Feature

Karnaval Merdeka: Siswa MI Mutwo Banggakan Budaya Madura

43
×

Karnaval Merdeka: Siswa MI Mutwo Banggakan Budaya Madura

Sebarkan artikel ini
Kelas 4 bersama wali kelasnya, Moh Ayub (kiri) dan Nur Lailatul Hikmah (kanan) guru bahasa arab (Tagar.co/Nurkhan)

Kostum Sakera yang dikenakan siswa MI Mutwo mencuri perhatian ribuan penonton Karnaval HUT Ke-80 RI di Campurejo. Penampilan gagah dan anggun mereka bukan sekadar hiburan, tapi pesan tentang keberanian dan pelestarian budaya bangsa.

Tagar.co – Derap langkah barisan anak-anak MI Muhammadiyah 2 Campurejo dengan kostum Sakera sontak mencuri perhatian ribuan pasang mata. Di balik keceriaan karnaval HUT RI ke-80, semangat budaya Madura pun berkibar di Panceng, Gresik, Jawa Timur.

Karnaval yang digelar pada Selasa (26/8/2025) itu menampilkan beragam kreativitas warga, mulai dusun hingga RT/RW. Jalan desa yang biasanya lengang berubah menjadi panggung budaya penuh warna.

Semangat Sakera di Jalanan Desa

Ikat kepala merah menyala, kaos loreng merah putih dibalut baju hitam, serta celana longgar membuat anak-anak itu seakan menjelma sosok Sakera—tokoh Madura yang dikenal berani dan pantang menyerah. Para siswa bahkan melengkapi diri dengan properti, menghadirkan suasana parade budaya yang otentik.

Baca juga: Murid MI Mutwo Bawa Nuansa Keraton Yogyakarta ke Karnaval Campurejo

Baca Juga:  Belajar dari Tetesan Air: Pesan Ketekunan di Pondok Ramadan MI Mutwo

Tidak kalah memikat, siswi kelas 4 MI Mutwo menampilkan versi perempuan dari Sakera. Mereka mengenakan kebaya sederhana berpadu sarung batik Madura berwarna terang. Properti berupa kipas kecil semakin memperkaya penampilan, menggambarkan ketangguhan sekaligus kelembutan perempuan Madura.

Tepuk Tangan Penonton

Sepanjang rute karnaval, tepuk tangan warga tak henti mengiringi langkah mereka. Ponsel-ponsel pun terangkat, mengabadikan momen istimewa itu. Anak-anak berjalan rapi sambil melambaikan tangan, menghadirkan keceriaan dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat.

“Luar biasa, anak-anak ini benar-benar membuat kita semua kagum. Kostum Madura ini sangat ikonik, penuh semangat, dan membuat karnaval lebih berkesan,” ujar seorang warga dari pinggir jalan.

Kebanggaan Madrasah

Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo, Nurkhan, yang mendampingi siswa, menuturkan rasa syukur atas penampilan mereka.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar di kelas, tapi juga mengenal kekayaan budaya bangsa. Kostum Sakera dipilih karena sarat makna perjuangan, keberanian, dan kegigihan. Semangat itu yang kami harapkan bisa tertanam dalam diri mereka,” ungkapnya.

Baca juga: Siswa MI Mutwo Tampil Imut dengan Kostum Dayak di Karnaval Desa Campurejo

Baca Juga:  Fokal Mutwo: Energi Baru Alumni MI Mutwo

Moh. Ayub, wali kelas 4, menambahkan bahwa persiapan siswa penuh antusiasme.
“Mereka senang sekali bisa tampil dengan kostum ini. Walaupun harus latihan baris-berbaris dan menyesuaikan pakaian, mereka tidak mengeluh. Justru semakin semangat karena merasa tampil beda,” katanya sambil tersenyum.

Hal senada disampaikan Nur Lailatul Hikmah, guru sekaligus wali murid. Menurutnya, karnaval semacam ini menjadi ruang belajar yang sangat berharga.

“Selain melatih disiplin dan kebersamaan, karnaval juga memberi pengalaman berharga untuk tampil di depan masyarakat. Anak-anak belajar percaya diri, dan itu penting untuk tumbuh kembang mereka,” ujarnya.

Pesan dari Desa

Bagi warga Campurejo, kehadiran anak-anak MI Mutwo dengan kostum Sakera bukan sekadar hiburan, tetapi juga bukti nyata bahwa madrasah di pelosok mampu memberi kontribusi besar dalam melestarikan budaya.

Dengan langkah kecil yang dibalut semangat Sakera, siswa kelas 4 seakan ingin menyampaikan pesan: dari desa sederhana pun bisa lahir keberanian, kepercayaan diri, dan tekad menjaga warisan bangsa.

Mereka adalah generasi penerus yang mewarisi api perjuangan—seperti Sakera yang tak gentar menghadapi rintangan, anak-anak MI Mutwo pun siap menatap masa depan dengan hati merdeka.

Baca Juga:  Blueprint Pendidikan Muhammadiyah Digaungkan, Kolaborasi dan Integritas Jadi Kunci

Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni