
Barisan siswa kelas 1 MI Mutwo mencuri perhatian saat karnaval Desa Campurejo. Dengan kostum adat Dayak, mereka tampil menggemaskan sekaligus menebar semangat kebinekaan sejak usia dini.
Tagar.co – Suasana Desa Campurejo, Kecamatan panceng, Kabupaen Gresik, Jawa Timur, pada peringatan hari kemerdekaan terasa semakin meriah, Selasa (26/8/2025). Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah barisan siswa kelas 1 MI Muhammadiyah 2 Campurejo (MI Mutwo).
Dengan wajah polos khas anak-anak, mereka tampil lucu sekaligus mempesona mengenakan kostum adat Dayak.
Baca juga: Lapangan Indoor di Atap Madrasah, Inspirasi dari MI Mutwo
Sejak langkah pertama di jalan desa, riuh sorak kagum warga langsung terdengar. Banyak yang berhenti sejenak untuk mengabadikan momen dengan kamera ponsel. Anak-anak kecil itu melangkah penuh semangat meski harus menempuh rute panjang karnaval.
Kostum Dayak yang Semarak
Kostum yang mereka kenakan membuat suasana semakin hidup. Para siswa putra mengenakan ikat kepala berhias bulu ayam menjulang, wajah mereka dilukis dengan motif putih dan merah, mempertegas karakter khas suku Dayak.
Tubuh mungil mereka dibalut rompi berbulu cokelat dengan hiasan manik-manik warna-warni, dipadu rok rumbai dari serat alami. Beberapa bahkan membawa perisai kecil dari kardus yang dihias menyerupai ukiran tradisional.
Para siswi tidak kalah memikat. Mereka memakai busana rok Dayak bernuansa cokelat tua dan hitam, dihiasi manik kuning, merah, dan hijau. Ikat kepala dengan bulu putih kecil menghiasi rambut, membuat penampilan mereka semakin anggun namun tetap menggemaskan.
Di tengah barisan, wali kelas 1 Ni’matus Sholichah tampak bersemangat mendampingi murid-muridnya dengan kostum serupa. Senyumnya kerap terlihat saat anak-anak melambaikan tangan ke penonton.
“Walaupun masih kelas 1, mereka bisa tampil percaya diri di depan masyarakat. Saya bangga sekali melihat keceriaan mereka,” ujarnya.
Dukungan Orang Tua
Kebersamaan itu makin lengkap dengan kehadiran Evi Syafi’ah, wali murid sekaligus guru, yang juga mengenakan kostum Dayak. Ia ikut berjalan bersama barisan, mendampingi putra-putri kecilnya yang tampil percaya diri di hadapan warga desa.
“Kami sebagai orang tua tentu sangat senang. Anak-anak jadi punya pengalaman berharga sekaligus belajar mencintai budaya bangsa,” tuturnya.
Bagi warga desa, penampilan siswa MI Mutwo menjadi salah satu sorotan karnaval tahun ini. Tingkah polos mereka—ada yang sesekali berjoget mengikuti tabuhan drum band, ada pula yang melambaikan tangan penuh semangat—membuat banyak orang gemas sekaligus kagum.
Dengan barisan rapi, kostum etnik yang menawan, dan wajah mungil penuh senyum, anak-anak MI Mutwo tidak sekadar meramaikan karnaval. Mereka sedang belajar mengekspresikan diri, mengenal budaya nusantara, dan menanamkan cinta tanah air sejak dini. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












