
Meski terpisah oleh jarak dan kesibukan, Sahabat Ambyar membuktikan bahwa persahabatan sejati tak lekang oleh waktu, lewat momen halalbihalal yang hangat, akrab, dan penuh makna.
Tagar.co, Gresik – Persahabatan tak selalu harus dipupuk di tempat yang sama. Meski terpencar di berbagai sekolah bahkan profesi berbeda, ikatan batin para “Sahabat Ambyar” yang pernah bertugas bersama di TK Aisyiyah 41 dan SD Muhammadiyah 1 Menganti, tetap terjaga.
Sabtu siang, 19 April 2025, mereka kembali dipertemukan dalam momen halalbihalal yang penuh kehangatan di Rumah Makan Lesehan Berkah Illahi, Desa Hendrosari, Menganti, Gresik.
Sudah lebih dari satu dekade kebersamaan mereka terjalin, kini, masing-masing telah berpindah ke tempat tugas baru. Jessica Dwi Rahmayanti di SDI Az-Zahro Kepatihan, Dwi Sarayustisiya di SD Almadany, Amin Syafi’i di MA Bustanul Arifin Domas, Suhartini di SD Al-Azhar Surabaya, Laili Uswatin di TK Al-Ummah GKB Gresik, dan Siti Nur Khasanah yang memilih menjadi ibu rumah tangga.
Sementara itu, Nadhirotul Mawaddah dan Nofia Firdawati masih bertahan di TK Aisyiyah 41 Menganti, begitu pula Tutik Setiyaningsih dan Dwi Sriwahyuni yang tetap mengabdi di SD Muhammadiyah 1 Menganti.
Baca juga: Tradisi Riyayan di Kampung Halaman: Menyulam Silaturahmi, Merawat Kenangan
Awalnya, reuni ini direncanakan di kediaman Siswono, rekan mereka yang telah purna tugas dan kini menetap di Lembah Harapan, Surabaya. Namun karena sang tuan rumah berhalangan hadir karena urusan keluarga, lokasi pun dipindahkan ke Warung Lesehan Berkah Illahi yang sejuk dan nyaman.
Sejak pukul 11.00 WIB, satu per satu mulai berdatangan. Suasana segera dipenuhi gelak tawa dan cerita nostalgia. Laili Uswatin menjadi peserta terakhir yang datang, menyusul usai menyelesaikan tugasnya di tempat mengajar.
“Alhamdulillah, semua bisa hadir. Semoga kita senantiasa sehat dan bahagia. Sukses selalu di mana pun kita berada, insyaallah bisa naik haji bersama-sama,” harap Amin Syafi’i yang datang bersama sang istri, Titin.

Tak lengkap rasanya pertemuan tanpa jamuan. Meja makan dipenuhi hidangan menggoda: gurami bakar, gurami asam manis, ayam bakar kecap dan bumbu rujak, belut goreng, serta aneka sayur. Doa bersama dipimpin oleh Amin Syafi’i sebelum menyantap makanan yang sebelumnya telah dipesan oleh Dwi Sriwahyuni dan Tutik Setiyaningsih.
Di tengah kelezatan hidangan, kehangatan persahabatan lebih terasa. Tak ada batas usia, tak ada tuntutan kesempurnaan. Yang ada hanya ketulusan, kebersamaan, dan harapan agar persaudaraan ini terus terjaga.
“Sahabat adalah tempat kita pulang, tak peduli seberapa jauh jalan yang memisahkan,” ujar salah satu dari mereka sembari tersenyum.
Momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa silaturahmi adalah jembatan yang tak pernah usang. Dan di antara mereka, jembatan itu akan selalu ada. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni











