
Di tengah perjuangan mendampingi istri yang dirawat intensif, saya justru harus ikut melahirkan Tagar.co. Kisah tentang cinta, ketabahan, dan kelahiran media yang tumbuh dari ruang rawat inap.
Tagar.co – Saya masih ingat, sejak Jumat, 14 Juni 2024, saya harus berada di Rumah Sakit Umum Daerah Ibnu Sina, Gresik, tepatnya di Paviliun Flamboyan. Bukan karena saya sakit, tetapi karena istri saya, Siti Rondiyah, sedang menghadapi masa-masa berat dalam perawatan intensif dan pengobatan di rumah sakit.
Saking berat sakitnya, saya bahkan tidak bisa meninggalkannya untuk mengikuti salat Iduladha pada 17 Juni 2024. Ada beberapa jarum yang menusuk-nusuk di tubuhnya, untuk memasukkan berbagai cairan infus dan obat, termasuk transfusi darah dan albumin. Mengapa banyak jarum? Di samping karena banyaknya obat, beberapa cairan tersebut tidak boleh dimasukkan lewat satu jalur bersama.
Baca juga: Satu Tahun Menyatukan Gagasan, Tagar.co Luncurkan Logo Milad Perdana
Bukan hanya itu, jarum harus dipindah-pindah ke berbagai titik—dua lengan dan dua kaki—termasuk melalui central venous catheter (CVC) atau kateter vena sentral. Itu semua dilakukan karena dalam dua–tiga hari biasanya terjadi pembengkakan pada lokasi jarum. Tak hanya itu, bantuan oksigen pun tak bisa dilepaskan darinya.
Dengan berbagai upaya dokter dan perawat, serta doa dan dukungan keluarga, tetangga, dan sahabat—termasuk ikhtiar alternatif—kondisi istri akhirnya mulai membaik. Alhamdulillah, ia diperbolehkan pulang pada Kamis, 4 Juli 2024. Artinya, selama 21 hari ia dirawat di rumah sakit.
Namun, di rumah, istri hanya bertahan dua hari. Pada Sabtu, 6 Juli 2024, dia harus dibawa kembali ke Ibnu Sina karena kondisinya kembali memburuk dengan kasus yang sama. Bahkan ingatannya menurun hingga setengah sadar. Pada episode kedua ini, istri dirawat selama 14 hari di ruang yang sama, meskipun di kamar yang berbeda. Jumat, 19 Juli 2024, bakda Magrib, ia diperkenankan pulang. Alhamdulillah.
Baca juga: Satu Tahun Tagar.co: Menyatukan Gagasan, Menyemai Keadilan Digital
Tetapi, di rumah, peristiwa yang sama kembali terjadi. Hanya bertahan tiga hari, kondisinya memburuk. Ingatannya melemah, ia mulai meracau, dan harus dibawa ke rumah sakit lagi. Sayangnya, ia tak bisa dibawa kembali ke Ibnu Sina untuk ketiga kalinya dengan kasus serupa dalam waktu yang sangat berdekatan. Pasalnya, ia adalah pasien BPJS, meskipun kelas 1 dan naik ke kelas VIP.
Kata dokter spesialis penyakit dalam yang merawatnya, ia harus dirujuk ke rumah sakit lain yang setipe atau lebih tinggi. Dengan berbagai pertimbangan—dan bantuan tetangga serta saudara karena ia tak sepenuhnya sadar—saya membawanya ke IGD RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, pada Senin 22 Juli 2024.
Singkat cerita, istri akhirnya dirawat di Graha Amerta. Selama 10 hari, ia ditangani oleh dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi (Sp.PD-KGEH) yang selama ini menanganinya dalam rawat jalan di tempat praktiknya di Surabaya. Ia pulang pada Rabu siang, 31 Juli 2024.
Sebelumnya, pada pertengahan Mei 2023 istri juga pernah dirawat di Rumah Sakit Eka Husada Menganti (satu pekan) dan akhirnya dirujuk ke Ibnu Sina Gresik (satu pekan).
Tumbuh dan Sehat
Alhamdulillah, saat ini kondisi istri terus membaik. Hasil laboratoriumnya dipantau dokter tiap bulan. Tujuh macam obat dan satu jenis herbal buatan sendiri harus diminum dengan penuh kesabaran.
Seperti kesabarannya membiarkan saya mendirikan dan mengembangkan Tagar.co dan media sebelumnya selama delapan tahun. Begitu banyak waktu yang saya—dan tentu teman-teman redaksi—curahkan untuk jihad digital ini. Salah satunya tercermin dari rangkaian tanggal-tanggal saat istri dirawat dan proses kelahiran Tagar.co berlangsung.
Beberapa hari sebelum istri masuk rumah sakti, kami melakukan rapat-rapat maraton secar daring. Misalnya 12 Juni 2024 yang menghasilkan nama dan visi media; 13 Juni 2024 menghasilkan susunan redaksi dan pembagian rubrik dan penanggung jawab.
Di tengah tugas menjaga istri, saya juga tetap mengikuti beberapa kali rapat daring dengan enam rekan redaksi: Mas Sugeng Purwanto (Surabaya), Mas Sugiran (Situbondo), Mas Darul Setiawan (Sidoarjo), Mas Ichwan Arif (Gresik), Mbak Nely Izzatul (Yogyakarta–Lamongan), dan Mbak Sayyidah Nuriyah (Gresik). Nama terakhir ini bahkan bolak-balik ke rumah sakit untuk memberikan dukungan moral—dan makanan.
Salah satu tonggak sejarah penting yang perlu dicatat adalah tanggal 18 Juni 2024. Saat itu, artikel resensi film karya Sayyidah Nuriyah berjudul berjudul Inside Out 2 Ajak Penonton Rasakan Ledakan Emosi Remaja. terbit sebagai artikel perdana di Tagar.co.
Pada Selasa 25 Juni 2024 rapat membahas pendirian perusahaan dan persiapan pada soft launching Tagar.co; Lalu Selasa 2 Juli 2024 rapat evaluasi banwidth dan membahas pembentukan grup Jurnalis Tagar.co. Rapat juga dilakukan pada Jumat 12 Juli 2024.
Kami bahkan sempat mengadakan rapat redaksi saat istri masih dirawat di Ibnu Sina, pada Rabu 17 Juli 2024. Setelah prosesi besuk, kami bergeser ke Rumah Makan Handayani, di sebelah kanan Icon Mall. Inilah masa-masa awal sejarah kelahiran media kami, sebelum akhirnya kami soft launching pada 21 Juli 2024, yang ditetapkan sebagai hari lahir Tagar.co.
Baca juga: Siar Keadilan dan Kemanusiaan, Napas Media yang Berarti
Tak hanya rapat, saya tetap menulis, mengedit, menerbitkan, dan memviralkan berita dan artikel di Tagar.co—di sela-sela menjaga istri. Yang saya syukuri, istri dirawat di ruang VIP yang hanya dihuni satu pasien, sehingga memungkinkan saya ikut ‘membidani dan menyusui’ bayi Tagar.co.
Kehadiran lima anak dan menantu yang datang secara bergelombang dari berbagai kota—juga saudara, tetangga, dan sahabat—sangat membantu. Mereka memungkinkan saya untuk sesekali meninggalkan istri dan berpindah ‘merawat bayi’ baru kami: Tagar.co.
Yang tak boleh saya lupakan adalah sahabat saya di Pekalongan, Jawa Tengah, Mas Ma’mun Affany, yang turut membidani Tagar.co dari sisi IT. Berkali-kali saya harus berkomunikasi dengannya, bahkan mengajukan komplain—semuanya dilakukan dari rumah sakit.
Begitu pula kantor saya, Cakrawala Print dan Kanzun Books, di bawah kepemimpinan Ustaz Abdul Aziz. Dialah yang memberikan keleluasaan penuh kepada saya untuk menjaga istri hampir dua bulan lamanya, sekaligus membesarkan Tagar.co di sela jam kerja kantor.
Kini, media kesayangan ini telah menjadi batita—tumbuh sehat dan membahagiakan. Bukan hanya bagi tujuh orang pendiri, tetapi juga bagi para jurnalis dan tokoh yang ikut mendukung kelahirannya atau yang berkontribusi hingga kini.
Saat ini, Tagar.co rata-rata menerbitkan 25 artikel berita dan opini per hari, dengan kunjungan pembaca mencapai 15 ribu views per hari.
Semoga ke depan Tagar.co semakin berkembang, mandiri secara finansial, dan menjadi media yang sehat—seperti sehatnya istri saya hari ini, yang kata beberapa teman seperti mendapat kesempatan kedua. Amin. (#)
Mohammad Nurfatoni













