Feature

Refleksi di Gate 4: SD Musix Pulang dengan Misi Perubahan

17
×

Refleksi di Gate 4: SD Musix Pulang dengan Misi Perubahan

Sebarkan artikel ini
Briefing peserta studi banding SD Musix di Bandara Kuala Lumpur Malaysia (Tagar.co/Istimewa)

Di sela menanti penerbangan pulang dari Kuala Lumpur, guru dan karyawan SD Musix Surabaya merajut refleksi dan semangat baru untuk membawa perubahan nyata di sekolah mereka.

Tagar.co – Deru suara pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Sabtu siang (19/4/2025). Di sudut dekat Gate 4, rombongan guru dan karyawan SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya (SD Musix) tampak berkumpul membentuk lingkaran kecil. Bukan sekadar menanti penerbangan, tapi memetik pelajaran terakhir sebelum kembali ke tanah air.

Kepala Sekolah SD Musix, Munahar, S.H.I., M.Pd., memanfaatkan momen ini untuk menggelar briefing penutup. “Ini bukan akhir, melainkan awal dari perubahan,” ujarnya membuka pertemuan reflektif yang penuh semangat itu.

Turut hadir Dr. Arfan Fahmi, S.Ag., M.Pd., Ketua Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo, yang menyampaikan sejumlah catatan penting hasil pengamatan selama studi banding, terutama saat kunjungan ke Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

Baca juga: Langkah Global SD Musix Surabaya: Kirim Guru dan Siswa ke Malaysia

“Yang bisa kita contoh dan tingkatkan dari USIM bukan hanya kebersihan lingkungannya, tetapi juga disiplin dan loyalitas terhadap aturan,” tegasnya. Ia mengajak para guru membawa pulang semangat kebersihan, ketepatan waktu, serta kepatuhan terhadap kebijakan sekolah sebagai bentuk profesionalisme.

Sementara itu, Ir. Lukman Rahim, Ketua PCM Wonokromo, menekankan pentingnya tindak lanjut kerja sama yang telah diteken. “Ini membawa nama baik bangsa. Maka rencanakan dengan matang program-program lanjutan, termasuk keberangkatan siswa,” pesannya. Ia juga mengapresiasi visi Quranic USIM yang sejalan dengan karakter SD Musix.

“Sekolah kita sudah menanam lewat Al-Qur’an. Kita ini teladan nasional,” sambung H. Dikky Syadqomullah, M.HES., Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Surabaya. Namun, ia mengingatkan bahwa sehebat apapun sistem dan fasilitas, tetap kualitas guru adalah penentu utama.

“Sarana penting, sistem penting. Tapi guru lebih penting dari keduanya,” ungkapnya.

Tak ketinggalan, Luluk Humaidah, S.Ag., Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PCM Wonokromo, mengajak seluruh guru dan karyawan untuk menjaga loyalitas kepada perserikatan. “Ikuti kegiatan Muhammadiyah di manapun kita berada. Jangan menjauh dari rumah besar kita,” katanya lugas.

Sebelum rombongan berpindah ke ruang tunggu, Munahar mempersilakan peserta menyampaikan testimoni. Badriyah, S.Pd., guru senior kelas 2-B yang menjelang masa pensiun, tak bisa menyembunyikan rasa harunya.

“Ini kesempatan emas. Usia saya tak muda lagi, tapi justru sekarang saya merasa banyak kekurangan yang perlu diperbaiki,” ujarnya sembari menitikkan air mata. Ia berharap ilmu yang dibawa dari Malaysia menjadi oleh-oleh berharga yang benar-benar diterapkan.

Sedangkan M. Askan, S.Pd., guru kelas 5-B, menyoroti infrastruktur Malaysia yang membuatnya takjub. “Jalan tol di sana bisa empat lantai! Indonesia belum punya. Semoga kita menyusul, tidak hanya dalam pembangunan fisik, tapi juga mutu pendidikan,” ucapnya penuh harap.

Tepat pukul 13.15 waktu Kuala Lumpur, panggilan untuk penerbangan ke Surabaya berkumandang. Rombongan SD Musix pun melangkah mantap, meninggalkan Negeri Jiran dengan ransel ilmu dan segudang semangat baru. Di atas langit perjalanan pulang, pramugari menyajikan makan siang—penutup manis dari perjalanan penuh makna. (#)

Jurnalis Basirun Penyunting Mohammad Nurfatoni