Telaah

Kecantikan Platonik

12
×

Kecantikan Platonik

Sebarkan artikel ini
Kecantikan platonik mengacu pada konsep kecantikan murni, bukan daya tarik fisik atau seksual. Dicapai melalui jalan kecerdasan dan spiritual.
Suharyo AP, S.H.

Kecantikan platonik mengacu pada konsep kecantikan murni dan tidak terikat pada daya tarik fisik atau keinginan seksual. Dicapai melalui pemahaman intelektual dan spiritual.

Oleh Suharyo AP, S.H., Penasihat Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang.

Tagar.co – Orang terhebat yang pernah terlahir ke bumi bernama Nabi Muhammad Saw. Tanpa cacat, akhlak maupun fisik. Pribadinya unggul. Teladan utama. Kepala negara yang adil. Pemimpin perang yang gagah berani, dan segudang kehebatan lain.

Nabi Muhammad ranking pertama dari 100 tokoh hebat dunia. Begitu yang disebut dalam buku berjudul The 100: A Ranking of The Most Influential Person in History karya Michael H. Hart (1978).

Rasulullah dinilai sebagai tokoh paling berpengaruh dan mampu mengubah kehidupan menjadi berkeadaban. Dari gelap menjadi hidup berkemajuan penuh ridaNya.

Namanya terbanyak dipakai di dunia yang dibandingkan dengan nama lain. Mereka bangga menggunakan nama Muhammad atau Ahmad.

Sejumlah kisah ditulis tidak akan kehabisan. Nabi adalah inspire man. Kebaikannya tidak pernah kering. Sampai kiamat akan terus terbit buku-buku tentang dirinya.

Ada yang mengatakan Rasulullah memiliki kecantikan platonik. Platonic beauty. Mengacu pada konsep kecantikan murni dan tidak terikat pada daya tarik fisik atau keinginan seksual.

Istilah ini berasal dari pemikiran filsuf Yunani, Plato. Meyakini ada kecantikan tertinggi dicapai melalui pemahaman intelektual dan spiritual.

Tidak Ada Makanan, Puasa

Rasulullah cantik perutnya. Maksudnya tidak pernah risau dengan urusan makan.

Suatu ketika Nabi Saw. pulang dari perjalanan jauh. Sesampainya di rumah bertanya kepada istrinya Aisyah, ada makanan apa pagi ini?

Aisyah meminta maaf karena tidak ada makanan. Aisyah tidak masak, tidak punya bahan. Respon Nabi: kalau begitu saya berpuasa.

Rasulullah juga cantik pada lisannya. Artinya, ucapannya terjaga. Selaras antara ucapan (kata) dengan perbuatan.

Tidak pernah berkata kasar, santun namun tegas. Tidak menyakiti, banyak meminta maaf dan mengucapkan terima kasih.

Kata Nabi,”Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, bicaralah yang baik kalau tidak bisa diamlah.”

Bahkan Nabi menyarankan para suami agar kalau bicara kepada anak dan istrinya harus santun.

Kecantikan lain pada diri Rasulullah adalah pada pandangannya. Tidak suka memojokkan orang. Jauh dari kebiasaan menghina dan meremehkan orang.

Rasulullah biasa dan mengajak umatnya agar menghargai, memuliakan, dan meminta masukan dari siapapun.

Melihat orang lain dari kelebihannya. Suatu ketika Nabi Saw. berdiri saat ada jenazah lewat.

Setelah jenazah jauh sahabat bertanya, mengapa engkau berdiri, bukankah orang yang meninggal itu Yahudi?

Nabi Saw mengatakan, kita sama-sama hamba Allah, apapun agamanya. Tidak ada salahnya memberi penghormatan terakhir.

Rasulullah menghargai dan mendorong umatnya terus belajar, menambah ilmu.

Di zamannya kalau ada tawanan orang kafir yang punya keahlian, maka bisa membayar kebebasannya dengan mengajar ilmu kepada umat Islam.

Nabi menegaskan, orang belajar di majelis ilmu dimudahkan terbukanya pintu surga.

Berdasarkan hadis yang disampaikan sahabat Abu Hurairah yang termuat dalam Sahih Muslim hadis nomor 2699 menjelaskan.

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto