Opini

Setahun Milad Tagar.co, Menjaga Solidaritas dalam Ruang Digital

33
×

Setahun Milad Tagar.co, Menjaga Solidaritas dalam Ruang Digital

Sebarkan artikel ini
Setahun milad
Logo Milad Ke-1 Tagar.co

Setahun milad Tagar.co menjaga api menulis, loyalitas, dan solidaritas tak kasat mata yang telah lama mengikat dalam ruang digital.

Catatan redaktur Sayyidah Nuriyah

Tagar.co – Dalam hidup yang serba sementara ini, setiap kejadian mengandung hikmah yang baru terasa ketika kita menoleh ke belakang. Termasuk kelahiran Tagar.co setahun lalu—sebuah hikmah yang, dalam proses tumbuh kembangnya, senantiasa memantik rasa syukur: Alhamdulillah.

Setahun lalu, setelah melalui ujian di media rumah kami bernaung sebelumnya, saya dan teman-teman redaksi memutuskan untuk berhijrah. Dalam waktu singkat, kami membulatkan tekad untuk terus berdakwah di dunia digital lewat rumah kecil yang kami beri nama Tagar.co.

Media ini lahir bukan semata demi ambisi berbau eksistensi, tetapi sebagai bentuk aktualisasi dari passion yang sama: menulis, menulis, dan menulis. Juga loyalitas dan solidaritas tak kasat mata yang telah lama mengikat kami dalam ruang digital. Kami ingin mewadahi gagasan berbagai pihak yang perlu disiarkan. Nah, seiring meningkatnya antusiasme para jurnalis, aktivitas menulis pun bersanding erat dengan mengedit, mengedit, dan mengedit.

Kami bertujuh dari latar belakang yang berbeda, namun bersatu dalam iktikad menyebarkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan melalui kata. Kami percaya, menulis bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga bentuk mengabdi. Adapun keyakinan yang terus menguatkan langkah kami: menulis adalah ibadah di jalan sunyi yang selalu tercatat di langit.

Baca Juga:  Penampilan Perdana Mugeb Teacher Band Mengguncang Panggung Milad

Saya pribadi memutuskan bergabung karena berkiblat pada guru-guru menulis saya—terutama Ustaz Mohammad Nurfatoni. Keputusan ini nyatanya menjadi jangkar yang menjaga saya tetap waras, tetap menulis, dan tetap berjalan.

Baca juga: Dari Ruang Rawat Inap ke Ruang Redaksi: Kisah Kelahiran Tagar.co

Dulu, menulis adalah cara saya bertahan. Ia seperti napas segar di tengah hiruk-pikuk hidup yang rumit. Saat kelelahan, menulis menjadi oase. Saat semua terasa buntu, menulis menjadi pintu.

Namun waktu bergeser, people change. Kini, menulis dan mengedit bukan lagi sekadar pelarian, tetapi amanah yang saya emban penuh tanggung jawab. Saya tak lagi hanya mencari udara segar darinya, melainkan mendapat tanggung jawab untuk menyalakan nyala—bagi diri sendiri, bagi ruang redaksi, dan bagi para pembaca yang mungkin sedang berada di titik yang pernah saya lalui.

Tentu, saya tak selalu kuat. Saya hanya manusia biasa. Menjalani semua tanggung jawab sekaligus sering kali terwujud bukan dalam waktu bersamaan, tapi secara bergantian.

Pun dalam psikologi, multitasking hanyalah mitos. Yang nyata adalah otak manusia berpindah fokus dengan cepat dari satu hal ke hal lain, dari satu kewajiban ke kewajiban lain. فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ. Saya memilih menyebut ini sebagai bagian dari proses bertumbuh secara bertahap.

Baca Juga:  Membaca Al-Qur’an Isyarat: Ramadan Inklusif di Baitul Insan Nur

Ruang Bertumbuh

Alhamdulillah, Tagar.co adalah ladang tempat kami bertumbuh bersama. Tempat kami belajar menyalakan api, menjaga bara, dan terus menulis serta mengedit—meski kadang lelah. Karena kami percaya, setiap kata yang ditulis dengan niat yang lurus akan menemukan jalannya sendiri menuju hati pembaca.

Selain sebagai ruang menyiarkan gagasan, Tagar.co juga menjadi wadah baru bagi saya untuk belajar memainkan peran sebagai sekretaris—dengan sepenuh hati. Saya yang pada dasarnya cenderung tidak terstruktur, perlahan belajar menata diri agar bisa bekerja dengan lebih sistematis.

Tentu, banyak kekurangan di sana-sini. Tapi pemahaman dan dukungan dari teman-teman redaksi membuat saya tetap berani belajar dan bertumbuh. Saya sadar, peran ini bukan sekadar urusan administrasi. Melainkan menuntut kesadaran, konsistensi, dan komitmen untuk menjaga irama kerja bersama.

Baca juga: Lazismu Lumajang Ucapkan Selamat Milad Tagar.co

Milad setahun ini, bagi saya, adalah momentum paling efektif untuk bersyukur dan refleksi. Tanpa sengaja, milad media ini nyaris bersamaan dengan milad saya. Rasanya seperti pengingat dari Allah, bahwa saya tidak sedang tumbuh sendirian. Di tengah beragam peran yang saya jalani, Tagar.co hadir sebagai ruang tumbuh bersama.

Baca Juga:  Risma: Perempuan Tak Perlu Takut saat Berniat Baik

Sebagai anggota termuda di tim redaksi, tentu saya banyak belajar di sini—bukan hanya soal kepenulisan, tapi juga tentang bagaimana menjaga ritme kerja tim, menerima kritik, belajar memaafkan diri sendiri saat terlambat mengedit naskah atau melakukan kesalahan teknis. Semua itu adalah bagian dari proses menjadi versi terbaik dari diri saya dan Tagar.co.

Selamat milad pertama, Tagar.co. Semoga tetap membersamai langkah kami dalam dakwah digital—dengan papan ketik huruf, passion, pengabdian, dan dengan cahaya tulus.

Untuk para jurnalis Tagar.co, izinkan saya memohon maaf atas segala keterbatasan setahun ini—terutama karena membuat teman-teman harus menunggu tulisan tayang sehari-dua hari atau mungkin ada yang terlewat sampai tiga hari. Terima kasih atas kesabaran yang luar biasa dan loyalitas untuk terus mengirimkan naskah.

Mari terus bertumbuh bersama. Semoga ke depan, kecepatan dalam mengedit semakin meningkat. Semoga di tahun kedua, buah pikir kita kian giat mewarnai beragam rubrik di Tagar.co. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto