Feature

Dari ‘Pokoke Panen’ ke Ketahanan Pangan: Gerakan Tani Aisyiyah Gresik

44
×

Dari ‘Pokoke Panen’ ke Ketahanan Pangan: Gerakan Tani Aisyiyah Gresik

Sebarkan artikel ini
Bukan pokoke panen. Penanaman pohon halaman samping Masjid Baitussalam, Wotan, Panceng, Gresik, Jawa Timur sebagai simbol gerakan pertanian Aisyiyah (Tagar.co/Ria Eka Lestari)

Bermula dari celetukan ‘pokoke panen’, para ibu di Panceng Gresik justru diajak melihat lebih dalam: bahwa dari pekarangan rumah pun bisa tumbuh kemandirian pangan, gizi keluarga, hingga ladang pahala.

Tagar.co– Sabtu siang 5 Juli 2025, halaman samping Masjid Baitussalam, Wotan, Panceng, Gresik, Jawa Timur, tampak ramai oleh para ibu mengenakan batik hijau Aisyiyah. Sebagian mengenakan rompi dan caping berwarna cokelat muda.

Mereka berkumpul setengah melingkar di lahan yang lembap. Sebagian memegang bibit tanaman, sebagian lain menyiapkan cangkul dan sekop kecil. Di bawah rindang pepohonan, semangat gotong-royong membangun ketahanan pangan keluarga begitu terasa.

Baca juga:Aisyiyah Gresik Rangkul Kaum Marjinal lewat 160 Paket Ramadan

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Milad Ke-108 Aisyiyah. Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Gresik memulainya dengan penyuluhan dan pembinaan untuk Kelompok Wanita Tani Aisyiyah (KWTA), dimulai dari KWTA Panceng.

Di awal sesi, Sugeng Darmawan, Penyuluh Pertanian Ahli Pertama Dinas Pertanian Kabupaten Gresik, menghangatkan suasana dengan pertanyaan, “Ibu-ibu, apakah tahu apa itu kegiatan bertani?”

Baca Juga:  SDMM Luncurkan Layanan e-Counselling: Kami Mendengar, Kami Peduli

“Pokoke panen,” jawab para peserta serempak, disambut tawa hadirin.

Namun Sugeng segera menjelaskan bahwa pertanian bukan hanya soal panen. “Pertanian itu kompleks, terus berkembang, ada teknologi dan terobosan. Ketahanan pangan itu, Ibu-Ibu, maksudnya adalah bahan pangan yang terjangkau dan tersedia secara mandiri,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya memulai ketahanan pangan dari keluarga. “Qaryah Tayibah ini berbasis pedesaan, desa yang baik dan diberkahi. Maka ayo kita bangun dari rumah sendiri, pekarangan sendiri. Bertani itu tidak harus ke sawah. Di pekarangan rumah kita juga bisa. Kalau ulet dan tekun, bisa jadi tambahan uang belanja, sekaligus memenuhi gizi keluarga,” paparnya.

Menurutnya, pemanfaatan pekarangan adalah program nyata pemerintah, seperti melalui jargon kupetik sehat di depan rumahku. “Kami siap bekerja sama dengan Ibu-ibu KWTA,” tegasnya.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua PCM Panceng Abdul Faliq, Ketua PRM Wotan Asrori, Kepala Desa Wotan Khusnul Muslikhun, serta Ketua PDA Gresik, Innik Hikmatin.

Dalam sambutannya, Innik menyatakan bahwa Panceng sebagai daerah pesisir memiliki potensi besar, termasuk tenaga kerja wanita, nelayan, dan petani perempuan. “Itu harus kita wujudkan dan berdayakan,” ujarnya.

Baca Juga:  Mulai dari Keluarga, Kepedulian Lingkungan Dibentuk sejak Dini

Ia menyebut saat ini sudah ada 10 KWTA di Panceng dengan nama masing-masing, yang akan segera diresmikan ke Dinas Pertanian. “Terima kasih Pak Kades sudah mendukung kegiatan ini. Ada tiga lahan yang disiapkan dari salah satu warga KWTA, dari PCM, dan PRM Panceng,” ungkapnya.

Innik juga menegaskan pentingnya pembinaan spiritual bagi anggota KWTA. “Agar dakwah kita tersampaikan secara utuh,” katanya sebelum memandu yel-yel KWTA Panceng yang diikuti antusias oleh seluruh peserta.

Kepala Desa Wotan, Khusnul Muslikhun, turut mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PDA Gresik. “Ini adalah kontribusi nyata ‘Aisyiyah dalam memperkokoh ketahanan pangan. Wotan juga telah menyediakan lahan untuk Muhammadiyah di hutan Panceng,” ucapnya.

Ia berharap KWTA Panceng bisa bersinergi dengan kelompok tani lain di desa. “Saya baru tahu ada kelompok taninya. Mudah-mudahan bisa berkolaborasi dan memberi semangat kepada Ibu-Ibu Aisyiyah lainnya,” ujarnya.

Kegiatan ini juga melibatkan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG). Farikhah, Dekan Fakultas Pertanian UMG, mengingatkan bahwa tantangan ketahanan pangan sangat besar, terutama dalam hal akses.

Baca Juga:  Dalam Hening, Teman Tuli Mengaji Isyarat: Semangat Awal Tahun di Doudo

“Meskipun bahan pangan dekat, kalau tidak mampu beli, itu belum ketahanan pangan. Makanan bergizi di minimarket harganya mahal, itu membatasi masyarakat untuk mengonsumsi,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa sistem pangan terdiri dari aktor-aktor, dan ibu-ibu adalah aktor awal di hulu. “Perguruan tinggi bertugas mencetak lulusan sesuai level KKNI. Tapi social mapping di Gresik utara menunjukkan adanya kesenjangan pendapatan dan lemahnya daya saing lulusan SMA,” paparnya, disambut teriakan setuju dari peserta.

Kegiatan ditutup dengan penanaman bibit tanaman oleh Ketua PDA Gresik bersama LLHPB, perwakilan KWTA Panceng, PCM, PRM, dan kepala desa di lahan sekitar lokasi acara, sekitar pukul lima sore. (#)

Jurnalis Ria Eka Lestari Jurnalis Mohammad Nurfatoni