Feature

Tak Menyerah, Remaja Sidoarjo Ini Berjualan Kopi demi Tetap Sekolah

56
×

Tak Menyerah, Remaja Sidoarjo Ini Berjualan Kopi demi Tetap Sekolah

Sebarkan artikel ini
M Alzario Alfath saat berkunjung ke kantor Lazismu Sidoarjo, Kmasii 7 Agustus 2025 (Tagar.co /Yekti Pitoyo)

Di balik aroma kopi yang ia racik, tersimpan kisah perjuangan M. Alzario Alfath, siswa SMA 2 Sidoarjo yang tak menyerah pada keadaan. Sejak usaha orang tua bangkrut dan ayahnya sakit, ia memikul beban keluarga sambil mengejar cita-cita di bangku sekolah.

Tagar.co – Di usia remaja, kebanyakan anak sibuk mengejar prestasi akademik atau menghabiskan waktu bermain bersama teman. Namun, bagi M. Alzario Alfath (16), siswa kelas X SMA Negeri 2 Sidoarjo, masa sekolah berarti perjuangan ganda: menuntut ilmu di kelas sambil mengelola usaha kopi dan makanan kekinian.

Sejak duduk di bangku SMP, Alzario sudah akrab dengan dunia usaha. Bukan karena tren atau ikut-ikutan teman, melainkan karena keadaan yang memaksanya. Usaha orang tuanya bangkrut, meninggalkan lubang besar dalam kondisi keuangan keluarga.

Baca juga: Machfuriyah Terluka di Trotoar, Lazismu Hadir Membalut Duka

Belum sempat bangkit, sang ayah jatuh sakit akibat komplikasi, membuat ibunya menjadi satu-satunya penopang ekonomi.

“Dulu kami hidup berkecukupan. Tapi sejak usaha bangkrut dan Papa sakit, semuanya berubah. Saya nggak mau cuma diam melihat Mama kesulitan,” ucapnya pelan.

Baca Juga:  Orientasi Amal: Cukup Rida Allah, Bukan Validasi Manusia

Alzario mulai berjualan makanan ringan buatan ibunya. Dari situ, ia memberanikan diri meracik minuman kopi kekinian. Awalnya hanya satu-dua pesanan, kini bisa belasan gelas dalam sehari, terutama jika ada acara khusus.

Saat sekolah mengadakan bazar atau alun-alun Sidoarjo ramai event, ia dan adiknya tak segan membuka booth. Teman-teman hingga guru-gurunya pun menjadi pelanggan setia.

“Mengapa saya harus malu? Toh ini halal, dan bisa membantu meringankan beban Mama,” ujarnya saat berkunjung ke Kantor Lazismu Sidoarjo, Kamis (7/8/2025).

Tantangan terbesar datang saat ia diterima di SMA bersamaan dengan adiknya masuk SMP. Biaya masuk sekolah terasa seperti tembok besar yang sulit ditembus. Hampir saja ia menyerah, jika saja Beasiswa Mentari dari Lazismu Sidoarjo tidak hadir.

Bantuan itu menutup biaya perlengkapan siswa baru, sehingga ia bisa melangkah ke sekolah menengah atas tanpa putus di tengah jalan.

Bagi Alzario, setiap cangkir kopi yang ia racik bukan sekadar minuman. Ada harapan yang ia tuang di dalamnya, ada semangat yang ia aduk setiap kali sendok berputar. Di balik rasa manisnya, terselip pelajaran tentang keteguhan hati: bahwa seberat apapun badai, ia memilih untuk tetap berdiri.

Baca Juga:  Ramadan bagi Emak-Emak: Ketika Uang Dapur Perlahan Membengkak

Di balik program Beasiswa Mentari, ada tangan-tangan dermawan yang tak terlihat di layar, namun nyata menyalakan kembali asa anak-anak untuk menggapai cita. Mereka bukan sekadar donatur, melainkan penjaga mimpi yang nyaris padam.

Sebab, yang dibutuhkan anak-anak seperti Alzario bukan hanya biaya, tapi juga dukungan moral dan pelukan semangat dari lingkungan sekitar—pesan sederhana bahwa mereka tidak sendiri.

Mari, jangan patahkan harapan mereka. Ulurkan tangan, sebarkan cahaya. Karena di balik satu beasiswa, ada masa depan yang sedang dibangun.

Salurkan bantuan melalui Lazismu Sidoarjo, rekening BSI 7025835713. Konfirmasi donasi ke nomor 0821-4004-1912. (#)

Jurnalisi Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni