Feature

Silaturahmi ke Pak Sis: Sehangat Pulang ke Ayah Sendiri

60
×

Silaturahmi ke Pak Sis: Sehangat Pulang ke Ayah Sendiri

Sebarkan artikel ini
Berfoto bersama dengan Pak Sis dan istri (tengah) di Perumahan Lembah Harapan, Surabaya, Jawa Timur, Jumat, 4 Juli 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Di sela jeda tahun ajaran baru, saya bersama tiga sahabat menyambangi Pak Sis—sosok yang kami anggap seperti ayah sendiri. Gerimis Surabaya sore itu tak mampu meredam hangatnya silaturahmi yang menghidupkan kembali kenangan dan rasa sayang yang tulus.

Tagar.co – Di tengah jeda sebelum kesibukan tahun peajaran baru kembali menyapa, empat sahabat menyempatkan waktu untuk mempererat silaturahmi. Usia mereka terpaut jauh, latar belakang berbeda, tetapi jalinan kekerabatan menjadikan mereka seperti keluarga yang saling menyayangi dan merindukan.

Jumat sore, 4 Juli 2025, pukul 15.30 WIB, saya bersama tiga rekan: Nofia Firdawati (37), Laili Uswatin (36), dan Nanik Tri Kanjawati (61), melangkah menuju rumah Siswono (71), sosok yang sudah kami anggap seperti orang tua sendiri. Tujuan kami adalah kawasan Perumahan Lembah Harapan, Surabaya.

Baca juga: Persahabatan Tak Lekang oleh Tempat dan Waktu: Sahabat Ambyar Gelar Halalbihalal

Hujan gerimis tak menyurutkan niat kami. Bahkan sebelum berangkat, Bu Nanik sempat berdoa dengan tulus, “Gusti, kulo bade silaturahmi, mugi-mugi mboten jawah rumiyin, ngantos kulo mantuk nggeh.” Seolah doa itu langsung dikabulkan langit—hujan berhenti, jalanan dari Menganti, Gresik, menuju Surabaya pun lancar.

Baca Juga:  Analogi Pilot di Mimbar Tarawih: Taat Puasa tanpa Banyak Tanya

Kami tiba dan disambut hangat oleh putri ketiga Pak Sis. “Tunggu sebentar ya, bapak dan ibu sedang keluar sebentar,” katanya ramah. Tak lama berselang, Pak Sis dan istri tiba. Suasana menjadi lebih cair saat Bu Nanik, yang pernah menjadi tetangga mereka selama bertahun-tahun, larut dalam perbincangan penuh kenangan.

“Seperti sedang sensus penduduk ya,” celetuk Laili saat menyaksikan Bu Nanik dan istri Pak Sis—Bu Endang—berbincang hangat tentang kabar para tetangga lama.

Pak Sis mengenang masa lalu dengan senyum: “Bu Susilo ini tetangga lama saya. Anak sulung saya dan anaknya Bu Susilo dulu bersahabat.” Ia menyebut Bu Nanik dengan nama almarhum suaminya, sebuah bentuk penghormatan khas masyarakat Jawa.

Dalam perbincangan santai itu, Pak Sis menyelipkan nasihat penuh makna. Ia menyitir hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.”

Tak hanya kata-kata yang menghangatkan, Bu Endang pun memanjakan kami dengan aneka suguhan: sempol, siomai goreng, tahu bakso, mie ayam, dan teh hangat yang disajikan di atas karpet cokelat.

Baca Juga:  Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Ego dan Polarisasi, Dorong Persatuan Substantif Berbasis Gagasan dan Amal

“Gak boleh pulang sebelum habis makanannya,” ujarnya lembut. Bu Endang, seperti suaminya, telah menjadi sosok ibu bagi kami—para yatim piatu yang merindukan kasih orang tua.

Menjelang Magrib, suara azan berkumandang. Kami diajak salat berjemaah. Pak Sis menjadi imam. Rasanya seperti salat bersama ayah sendiri—penuh damai dan rindu yang terobati.

Usai salat, kami pamit pulang. Hati kami terasa ringan, lapang, dan hangat. Bahagia melihat Pak Sis dan Bu Endang sehat dan penuh semangat.

Kami pun berjanji akan datang lagi saat waktu memungkinkan. Silaturahmi ini tak sekadar nostalgia rekan kerja, melainkan jalinan batin yang semoga terpelihara hingga akhir hayat. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah | Penyunting Mohammad Nurfatoni