Opini

Satu Jam yang Menyelamatkan Generasi

83
×

Satu Jam yang Menyelamatkan Generasi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di tengah dunia digital yang semakin menyita perhatian, keluarga membutuhkan kembali ruang untuk hadir, mendengar, dan tumbuh bersama.

Oleh Prof. Triyo Supriyatno; Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tagar.co – Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, ada satu hal yang diam-diam sedang berubah dalam kehidupan manusia modern: hubungan antaranggota keluarga. Rumah yang dulu penuh percakapan perlahan berubah menjadi ruang sunyi yang dipenuhi cahaya layar. Ayah sibuk dengan telepon genggamnya, ibu tenggelam dalam media sosial, anak-anak larut dalam video tanpa akhir. Semua berada dalam satu rumah, tetapi tidak benar-benar hadir satu sama lain.

Di situlah gagasan “Satu Jamku” sebagai gerakan pencerahan bagi anak-anak dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menjadi sangat penting.

Baca juga: Berpikir Historis: Kompas Kritis di Tengah Banjir Informasi

Gerakan ini bukan sekadar ajakan mengurangi screen time, melainkan gerakan kemanusiaan untuk mengembalikan makna keluarga, pendidikan, budaya, dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari. Hanya satu jam, memang tidak banyak, tetapi justru dalam kesederhanaannya gerakan ini memiliki daya transformasi yang besar.

Hari ini manusia hidup dalam paradoks digital. Teknologi memang memudahkan hidup, mempercepat komunikasi, membuka akses ilmu pengetahuan, bahkan menghadirkan dunia ke dalam genggaman.

Namun, pada saat yang sama, teknologi juga menciptakan jarak emosional yang tak terlihat. Anak-anak lebih mengenal karakter virtual daripada tetangga sebelah rumah. Orang tua lebih cepat merespons notifikasi daripada pertanyaan anaknya. Keluarga kehilangan ruang dialog karena setiap anggota keluarga hidup dalam “dunianya” masing-masing.

Fenomena ini bukan hanya persoalan gaya hidup, melainkan persoalan peradaban. Ketika anak kehilangan pendampingan emosional, yang membentuk jiwanya bukan lagi keluarga, melainkan algoritma. Padahal algoritma tidak memiliki kasih sayang, nilai moral, maupun tanggung jawab sosial. Ia hanya bekerja berdasarkan perhatian dan keuntungan.

Baca Juga:  Ramadan: Jalan Pembebasan dari Tirani yang Halus

Karena itu, gerakan satu jam berkualitas bersama keluarga sesungguhnya merupakan bentuk perlawanan terhadap dehumanisasi digital. Satu jam itu dapat menjadi ruang untuk mendengar cerita anak, bermain bersama, membaca buku, membersihkan lingkungan, menanam pohon, salat berjemaah, berdiskusi tentang kehidupan, atau sekadar berjalan santai menikmati sore. Aktivitasnya mungkin sederhana, tetapi dampaknya luar biasa.

Banyak orang tua merasa tugas mendidik anak cukup diserahkan kepada sekolah. Padahal pendidikan paling kuat justru terjadi di rumah. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari keteladanan. Mereka mengamati bagaimana orang tua berbicara, menghargai orang lain, mengelola emosi, memperlakukan lingkungan, dan menggunakan teknologi. Pendidikan keluarga adalah fondasi dari seluruh proses pendidikan manusia.

Dalam perspektif psikologi modern, kelekatan emosional antara anak dan orang tua menjadi faktor penting dalam membangun kesehatan mental anak. Anak yang merasa didengar dan dicintai akan tumbuh lebih percaya diri, lebih stabil emosinya, dan lebih kuat menghadapi tekanan sosial.

Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam kesepian emosional meskipun secara materi tercukupi sering mencari pelarian di dunia maya. Di sinilah muncul berbagai masalah sosial: kecanduan gawai, krisis empati, perundungan siber, hingga gangguan kesehatan mental pada generasi muda.

Gerakan “Satu Jamku” sesungguhnya mengingatkan kita bahwa anak-anak tidak selalu membutuhkan hadiah mahal. Mereka membutuhkan kehadiran. Mereka membutuhkan perhatian yang utuh. Kadang satu jam bermain layang-layang bersama ayah lebih membekas daripada mainan mahal. Kadang satu jam membaca buku bersama ibu lebih menguatkan daripada ribuan tontonan digital.

Yang menarik dari gerakan ini adalah semangat green time-nya. Di tengah dunia yang semakin artifisial, manusia diajak kembali menyentuh alam. Anak-anak diajak keluar rumah, melihat pepohonan, bermain di tanah, membersihkan lingkungan, menanam tanaman, dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Hal ini penting karena manusia pada dasarnya adalah makhluk ekologis. Ketika hubungan manusia dengan alam rusak, relasi sosial pun ikut terganggu.

Baca Juga:  Pers Indonesia: Antara Idealitas Demokrasi dan Realitas Kekuasaan

Anak-anak yang terlalu lama hidup di ruang digital sering kehilangan sensitivitas terhadap lingkungan nyata. Mereka terbiasa dengan dunia instan, cepat, dan serbavisual. Padahal kehidupan sejati membutuhkan kesabaran, interaksi nyata, dan pengalaman langsung. Karena itu, memperbanyak green time bukan hanya soal kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan jiwa.

Selain itu, gerakan ini juga memiliki dimensi sosial yang mendalam. Dalam teks poster disebutkan pentingnya membangun solidaritas bersama tetangga. Ini adalah pesan yang sangat relevan di era individualisme modern. Banyak kompleks perumahan yang mewah, tetapi miskin interaksi sosial. Orang hidup berdampingan tanpa saling mengenal. Anak-anak tumbuh tanpa pengalaman kebersamaan sosial.

Padahal bangsa Indonesia sejak awal dibangun di atas nilai gotong royong. Kebudayaan Nusantara mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendiri. Ada rasa kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Ketika keluarga kembali aktif berinteraksi dengan lingkungan, masyarakat yang sehat perlahan akan tumbuh kembali.

Dalam perspektif spiritual, satu jam berkualitas bersama keluarga juga menjadi ruang untuk menanamkan nilai agama secara alami. Agama tidak cukup diajarkan melalui ceramah formal, tetapi perlu dihidupkan dalam praktik keseharian. Anak belajar tentang kasih sayang ketika melihat ayah dan ibu saling menghormati. Anak belajar tentang syukur ketika keluarga menikmati waktu sederhana bersama. Anak belajar tentang ibadah ketika keluarga salat berjamaah dan berdoa bersama.

Di tengah meningkatnya krisis moral pada generasi muda, pendidikan spiritual berbasis keluarga menjadi kebutuhan mendesak. Sebab keluarga adalah madrasah pertama manusia. Jika keluarga gagal menghadirkan nilai, ruang kosong itu akan diisi oleh budaya digital yang belum tentu sehat.

Baca Juga:  Antara Hidup Itu Belajar dan Belajar Itu Hidup

Tentu gerakan ini tidak mudah dijalankan. Banyak orang tua bekerja dari pagi hingga malam. Tekanan ekonomi membuat waktu bersama keluarga semakin terbatas. Namun, justru karena hidup semakin sibuk, satu jam itu menjadi semakin berharga. Kualitas kebersamaan jauh lebih penting daripada kuantitas tanpa makna.

Satu jam tanpa gawai mungkin terasa berat pada awalnya. Namun, di situlah kita mulai belajar menjadi manusia kembali: belajar hadir secara utuh, belajar mendengar, belajar tertawa bersama, dan belajar menikmati dunia nyata yang selama ini perlahan dilupakan.

Indonesia hari ini membutuhkan lebih banyak gerakan sederhana seperti ini. Sebab kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kualitas manusianya. Bangsa yang kuat lahir dari keluarga yang kuat. Keluarga yang kuat lahir dari hubungan yang sehat. Dan hubungan yang sehat dibangun melalui waktu, perhatian, dan cinta.

Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia dalam semalam. Namun, kita bisa memulainya dari rumah sendiri. Dari satu jam sederhana setiap hari. Satu jam tanpa distraksi digital. Satu jam untuk hadir sebagai orang tua, pasangan, anak, dan manusia.

Barangkali di situlah masa depan bangsa sedang diselamatkan. Bukan di ruang-ruang besar penuh slogan, melainkan di ruang keluarga yang hangat. Di halaman rumah tempat anak-anak bermain. Di meja makan yang kembali dipenuhi percakapan. Di masjid kecil tempat keluarga berdoa bersama. Di taman tempat orang tua dan anak menanam harapan.

Karena pada akhirnya, anak-anak tidak akan terlalu mengingat seberapa mahal hadiah yang kita berikan. Namun, mereka akan selalu mengingat apakah kita pernah benar-benar hadir dalam hidup mereka. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni