
Simposium Guru Muhammadiyah se-Kabupaten Gresik menjadi ruang refleksi para pendidik menghadapi tantangan era digital. Di tengah banjir informasi yang serba cepat, guru didorong menghadirkan pembelajaran mendalam agar siswa tidak sekadar memperoleh jawaban, tetapi juga memahami makna.
Tagar.co – Deretan batik biru Forum Guru Muhammadiyah (FGM) memenuhi Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), Kamis pagi (7/5/2026).
Sebanyak 400 guru dari berbagai jenjang pendidikan Aisyiyah dan Muhammadiyah se-Kabupaten Gresik hadir dalam Simposium Guru Muhammadiyah yang digelar Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik bersama Pimpinan Daerah FGM Kabupaten Gresik.
Mulai dari guru TK, SD/MI, SMP/MTs hingga SMA/SMK/MA, mereka tampak antusias mengikuti kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional Ke-67 tersebut.
Baca juga: Rektor UMG Ajak Guru Muhammadiyah Jadikan Siswa sebagai Pusat Pembelajaran
Wakil Ketua PDM Kabupaten Gresik Bidang Pendidikan, Dr. M. Arfan Mu’ammar, M.Pd.I., dalam sambutannya menyoroti kondisi pendidikan saat ini yang berada di tengah derasnya arus informasi digital.
Menurutnya, tantangan pendidikan hari ini bukan lagi soal keterbatasan informasi, melainkan melimpahnya informasi yang dapat diakses siswa dengan sangat cepat.
“Dunia terbuka tanpa batas di tangan siswa. Guru belum selesai menjelaskan, mesin pencari sudah menyediakan jawaban,” ujarnya.
Arfan menilai kondisi tersebut memunculkan persoalan baru. Di tengah kemudahan memperoleh informasi, pemahaman siswa justru kerap menjadi dangkal. Ia menegaskan bahwa cepatnya akses informasi tidak selalu sejalan dengan kedalaman berpikir siswa.
Dalam paparannya, ia membedakan antara thinking fast dan thinking slow. Menurutnya, berpikir cepat tidak selalu baik apabila siswa tidak diberi ruang untuk memahami makna dari materi yang dipelajari.
“Kenapa di tengah kelimpahan informasi, pemahaman justru dangkal?” katanya mempertanyakan.
Ia menjelaskan bahwa siswa tetap membutuhkan proses berpikir lambat agar mampu mencerna materi secara mendalam. Sebab, pembelajaran tidak cukup hanya berhenti pada kemampuan menemukan jawaban dengan cepat.
Menurut Arfan, di tengah perkembangan teknologi, peran guru kini mengalami pergeseran. Jika sebelumnya guru menjadi sumber utama informasi, kini teknologi telah mengambil sebagian fungsi tersebut. Namun, ada satu hal yang menurutnya tidak bisa digantikan teknologi, yakni peran guru sebagai penuntun makna.
“Guru penuntun makna supaya makna tidak terlihat dangkal. Pembelajaran mendalam sangat penting agar dunia ini tidak kering oleh makna,” tegasnya.
Ia menambahkan, melalui pembelajaran mendalam, guru membantu siswa memahami informasi secara lebih utuh dan kontekstual, bukan sekadar mengetahui jawaban secara instan.
Suasana simposium berlangsung hangat dan penuh perhatian. Para peserta tampak serius menyimak materi yang disampaikan. Kegiatan ini diharapkan menjadi penguatan bagi para guru Muhammadiyah untuk terus menghadirkan pembelajaran yang bermakna di tengah tantangan era digital.
Di akhir sambutannya, Arfan secara resmi membuka Simposium Nasional Guru Muhammadiyah dalam rangka Hari Pendidikan Nasional dengan tema “Guru Muhammadiyah: Inspiratif, Inovatif, dan Kolaboratif untuk Pendidikan Bermutu”.
“Dengan mengucap basmalah, Simposium Nasional Guru Muhammadiyah dalam rangka Peringatan Hari Pendidikan Nasional dengan tema ‘Guru Muhammadiyah: Inspiratif, Inovatif, dan Kolaboratif untuk Pendidikan Bermutu’ saya nyatakan dibuka,” ucapnya yang disambut tepuk tangan peserta. (#)
Jurnlis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












