Feature

Allah Menciptakan Alam Semesta dari Diri-Nya Sendiri?

35
×

Allah Menciptakan Alam Semesta dari Diri-Nya Sendiri?

Sebarkan artikel ini
Muhammad arfan Mu’ammar saat menyampaikan kultum di Batu, Sabtu (28/12/24) (Tagar.co/Mohammad Nurfatoni)

Allah menciptakan alam semesta dari diri-Nya sendiri disampaikan oleh Muhammad Arfan Mu’ammar dalam sebuah kultum di acara Mealis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik. Ada pula teori penciptaan dari ketiadaan.

Tagar.co – Udara di Agorowisata Pinus, Kota Batu, Jawa Timur, Sabtu (28/2/24) pukul 04.04 WIB masih terasa dingin. Tapi suasana di ruang keluarga Villa Ummah mulai menghangat.

Salat jemaah Subuh yang dipimpin Naf’an Abu Mansyur baru saja rampung. Anggota Divisi Al-Islam dan Kemuhammadiyahaan Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah (PDM) Kabupaten Gresik, itu melantunkan Surat Ad-Duha di rakaat kedua dan Surat Ali Imran 103-108 di rakaat pertama.

Usai jemaah Subuh, suasana dihangatkan oleh Dr. Muhammad Arfan Mu’ammar, M.Pd.I. yang pagi itu bertindak sebagai penceramah kuliah tujuh menit alias kultum.

Di tengah 15 orang yang sebagian masih menahan kantuk itu, Wakil Ketua PDM Kabupaten Gresik tersebut menghentak suasana dengan kultum yang bertema serius.

“Menyambung ceramah iftitah Pak Nurfatoni kemarin, saya akan menyampaikan materi Cara Allah Menciptakan Alam Semesta,” ujarnya mengawali kultum.

Pada Jumat (127/12/24) sore Rapat Kerja Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik, resmi dibuka oleh Sekretaris Nurul Wafiyah. Sebelum Ketua Fadloli Aziz membahas materi raker, ada agenda ceramah pembuka (iftitah).

Saya yang mendapat amanah tersebut menyampaikan tema Takdir Alam Semesta dan Ulul Albab. Rupanya itu yang dimaksud Ustaz Arfan dengan menyambung materi.

Baca Juga:  Majelis Dikdasmen Gresik Luncurkan 7 Program Strategis 2026, Fokus Mutu dan Sinergi Sekolah

Dua Teori Penciptaan Alam

Ustaz Arfan menyampaikan, ada dua teori bagaimana Allah menciptakan alam semesta, yaitu dari ketiadaan dan dari diri-Nya sendiri.

Allah menciptakan alam semesta dari ketiadaan—menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada.

“Kalau dalam bahasa Latin-nya itu creatio ex nihilo. Tapi penciptaan Allah itu tetap mengikuti hukum kausalitas. Jadi hukum Allah itu mengikuti sebab akibat. Allah menciptakan alam semesta itu tidak kemudian abakadabra jadi begitu ya,” terangnya.

Dia memberi contoh tentang proses sebab akibat dengan diciptakan langit dan bumi dalam waktu enam masa seperti disebut dalam Surat Al-A’raf 54.

Hari-hari (ayyam) dalam ayat di atas dimaknai oleh ilmuwan dengan enam masa.

Kalau kita lihat teori Fisika modern masa pertama big bang, masa kedua, masa ketiga dan seterusnya sehingga tertentu jadi alam semesta ini.

Begitu juga kita tidak kemudian diciptakan tiba-tiba langsung dewasa. Ada proses bayi. Sebelum bayi ada proses hamil. Sebelum hamil ada proses pernikahan. Jadi ada prosesnya, mengikuti hukum kausalitas.

“Jadi menciptakan dari ketiadaan dan penciptaannya mengikuti hukum kausalitas,” tegasnya.

Jemaah salat Subuh peserta Raker Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik (Tagar.co/M. Fadloli Aziz)

Dari Diri Allah

Teori kedua mengatakan, Allah menciptakan alam semesta itu dari diri-Nya sendiri.

Menjelaskan teori itu dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya ini lalu mengutip hadis Qudsi yang sebagian ulama mendaifkan tapi menurut beberapa ulama secara maknawi sahih.

“Aku laksana perbendaharaan yang tersembunyi, lalu Aku ingin supaya diketahui, maka kujadikanlah makhluk, maka dengan adanya (ciptaan-Ku) itulah mereka mengetahui-Ku.”

Baca Juga:  Kajian Ahad Pagi PRM Sekapuk Kupas Lima Macam Rezeki

Arfan menerangkan karena alam semesta ini tidak ada apa-apa kecuali Allah, maka bahan menciptakan alam semesta dari mana, kalau bukan dari diri Allah sendiri.

Mboh dijupukno atau yo’opo pokoknya dari dirinya Allah,” katanya. Maksudnya entah diambil dari bagian yang mana.

Teori penciptaan dari diri sendiri ini sejalan dengan konsep innalillahi wainnailaihi rajiun. “Inna itu sesungguhnya kita itu lillahi milik Allah, wainnailaihirajiun, dan kita kepada Allah kembalinya. Jadi kita itu berasal dari Allah dan semuanya akan kembali kepada Allah,” terannya.

“Kemudian ada yang bertanya, bagaimana dengan jiwa jiwa kita? Memori kita? Ya sudah semuanya kemudian kembali kepada Allah,” katanya.

Maka, lanjutnya, dalam Ilmu Kalam itu ada pernyataan bahwa keberadaan alam semesta ini adalah manifestasi dari eksistensi Allah.

Kalau dalam bahasanya orang Jawa itu ada manunggaling kawulo Gusti. Atau dalam tradisi sufi dikenal sebagai Wahdatul Wujud seperti dipelopori Syekh Siti Jenar.

“Jadi dia mengatakan saya adalah Tuhan. Tuhan adalah saya. Maksudnya apa? Ya kita semua itu adalah bagian dari dirinya Tuhan. Maka kemudian ‘kan tidak boleh menebang pohon, membunuh hewan, karena itu sejatinya mencederai dan melukai Sang Khalik,” tegasnya.

Sejalan dengan teori ini maka ada ayat yang menjelaskan jika Allah itu lebih dekat daripada urat nadi (Qaf 6). Artinya Allah itu tidak berjarak dengan kita.

Baca Juga:  Dari Diantar hingga Tak Disangka, Ustaz Arfan Urai Konsep Rezeki di Cerme

“Nah kalau kemudian Allah ada di urat nadi kita maka secara tidak terjelaskan (eksplisit) bahwa Allah itu adalah bagian dari diri kita, kita adalah bagian dari dirinya Allah,” tambahnya.

Jalan-jalan di hutan pinus kompleks Agrowisata Pinus (Tagar.co/Istimewa)

Motivasi Tajahud

Di sesi akhir kultumnya, Ustaz Arfan mengingaktkan bahwa usia kita sudah tidak lagi muda. Maka bangun malam (salat Tajajud) itu menjadi sebuah kebutuhan.

“Khususnya bagi para ibu. Kalau pengin suaminya sukses, istrinya harus kuat kuatan duduk di atas sajadah, tapi duduk tidak sampai tidur. Kalau pengin anaknya sukses maka perlu mujahadah kalau dalam bahasa Jawa itu tirakat.

Dia menyampaikan, “Kita menjadi seperti sekarang itu adalah doa ibu kita. Maka kita akan menjadi orang tua sukses kalau kita bisa menyukseskan anak anak kita.”

Jadi, tuturnya, apalagi yang bisa dicari di dunia ini? Kita tinggal mendoakan anak-anak kita. “Sebaik apapun pendidikannya, kalau tidak didukung dan di-support doa orang tua, anak itu ketika meraih cita-citanya itu, jalannya berkelok. Tapi kalau di-support dengan doa orang tua, kayak lewat tol, jalannya itu lancar, menjadi mudah,” jelasnya.

Waktu kultum yang hanya tujuh menit tidak memungkinkan jemaah mengajukan pertanyaan. Tetapi usai itu, Ustaz Arfan dan jemaah berdialog mendiskusikan materi tersebut.

Setelah itu peserta raker dan keluarga berfoto-foto di rooftop vila sambil menunggu sunrise, dilanjutkan dengan jalan-jalan di hutan pinus. (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni