Feature

Isak Tangis Berujung Riang, Kisah Quranic Camp SD Musix

40
×

Isak Tangis Berujung Riang, Kisah Quranic Camp SD Musix

Sebarkan artikel ini
Siswa kelas 6 SD. Musix Surabaya dalam kegiatan Quranic Camp (Tagar.co/Basirun)

Tangis haru mewarnai Quranic Camp SD Musix Surabaya. Namun, semua berakhir riang dengan tawa dan lagu Laskar Pelangi, meneguhkan ikatan hati antara siswa, orang tua, dan guru.

Tagar.Co — Tangis haru mewarnai kegiatan Quranic Camp SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya, Sabtu (26/4/2025). Namun, suasana itu perlahan mencair menjadi tawa riang ketika para siswa kelas 6 bersama orang tua mereka menyanyikan lagu Laskar Pelangi dengan penuh semangat.

Quranic Camp ini merupakan program pembinaan dan pemantapan bagi siswa kelas 6 yang sebentar lagi akan menyelesaikan masa belajarnya di tingkat dasar.

Baca juga: Langkah Global SD Musix Surabaya: Kirim Guru dan Siswa ke Malaysia

“Tujuan utama kegiatan ini adalah mempersiapkan diri dan menumbuhkan rasa percaya diri para siswa,” ujar Basirun, S.Pd., Kepala Urusan Ismuba SD Musix.

Program ini dilaksanakan dalam dua tahap, yakni pada Februari dan April 2025. Untuk tahap kedua, sekolah menghadirkan Motivator Nasional Afif Hidayatullah, S.E., S.Pd., M.Ak., C.Ht., CNNLP., C.STMI, guna membangun mental siswa dan orang tua secara sinergis.

Kegiatan yang bertema Membangun Mental Sinergi Anak dan Orang Tua Menuju Sukses Bersama ini tidak hanya diikuti siswa, tetapi juga melibatkan orang tua/wali murid. Para guru seperti Nurun Naharo, S.Ag., M.Pd., Khusnul Khotimah, S.Pd., Farid Hakim, S.Pd., dan Darmaji, S.Pd., turut mendampingi dalam momen penuh makna ini.

Air Mata Mengalir saat Sesi Refleksi

Dalam sesi motivasi, Afif menggugah perasaan siswa dengan pertanyaan sederhana, “Adakah yang pernah dibanding-bandingkan dengan saudara oleh orang tuanya?”

“Pernah!” jawab anak-anak serempak dengan suara lantang, menggetarkan suasana.

Afif kemudian menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi masing-masing. Ia mengajak anak-anak untuk tidak berpikir negatif terhadap orang tua mereka.

“Orang tua tidak bermaksud buruk. Semua itu hanya perasaan kalian saja,” ujarnya menenangkan.

Untuk memperjelas pesan tersebut, Afif melakukan simulasi sederhana. Ia meminta Ahmad Fachri Hisyam, siswa kelas 6-A, menuangkan betadin ke dalam air bening, mengilustrasikan rumah tanpa “kehidupan” yang menjadi keruh dan gelap.

Kemudian, Muhammad Ibrahim dari kelas 6-C menambahkan dua butir vitacimin, yang diibaratkan sebagai energi positif yang mampu memulihkan keharmonisan keluarga.

“Vitamin adalah kehidupan dalam keluarga. Hadirkan kehidupan itu di rumah kita,” pesan Afif.

Momen Haru dan Doa Bersama

Sesi paling mengharukan terjadi saat siswa diminta menemui orang tua mereka untuk meminta doa dan memohon maaf atas segala kesalahan. Tangisan pun pecah, memperlihatkan keikhlasan hati anak-anak dan orang tua.

Bagi siswa yang orang tuanya berhalangan hadir, para guru menjadi tempat bernaung. Anak-anak berlari memeluk guru kelas mereka, mencari pelukan hangat yang menenangkan.

Salah satu momen menyentuh terjadi ketika seorang siswa hanya menunduk, tak berani mencari orang tua maupun guru. “Orang tuaku tidak bisa datang karena bekerja,” lirihnya. Afif segera menghampiri dan mengelus punggungnya dengan penuh empati.

Menutup Haru dengan Tawa

Untuk mengembalikan semangat, semua peserta — siswa, orang tua, dan guru — bergandengan tangan dan bersama-sama menyanyikan lagu Laskar Pelangi. Tawa ceria akhirnya mengalir, meskipun sisa-sisa haru masih terasa. Beberapa bahkan berjoget kecil dengan riang.

“Kegiatan ini sungguh luar biasa. Menyentuh hati anak-anak hingga mereka menyadari kekurangan dan bangkit untuk menjadi lebih baik,” ujar Laila Nurul Rahma, wali murid dari Arash Ghaisan Arsakara (6B), Lakeswara Kalandra Gumilar (5-ICP), dan Manggala Gibran Artidinata (2B).

Ia berharap sesi ini menjadi titik balik bagi para siswa untuk tumbuh menjadi putra-putri saleh dan salehah yang membanggakan keluarga. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni