Sejarah

Zakat Fitrah: Menyucikan Puasa, Membahagiakan Sesama

343
×

Zakat Fitrah: Menyucikan Puasa, Membahagiakan Sesama

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Di penghujung Ramadan, zakat fitrah menjadi ibadah yang membersihkan kekurangan puasa sekaligus menghadirkan kegembiraan bagi kaum fakir.

Serial Ramadan (27); Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid); Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani

Tagar.co – Setelah sebulan penuh menjalani puasa Ramadan, Islam menutup perjalanan spiritual ini dengan satu ibadah yang sangat indah: zakat fitrah.

Di masyarakat sering disebut zakat fitrah. Namun, dalam lafaz hadis Rasulullah ﷺ istilah yang digunakan adalah زَكَاةُ الْفِطْرِ (zakatul fitr), yaitu zakat yang ditunaikan ketika seorang muslim berbuka dari puasa Ramadan.

Baca juga: Zakat: Ketika Kesalehan Spiritual Menjadi Keadilan Sosial

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” (Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Hadis ini menjelaskan dua fungsi besar dari zakat fitrah.

Penyempurna Ibadah Puasa

Selama Ramadan manusia berusaha menjaga puasanya sebaik mungkin.

Baca Juga:  Dari Petunjuk ke Pembeda: Jalan Qur’ani Membentuk Sikap

Namun, tidak ada manusia yang sempurna. Bisa saja selama berpuasa seseorang masih melakukan kesalahan kecil, seperti perkataan yang kurang baik, kelalaian menjaga lisan, atau sikap yang tidak terjaga.

Zakat fitrah hadir sebagai penyempurna ibadah puasa.

Menurut penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani, zakat fitrah berfungsi menutup kekurangan yang mungkin terjadi dalam ibadah puasa seorang muslim.

Makanan bagi Kaum Fakir

Zakat fitrah juga memiliki dimensi sosial yang sangat jelas.

Dalam hadis disebutkan:

طُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Sebagai makanan bagi orang-orang miskin.”

Artinya, Islam ingin memastikan bahwa pada hari raya tidak ada orang yang kelaparan.

Menurut penjelasan An-Nawawi, zakat fitrah bertujuan agar kaum fakir dapat ikut merasakan kegembiraan Idulfitri tanpa harus meminta-minta.

Mengapa Disebut Zakat Fitrah?

Istilah zakat fitrah berasal dari kata al-fitr, yaitu berbuka dari puasa Ramadan.

Zakat ini ditunaikan sebagai tanda berakhirnya ibadah puasa sekaligus sebagai bentuk syukur kepada Allah.

Sebagian ulama juga mengaitkannya dengan makna fitrah, yaitu kesucian.

Seolah-olah setelah sebulan berpuasa dan menunaikan zakat fitrah, seorang muslim kembali kepada keadaan yang bersih. Inilah makna Idulfitri: kembali kepada fitrah.

Baca Juga:  Iktikaf: Mengasingkan Diri untuk Menemukan Jati Diri

Puasa dan Solidaritas Sosial

Ramadan tidak hanya melatih manusia menahan diri, tetapi juga melatih manusia untuk berbagi.

Puasa membangun empati terhadap orang yang kekurangan. Zakat fitrah menerjemahkan empati itu menjadi tindakan nyata.

Dalam perspektif Islam, kesalehan tidak berhenti pada ibadah pribadi, tetapi harus melahirkan kepedulian sosial.

Momentum Hari Ke-27

Hari ke-27 Ramadan sering diharapkan sebagai salah satu malam Lailatulqadar.

Di saat yang sama, umat Islam mulai menunaikan zakat fitrah.

Hal ini menunjukkan keseimbangan yang indah dalam Islam: mencari kedekatan dengan Allah sekaligus membahagiakan sesama manusia.

Refleksi

Ramadan mendidik manusia melalui dua dimensi: memperbaiki hubungan dengan Allah melalui puasa, serta memperbaiki hubungan dengan manusia melalui zakat fitrah.

Karena kebahagiaan Idulfitri bukan hanya tentang pakaian baru atau hidangan lezat.

Kebahagiaan sejati adalah ketika seluruh masyarakat, termasuk kaum fakir, dapat merasakan kegembiraan pada hari raya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni