
Kecemasan menghadapi kematian kini dikenal sebagai thanatophobia. Lima belas abad lalu, Nabi Saw sudah memberi terapi spiritual yang menenangkan hati dan menguatkan iman.
Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah(PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.
Tagar.co – Tahukah kita apa yang dimaksud dengan thanatophobia?
Thanatophobia adalah ketakutan yang ekstrem terhadap kematian. Kondisi ini dapat menyebabkan kecemasan berlebih yang mengganggu kehidupan sehari-hari penderitanya, baik karena takut akan kematian diri sendiri maupun kematian orang yang disayanginya.
Baca juga: Makna Tersembunyi di Balik Istirja: Saat Duka Menjadi Doa
Lima belas abad yang lalu, Nabi Saw telah mengingatkan kita semua tentang bahaya thanatophobia ini sebagaimana sabdanya:
يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ »
“Hampir saja umat-umat (yang kafir dan sesat) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadap makanan dalam piring.”
Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?”
Rasulullah menjawab, “Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian seperti buih yang dibawa oleh air bah. Allah akan mencabut rasa takut dari hati musuh-musuh kalian dan menimpakan dalam hati kalian wahn.”
Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?”
Rasulullah menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”
(Abu Dawud dan Ahmad, sahih)
Maksud hadis di atas adalah: jika seseorang tertipu dan terlalu mencintai dunia, ia akan dihinggapi perasaan khawatir yang ekstrem terhadap kematian.
Dalam Islam, ketakutan akan kematian sering kali muncul karena ketidakrelaan berpisah dengan dunia atau kekhawatiran amal yang belum cukup—kurangnya persiapan bekal akhirat atau keterikatan pada hal-hal duniawi.
Muslim didorong untuk mempersiapkan diri dengan amal saleh agar dapat menghadap Allah dengan akhir kehidupan yang baik (husnul khatimah).
Kematian Bukanlah Akhir Segalanya
Secara medis, kematian ditandai dengan berhentinya detak jantung, pernapasan, dan aktivitas otak secara total serta tidak dapat dikembalikan.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-A‘raf ayat 34:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.”
Maksud ayat di atas adalah bahwa apabila telah datang ajal yang ditetapkan bagi tiap umat, maka kematian itu pasti terjadi tepat pada waktunya.
Menguatkan Hati dengan Zikir saat Sakaratulmaut
Bagi orang yang hidup maupun yang sedang menghadapi sakaratulmaut, diperlukan “suplemen hati” agar tenang dan kuat saat ajal tiba.
Suplemen hati ini berupa memperbanyak amal saleh, berzikir pagi dan petang, serta melunasi utang yang belum terselesaikan semasa hidup, baik berupa uang maupun barang terhadap sesama.
Salah satu penyebab kecemasan menghadapi kematian adalah utang yang belum lunas. Nabi Saw bersabda:
لا تُخِيفوا أنفُسَكم بعْدَ أَمْنِها. قالوا: وما ذاكَ يا رسولَ اللهِ؟ قال: الدَّيْنُ
“Janganlah kalian meneror diri kalian sendiri padahal sebelumnya kalian dalam keadaan aman.”
Para sahabat bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?”
Rasulullah menjawab, “Itulah utang.”
(Ahmad; disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah)
Hadis ini menjelaskan bahwa seseorang yang menghadapi sakaratulmaut dapat mengalami teror psikis akibat amal buruknya, termasuk utang yang belum terselesaikan.
Keadaan inilah yang bisa menimbulkan thanatophobia—rasa cemas berlebih saat membayangkan atau menghadapi kematian.
Oleh karena itu, memperbanyak zikir dan mengingat Allah tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga menguatkan hati serta menghadirkan ketenangan. Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra‘d ayat 28:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Maksudnya, kegundahan dan kegelisahan hati akan lenyap, berganti dengan kebahagiaan dan ketenteraman batin. Wallāhualambisawāb. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












