
Kepergian K.H. Aslich Maulana meninggalkan jejak keteladanan, pengabdian, dan cinta ibadah. Guru haji ini menuntun jemaah menjaga sunah, menguatkan iman, serta menanamkan makna hidup sepanjang perjalanan spiritual bersama.
Oleh Mohammad Nurfatoni, Anggota Jemaah Haji KBIH Baitul Atiq 2017
Tagar.co — Kabar wafatnya K.H. Aslich Maulana menyebar cepat di berbagai grup percakapan, Kamis (15/1/2026). Salah satu pesan pertama datang dari Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, Hasan Abidin, di grup WhatsApp Baitul Atiq Tahun 2017 pukul 14.16 WIB:
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah meninggal dunia Bapak H. Aslich Maulana. Semoga diterima amal ibadahnya dan keluarga diberikan kesabaran. Amin.“
Ungkapan duka pun mengalir, termasuk doa dari Muhammad Hanafi: “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa‘afihi wa‘fu ‘anhu. Semoga diterima amal ibadahnya dan keluarga diberikan kesabaran. Amin.”
Bagi para jemaah KBIH Baitul Atiq, kepergian Pak Aslich, sapaan akrabnya, bukan sekadar kehilangan seorang pembimbing ibadah. Ia adalah guru yang mengajarkan makna haji sebagai perjalanan rohani yang utuh—dari niat, praktik, hingga akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Penjaga Sunah di Tanah Suci
Agustus–September 2017 menjadi fase penting kebersamaan kami dengannya. Selama 40 hari di Makkah dan Madinah, Pak Aslich bukan hanya mengarahkan teknis manasik. Ia menyertai setiap langkah ibadah, ziarah, dan perenungan spiritual jemaah. Bahkan jauh sebelum berangkat, melalui manasik, beliau menanamkan kedisiplinan rohani yang bertahan hingga hari ini.
Salah satu keteladanannya yang paling diingat adalah komitmennya menjaga praktik sunah Tarwiah di Mina. Di saat banyak jemaah meninggalkan amalan itu karena langsung ke Arafah, Pak Aslich justru memperjuangkannya.
“Karena itulah yang dilakukan Rasulullah Saw. Kita berusaha mengikuti cara haji yang beliau contohkan,” ucapnya, 8 Zulhijah saat itu.
Tarwiah menjadi pengalaman spiritual yang mendalam. Di sanalah para jemaah kali pertama mempraktikkan salat qasar tanpa jamak sebagaimana tuntunan Nabi. Seusai salat, beliau meminta beberapa jemaah menyampaikan kultum—mendidik mereka agar tak sekadar menjadi pelaku ibadah, tetapi juga pewaris nilai.

Keteguhan dalam Keterbatasan
Ikatan itu kian erat ketika KBIH Baitul Atiq memilih nafar sani hingga 13 Zulhijah, sementara mayoritas jemaah memilih nafar awal. “Keduanya boleh. Tidak berdosa,” katanya, sambil mengutip Surah Al-Baqarah ayat 203.
Pada puncak wukuf di Arafah, Pak Aslich tiba-tiba terserang stroke ringan dan mengalami kesulitan berjalan. Sejak itu kursi roda menjadi bagian dari perjalanannya. Namun semangatnya tak pernah surut.
Dalam ritual melempar jumrah—perjalanan sekitar 10 kilometer pulang-pergi menuju Jamarat—beliau tetap menyertai jemaah, meski sering kali harus didorong dengan kursi roda.
Sekembalinya ke tanah air, kebersamaan itu terus terjaga. Setiap tiga bulan para jemaah berkumpul dalam silaturahmi. Beliau menyapa kami dengan istilah penuh kehangatan: “para mantan haji.”
Warisan Keteladanan
Sebagai dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Gresik, Pak Aslich tidak hanya mendidik di ruang kelas, tetapi juga melalui teladan hidup.
Pada 22 Mei 2022, beliau menghadiri resepsi pernikahan anak keempat salah satu jemaahnya di Aston Hotel Gresik, meskipun saat itu salah satu kakinya telah diamputasi akibat diabetes melitus yang lama dideritanya.
Dengan kursi roda, beliau tetap hadir sebagai cermin komitmen, kasih, dan tanggung jawab seorang guru sejati.
Kamis, 26 Rajab 1447 H atau 15 Januari 2026, perjalanan dunia Pak Aslich berakhir. Seusai disalatkan selepas Isya di Masjid Muhajirin, jenazah beliau dimakamkan di Bungah, Gresik.
Pak Aslich sering mengingatkan jemaahnya: “Balasan haji mabrur adalah surga.” Kini, kami percaya, beliau sedang menapaki jalan itu.
Selamat jalan, Guru Haji. Jejakmu abadi dalam ibadah dan akhlak kami. (#)












