Feature

Di Antara Riuh Teras Malioboro, Murid Muhi Sukses Menyulam Seni

58
×

Di Antara Riuh Teras Malioboro, Murid Muhi Sukses Menyulam Seni

Sebarkan artikel ini
Mancawarni 2026 menghadirkan ekspresi seni pelajar SMA Muhi di Malioboro. Agenda ini memadukan budaya, inovasi, dan kepemimpinan dalam panggung terbuka yang menyatu dengan masyarakat luas.
Penampilan siswa SMA Muhi di Mancawarni 2026. (Tagar.co/Yusron Ardi Darmawan)

Mancawarni 2026 menghadirkan ekspresi seni pelajar SMA Muhi di Malioboro. Agenda ini memadukan budaya, inovasi, dan kepemimpinan dalam panggung terbuka yang menyatu dengan masyarakat luas.

Tagar.co – Sore itu, Malioboro tak sekadar ramai—ia hidup. Di Teras Malioboro Beskalan, Sabtu (25/4), panggung sederhana berubah menjadi ruang perjumpaan: antara tradisi dan modernitas, antara murid dan masa depan mereka sendiri.

Sejak pukul 15.00 WIB, langkah-langkah kaki mulai memenuhi Teras Malioboro Beskalan. Tak hanya pelajar, tetapi juga wisatawan dan masyarakat umum yang berhenti, penasaran dengan suasana yang perlahan menghangat.

Mancawarni 2026—Muhi Apresiasi Cipta Inovasi dari Budaya dan Seni—dibuka dengan sesi Purva Karya. Musik akustik mengalun santai. Dentum band modern menyusul, memancing tepuk tangan. Penampilan lintas sekolah memberi warna kolaboratif, sementara hadrah dan tari menghadirkan napas tradisi yang tetap terasa dekat.

Di titik ini, Mancawarni tidak sekadar acara SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (SMA Muhi). Ia menjelma ruang publik—tempat seni pelajar berbicara langsung kepada masyarakat.

Mancawarni 2026 menghadirkan ekspresi seni pelajar SMA Muhi di Malioboro. Agenda ini memadukan budaya, inovasi, dan kepemimpinan dalam panggung terbuka yang menyatu dengan masyarakat luas.
Penampilan siswa SMA Muhi di Mancawarni 2026. (Tagar.co/Yusron Ardi Darmawan)

Dari Nilai ke Panggung Nyata

Memasuki sesi resmi, suasana berubah lebih khidmat. Lantunan ayat suci Al-Qur’an membuka acara. Kemudian Indonesia Raya dan Sang Surya turut menggema, menegaskan identitas yang mereka bawa: Islam, kebangsaan, dan pendidikan.

Baca Juga:  Raih 29 Medali, SMA Muhi Terbaik Nasional di Olympicad

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF DIY, Ahmad Muhamad, M.Ag., menilai apa yang murid Muhi tampilkan bukan sekadar pertunjukan. Ia menegaskan, sekolah unggul tidak harus tercerabut dari nilai budaya dan agama.

“Integrasi antara nilai spiritual, budaya, dan inovasi menjadi kunci lahirnya generasi yang kuat secara karakter dan siap menghadapi tantangan masa depan,” imbuhnya.

Kepala SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Drs. H. Hery Nugroho, M.Pd., menguatkan pesan tersebut. Baginya, pendidikan bukan hanya soal capaian akademik, tetapi proses utuh mengembangkan potensi murid. Di panggung inilah proses itu terlihat—bukan hasil instan, melainkan perjalanan panjang yang akhirnya menemukan bentuknya.

“Pendidikan yang utuh adalah mengembangkan semua potensi murid. Panggung ini menunjukkan karya hasil berproses. Berbanggalah terhadap karya. Jangan takut berekspresi agar tumbuh percaya diri membangun masa depan,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan, SMA Muhi Yogyakarta memberikan ruang luas bagi murid untuk berkembang sesuai bakatnya, baik akademik maupun non akademik. Sekolah ini, lanjutnya, tidak hanya menyiapkan murid untuk berprestasi, tetapi juga membentuk karakter pemimpin yang tangguh, komunikatif, kreatif, dan siap berkontribusi di masyarakat.

Baca Juga:  113 Santri Muhi Jadi Mubalig Hijrah di Sleman dan Tegalrejo

Baca Juga: Mancawarni 2026 Bakal Hebohkan Malioboro

Ledakan Kreativitas di Jantung Kota

Saat memasuki sesi inti, atmosfer berubah total. Panggung Malioboro menjelma hidup. Dalang membuka ruang dengan nuansa Jawa yang kental.

Kemudian, karawitan yang mengalun dalam harmoni tradisi. Tapak Suci menghadirkan energi disiplin dan ketangguhan. Sementara tari bernarasi menyampaikan cerita lewat gerak yang penuh makna.

Moehi Harmony membawa penonton larut dalam harmoni vokal, sebelum panggung mencapai klimaksnya melalui kolaborasi Teater Manoenggal dan Rockestra—perpaduan drama, musik, dan visual yang memukau.

Di tengah gemuruh itu, satu hal terasa jelas: ini bukan sekadar pertunjukan. Ini adalah pernyataan. Malam pun berakhir dengan awarding—apresiasi bagi setiap proses, setiap keberanian untuk tampil.

Mancawarni 2026 meninggalkan lebih dari sekadar kenangan. Ia menegaskan SMA Muhi sebagai ruang tumbuh—tempat murid belajar memimpin, berkarya, dan percaya bahwa masa depan bisa dimulai dari sebuah panggung kecil di tengah kota. (#)

JurnalisYusron Ardi Darmawan Penyunting Sayyidah Nuriyah