
Bagi sebagian orang, Lebaran adalah kebahagiaan. Namun bagi yang lain, ia adalah pengorbanan—seperti seorang pekerja yang harus memilih antara pulang atau bertahan demi kebutuhan hidup. Di sanalah makna sejati Idulfitri dipertanyakan.
Oleh Prof. Triyo Supriyatno; Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Tagar.co – Lebaran sejatinya bukan sekadar perayaan kemenangan spiritual setelah sebulan berpuasa, melainkan juga momentum pengujian sejauh mana nilai-nilai pengorbanan, empati, dan keadilan sosial benar-benar hidup dalam diri umat.
Di tengah realitas ekonomi yang kian menekan—harga kebutuhan pokok yang melambung, ongkos transportasi yang mencekik, serta ketidakpastian hidup—Idul Fitri tidak selalu hadir dalam suasana lapang. Ia bahkan kerap hadir sebagai “Lebaran pengorbanan”.
Baca juga: Lapang Intoleransi
Kisah sederhana tentang seorang asisten rumah tangga yang memohon izin mudik kepada majikannya menyentuh inti kemanusiaan kita. “Kebahagiaan saya cuma sekali setahun, yaitu mudik Lebaran. Apakah kebahagiaan satu-satunya itu pun harus saya korbankan?”
Pertanyaan ini bukan sekadar keluhan personal, tetapi representasi jeritan batin rakyat kecil yang selama ini hidup dalam keterbatasan. Di balik arus mudik yang tampak meriah, tersimpan pengorbanan besar yang sering luput dari perhatian.
Dalam perspektif psikologi modern, manusia memang digerakkan oleh pencarian kebahagiaan. William James menyebut bahwa seluruh tindakan manusia pada dasarnya bermuara pada upaya meraih kebahagiaan. Namun, kebahagiaan seperti apa yang kita kejar?
Sigmund Freud menekankan kenikmatan sebagai pusatnya, sementara Alfred Adler melihatnya sebagai dorongan untuk berkuasa. Akan tetapi, Viktor Frankl menawarkan perspektif yang lebih luhur: kebahagiaan sejati terletak pada kemampuan manusia menemukan makna hidup, bahkan di tengah penderitaan.
Di sinilah puasa Ramadan menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar latihan menahan lapar dan dahaga, melainkan proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) yang mengarahkan manusia untuk melampaui egoisme. Allah ﷻ berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah 183)
Takwa yang lahir dari puasa seharusnya melahirkan sensitivitas sosial. Orang yang bertakwa tidak mungkin menutup mata terhadap penderitaan sesama. Ia tidak akan merampas kebahagiaan orang lain demi mempertahankan kenyamanannya sendiri.
Fenomena mudik Lebaran menjadi cermin paradoks sosial kita. Di satu sisi, ia adalah ekspresi kerinduan akan akar, keluarga, dan identitas. Di sisi lain, ia menunjukkan betapa rakyat kecil harus berjuang ekstra untuk sekadar merasakan kebahagiaan yang sangat mendasar: berkumpul dengan orang yang dicintai. Mereka rela berdesakan, mengeluarkan biaya besar, bahkan mempertaruhkan keselamatan, demi satu kata: pulang.
Dalam sudut pandang sosiologis, mudik bukan hanya mobilitas fisik, tetapi juga redistribusi ekonomi. Uang yang dibawa para perantau mengalir ke desa-desa, menghidupkan ekonomi lokal. Ironisnya, mereka yang disebut “korban pembangunan” justru menjadi penopang denyut kehidupan bangsa. Seperti akar pohon yang tak terlihat, mereka mengalirkan kehidupan ke seluruh penjuru negeri.
Di sinilah kritik moral harus diarahkan kepada para elit. Jangan sampai kekuasaan hanya menjadi alat untuk memenuhi ambisi pribadi dan kelompok. Kekuasaan seharusnya menjadi sarana untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan. Jika tidak, maka yang terjadi adalah apa yang disebut sebagai “cinta kuasa” (the love of power), bukan “kuasa mencintai” (the power of love).
Islam telah memberikan pedoman yang sangat jelas tentang tanggung jawab kepemimpinan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah privilese, melainkan amanah. Seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa besar kekuasaan yang ia genggam, tetapi seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada rakyatnya.
Dalam konteks ini, spirit Idul Fitri harus dimaknai sebagai momentum transformasi sosial. Kembali kepada fitrah berarti kembali kepada nilai-nilai kemanusiaan yang murni: kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan solidaritas. Lebaran tidak boleh berhenti pada ritual saling memaafkan secara simbolik, tetapi harus berlanjut pada komitmen nyata untuk memperbaiki struktur sosial yang timpang.
Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam berkemajuan, memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengawal nilai-nilai ini. Tabligh tidak hanya berarti menyampaikan ajaran secara verbal, tetapi juga menghadirkan Islam sebagai solusi nyata bagi problem kemanusiaan. Dakwah harus menyentuh dimensi struktural, tidak hanya kultural.
Lebaran pengorbanan mengajarkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari akumulasi materi atau dominasi kekuasaan, melainkan dari kemampuan berbagi, berempati, dan berkorban untuk orang lain. Dalam pengorbanan itulah manusia menemukan makna hidupnya yang paling dalam.
Sebagaimana diisyaratkan dalam sebuah lagu karya Ismail Marzuki, “Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin.” Lirik ini bukan sekadar ungkapan puitis, tetapi doa sekaligus kritik. Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan rakyat adalah ukuran keberhasilan sejati dari sebuah kepemimpinan.
Akhirnya, mari kita jadikan Idul Fitri bukan hanya sebagai perayaan, tetapi juga sebagai titik balik: dari cinta kuasa menuju kuasa mencintai, dari egoisme menuju solidaritas, dan dari kemapanan semu menuju kebermaknaan sejati.
Taqabbalallahu minna waminkum.
Selamat Idul Fitri 1447
Penyunting Mohammad Nurfatoni









