teori, konsep, atau makna. “Bahkan sesuatu yang susah sekalipun kalau dijelaskan dengan cerita itu mudah dipahami,” katanya.
Dalam pengajian bertema berat soal tasawuf Belajar Memahami Kehendak Allah itu, Ustaz Arfan, sapaannya, mencoba membumikannya dengan kisah-kisah yang disampaikan. Salah satunya lewat kisah berhikmah tentang seorang raja.
Video durasi penuh pengajian bisa ditonton di sini
Hikmah Jari Terpotong
Kisah ini soal raja yang suka berburu. Bersama seorang penasihatnya, sang raja berburu ke hutan di sekitar istana. Ketika mendapat hewan buruan maka segera disembelih dan dipotong-potong. Saking semangatnya, dalam proses itu jari telunjuk raja ikut terpotong.
Maka dia segera pulang. Sepenjang perjalanan sang raja kesakitan dan terus mengeluh. Dia kecewa dan tak bis amenerima kenyataan itu, karena sebagai raja yang masih muda sudah punya cacat tubuh, jarinya hilang satu.
Sang penasihat mecoba memberi nasihat sesuai dengan tugasnya. Dia meminta sang raja sabar dan legowo dalam menerima kenyataan itu sambil mencari hikmah di balik peristiwa.
Baca juga: Allah Menciptakan Alam Semesta dari Diri-Nya Sendiri?
Raja marah dan kecewa. Dia tidak bisa sabar dan menerima kenyataan itu. Dia murung dan mengurung diri di kamar tiga hari tiga malam. Sang penasihat mencoba terus memberi pencerahan. Tapi nasihat itu tidak masuk di hati sang raja hingga suatu ketika sang penasihat dengan nada emosional berujar, “Wahai raja mestinya Anda itu bersyukur masih mending yang terpotong itu jari telunjuk, coba kalau yang terpotong itu pergelangan tangan, coba gimana?”
Menerima nasihat yang bernada emosi tersebut, sang raja juga emosional, “Kamu itu penasihat saya kok berani sama saya. Bagaimana saya bersyukur di tengah kehilangan jari. Nasihatmu gak masuk akal,” balas raja. Akhirnya sang penasihat dimasukkan penjara.

Setelah Move-on
Selama tiga tahun sang raja baru bisa move on. Dia kangen dengan hobinya berburu. Maka dia pun mengangkat penasihat baru untuk menemani dia berburu. Tapi bosan berburu di hutan sekitar istana, akhirnya suatu saat raja berburu ke hutan yang lebih jauh.
Berhasil mendapat hewan buruan, sang raja menyembelih dan memotong-motongnya. Kali imi dilakukan dengan sangat hati-hati. Khawatir terulang lagi tragedi terpotongnya jari. Kemudian sang raja pulang. Sayangnya dia tersesat jalan. Maklum hutan itu baru dia jamah. Google Map pun belum ada waktu itu.
Putar kanan kiri, jalan pulang pun belum ketemu hingga hari hampir Magrib. Tiba-tiba gerombolan manusia primitif menghadang. Dan yang mengerikan mereka adalah para kanibal. Raja dan penasihatnya pun diseret ke perkampungan mereka, untuk dipersembahkan pada sang dewa.
Sebagai persembahan, syaratnya harus sempurna, tanpa cacat. Raja dihadapkan pada pemimpin. Diperiksa mulai dari kepala hingga kaki. Raja gagal jadi persembahan karena tubuhnya cacat. Jari telunjukknya tidak ada. Giliran sang penasihat. Dia lolos karena tak punya cacat. Maka dia yang dipersembahkan.
Raja pun melarikan diri. Dia lari terbirit-birit menjari jalan pulang. Akhirnya dia menemukan jalan dan sampai ke kerajaan. Di sana dia langsung meminta penasihan yang ditahannya untuk dibebaskan. Raja pun bercerita atas kejadian mengerikan yang baru saja dihadapinya.
“Saya berterima kasih padamu karena ternyata hikmah dari jari terpotong itu baru tiga tahun saya tahu. Coba jari saya tidak terpotong waktu itu maka saya akan jadi korban kanibalisme,” kata Raja.
Penasihat pun tersenyum-senyum. Raja heran kenapa sang penasihat dipenjara malah tersenyum. “Wahai raja saya juga bersyukur kepada Allah karena engkau memenjarakan saya,” ungkap sang penasihat.
“Lh kok bisa kamu kan tidak bertemu keluargamu tiga tahun, susah di penjara,” tanya raja heran.
“Wahai raja, seandainya engkau tidak memenjarakanku waktu itu, pasti yang engkau ajak berburu itu saya. Kan yang akan jadi korban kanibal pasti saya,” jawan sang penasihat.
#
Dengan kisah itu, dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya itu ingin menyampaikan sebuah konsep yang disebut blessing in disguise alias berkah yang tersembunyi. “Jadi setiap kejadian, setiap apa yang ditakdirkan oleh Allah pasti ada hikmahnya,” katanya.
Dia pun mengutip Surat Al-Baqarah 269: “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”
Ustaz Arfan lalu menguraikan hikmah tersebut dalam kajian selanjutnya yang dikemas dalam topik Pemberian Bermakna Pencegahan dan Pencegahan Bermakna Pemberian. “Seringkali Allah itu memberi tapi pemberiannya bermakna pencegahan dan seringkali Allah itu mencegah tapi pencegahannya bermakna pemberian,” ujarnya. (#)
Jurnalis Mohammad Nurfatoni











