Telaah

Digitalisasi Tol: Travoy Lawan Kemacetan dan Fatalitas

204
×

Digitalisasi Tol: Travoy Lawan Kemacetan dan Fatalitas

Sebarkan artikel ini
Jalan Tol

Digitalisasi Tol: Travoy Lawan Kemacetan dan Fatalitas

Pengguna tol sebaiknya aktif memanfaatkan seluruh fitur real-time, seperti memantau kondisi lalu lintas melalui CCTV, mengecek titik kemacetan dan rest area, serta mengikuti rekomendasi rute alternatif dan peringatan zona rawan.

Oleh Yusron Ardi Darmawan, M.Pd.

Tagar.co – Data kemacetan jalan tol di Indonesia sepanjang 2026 menunjukkan bahwa tekanan lalu lintas tetap tinggi dan cenderung meningkat dibanding tahun sebelumnya, terutama pada periode mudik Lebaran.

Tercatat lebih dari 3,25 juta kendaraan keluar dari Jakarta selama periode mudik (naik ±18%), dengan kepadatan signifikan di gerbang tol utama dan ruas Trans Jawa.

Pada fase awal mudik, sekitar 1,2 juta kendaraan telah meninggalkan Jakarta, memicu antrean panjang di titik-titik bottleneck seperti gerbang tol dan rest area.

Menariknya, meskipun kemacetan meningkat, tingkat fatalitas justru menurun secara signifikan: secara nasional, fatalitas turun sekitar 30–31% dan total kecelakaan turun sekitar 5–6% dibanding 2025.

Evaluasi pemerintah menunjukkan bahwa penurunan fatalitas terjadi meski volume lalu lintas meningkat, menandakan adanya perbaikan infrastruktur dan manajemen arus.

Namun, kemacetan tetap berkontribusi terhadap risiko kecelakaan sekunder, seperti tabrakan beruntun, kelelahan pengemudi, dan keterlambatan penanganan darurat, sehingga hubungan antara kepadatan dan keselamatan tetap menjadi isu krusial.

Baca Juga:  Kue Lebaran Tersaji di Kelas, Momen Indah Halalbihalal di TK  Handayani

Penurunan fatalitas ini salah satunya dipengaruhi oleh aplikasi Travoy. Data terbaru 2026 menunjukkan peningkatan signifikan jumlah pengguna dibanding tahun sebelumnya.

Pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, jumlah pengguna aktif Travoy mencapai sekitar 1,2 juta. PT Jasa Marga (Persero) Tbk meluncurkan versi terbaru aplikasi Travoy pada 10 Januari 2026 dalam acara Travoy Fest 2026 di Mal Gandaria City, Jakarta.

Travoy berperan penting menurunkan kemacetan dan fatalitas melalui pemanfaatan digitalisasi informasi lalu lintas secara real-time.

Perbandingan peran Travoy dengan teknologi aplikasi di negara maju menunjukkan perbedaan signifikan dalam skala integrasi dan fungsi teknis.

Travoy berfokus pada penyediaan informasi real-time kepada pengemudi tol, seperti kondisi arus, CCTV, lokasi rest area, peringatan titik rawan, dan perencanaan rute.

Informasi ini membantu pengemudi menghindari bottleneck dan memilih jalur alternatif, sehingga berpotensi mengurangi kemacetan lokal dan menekan risiko fatal akibat stop‑and‑go atau rute yang buruk. Travoy dapat dikategorikan sebagai Traveler Information System, bagian awal dari sistem informasi perjalanan yang lebih luas.

Sementara itu, di negara maju, aplikasi dan sistem berbasis Intelligent Transportation System (ITS) tidak hanya memberikan data kepada pengguna, tetapi juga mengintegrasikan sensor jalan, CCTV, data GPS anonim, algoritma prediksi lalu lintas, dan kontrol adaptif di pusat manajemen.

Baca Juga:  Lebaran Suasana Digital

Sistem ini dapat mengatur sinyal, ramp metering, serta mengirim perintah dynamic routing ke kendaraan untuk mengoptimalkan arus jaringan secara keseluruhan, menurunkan kepadatan lalu lintas, dan meningkatkan keselamatan.

Teknologi ITS lanjutan juga melibatkan komunikasi langsung dengan kendaraan (V2I/V2V) dan kontrol variabel kecepatan (variable speed limits), menurunkan variabilitas kecepatan dan risiko kecelakaan fatal.

Dengan demikian, Travoy berperan sebagai penyedia informasi bagi pengguna, sedangkan ITS di negara maju adalah sistem manajemen lalu lintas end-to-end yang dapat mengendalikan, mengoptimalkan, dan memprediksi kondisi jaringan secara otomatis.

Teknologi di Negara Maju

Untuk meningkatkan peran Travoy agar setara dengan teknologi di negara maju, strategi harus fokus pada integrasi data real-time, predictive analytics, dan otomatisasi respons operasional.

Travoy perlu terhubung penuh dengan sistem Advanced Traffic Management dan Incident Management di JMTC, mengolah data CCTV, radar, dan vehicle detection menggunakan machine learning untuk memprediksi kemacetan, memberikan estimasi waktu terjadinya kemacetan, rekomendasi rerouting, serta batas kecepatan dinamis (dynamic speed limits) sesuai kapasitas jalan.

Baca Juga:  Mengapa Siswa Masih Pasif di Kelas?

Fitur predictive safety analytics harus memanfaatkan data historis kecelakaan untuk mengeluarkan peringatan risiko proaktif, mengurangi variabilitas kecepatan, dan potensi kecelakaan.

Integrasi Travoy Go dengan sistem pembayaran nirsentuh perlu diperluas untuk menghilangkan hambatan fisik di gerbang tol, sekaligus dikaitkan dengan demand management untuk menggeser puncak beban.

Kolaborasi lintas lembaga, seperti Korlantas dan Kemenhub, penerapan standar ITS internasional (V2I/V2V), serta peningkatan penetrasi pengguna minimal 30% akan menjadikan Travoy sebagai decision support & control system yang mampu mengurangi kemacetan dan menekan fatalitas melalui pemantauan, prediksi, dan intervensi otomatis yang terukur.

Untuk memaksimalkan fungsi Travoy demi keselamatan berkendara, pengguna tol sebaiknya aktif memanfaatkan seluruh fitur real-time, seperti memantau kondisi lalu lintas melalui CCTV, mengecek titik kemacetan dan rest area, serta mengikuti rekomendasi rute alternatif dan peringatan zona rawan.

Selain itu, selalu perbarui saldo Travoy Go untuk pembayaran nirsentuh yang lancar, patuhi peringatan kecepatan dan jarak aman, serta gunakan aplikasi sebagai alat perencanaan sebelum dan selama perjalanan agar risiko tabrakan, kelelahan pengemudi, dan keterlambatan penanganan insiden dapat dikurangi.  (#)

Penyunting Ichwan Arif.