Cerpen

Sekar

48
×

Sekar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI/freepik.com premium

Andai aku terlahir dari keluarga kaya, mungkin hidupku akan berbeda. Namun, kenyataan menamparku. Aku hanyalah Sekar, anak buruh tani yang harus berjuang keras untuk menggapai mimpi.

Sekar; Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK Aisyiyah 41 Menganti, Gresik, Jawa Timur.

Tagar.co – Aku mengerutkan kening, memandang nanar sepeda butut milik kakakku yang sudah tergantung di kayu penyangga atap parkiran sekolah. Lagi-lagi mereka. Gerombolan Sisi, Rani, dan Tias. Tiga serangkai yang seolah tak pernah kehabisan cara untuk mengusik hari-hariku.

“Mereka berulah lagi,” desahku, pada diri sendiri. Perundungan ini sudah menjadi makanan sehari-hari sejak aku menginjakkan kaki di SMP negeri ini. Sepeda dibalik, dipindahkan, diikat di pohon asem depan sekolah, dan kini, digantung di atas tiang. Semuanya sudah kurasakan. Ingin rasanya melawan, tapi aku hanyalah adik kelas yang tak berdaya.

Bersekolah di SMP negeri adalah satu-satunya pilihan yang diberikan orang tuaku. Bukan tanpa alasan, biaya sekolah di sini jauh lebih ringan, meringankan beban Bapak yang hanya seorang buruh tani. Menghidupi delapan anak dengan penghasilan pas-pasan membuat kami harus pintar-pintar mengencangkan ikat pinggang. Jangankan untuk sepeda baru, untuk makan sehari-hari saja kami harus berhemat.

Minyak goreng curah menjadi pilihan, dan tak jarang Ibu memberiku catatan untuk dititipkan ke pemilik toko langganan. Jika beruntung, aku bisa membawa pulang roti atau mi instan yang mendekati tanggal kadaluarsa. Pernah juga Ibu memintaku membawa kerupuk mentah berjamur, yang kemudian dibersihkannya dan dijemur kembali agar bisa digoreng, menjadi teman makan nasi putih yang hangat.

“Sekar, buang saja sepeda butut itu!” Teriakan Sisi yang melengking, disusul gelak tawa teman-temannya, mengiris hatiku. Aku hanya bisa menunduk, menelan rasa sakit dan malu yang kian menggunung.

Baca cerpen penulis ini lainnya: Panggilan Jiwa

Andai aku terlahir dari keluarga kaya, mungkin hidupku akan berbeda. Tak perlu merasakan kekurangan, dan segala keinginan akan mudah terpenuhi. Namun, kenyataan menamparku. Aku hanyalah Sekar, anak buruh tani yang harus berjuang keras untuk menggapai mimpi.

Baca Juga:  "Manusia Jalur Langit”, Esai Nadhirotul Mawaddah Raih Penghargaan Nasional

“Sekar, tolong bantu Ibu….” Suara lembut Ibu memecah lamunanku, menarikku kembali ke dunia nyata.

Setiap sore, dengan sepeda butut peninggalan kakak yang kini merantau ke kota untuk kuliah, aku bertugas mengantar dan mengambil kain sarung di kampung sebelah. Ibu, dengan jemarinya yang lincah, membantu Bapak mencari tambahan penghasilan dengan menjahit sarung tenun ikat. Dua hari sekali, aku menjadi kurir yang menghubungkan Ibu dengan Pak Bakri, pengusaha sarung tenun di seberang kampung.

Tumpukan kain sarung sudah terikat rapi di boncengan. Di musim kemarau, perjalanan ini terasa ringan. Namun, ketika musim hujan tiba, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur. Sepeda butut ini tak lagi bisa dikayuh, terpaksa harus kutuntun, dan kakiku harus rela berlumur tanah merah.

Hari ini, mentari bersinar cerah, pertanda perjalanan akan lancar. Di tengah jalan, aku berpapasan dengan Pak Kadir, guru Bahasa Indonesia di sekolahku. Wajahnya tampak serius.

“Sekar, kebetulan sekali kita bertemu. Bapak memang mau ke rumahmu. Ada yang ingin bapak sampaikan,” ujar Pak Kadir, membuatku penasaran.

“Ada apa ya, Pak?” tanyaku. Jantungku berdebar tak karuan. Tak biasanya Pak Kadir mendatangi rumah muridnya.

“Begini, dalam rangka Bulan Bahasa, akan diadakan lomba menulis tingkat SMP. Bapak melihat kamu punya bakat menulis yang luar biasa. Pendaftarannya ditutup besok, jadi bapak ingin segera mendaftarkanmu. Hanya kamu yang terlintas di pikiran bapak,” jelas Pak Kadir panjang lebar.

Hatiku berbunga-bunga mendengar penuturan Pak Kadir. Tanpa ragu, aku mengiyakan tawarannya. Senyum Pak Kadir mengembang, dan beliau pun pamit untuk melanjutkan perjalanan.

Rasa bahagia itu membuatku lupa akan tugas utama. Aku baru teringat saat sudah hampir tiba di rumah, bahwa kain-kain sarung ini harusnya diantar ke rumah Pak Bakri. Aku putar balik sepeda bututku, kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Mendengar penjelasanku, Ibu yang tadinya bersiap memarahiku, berubah menjadi sosok penyemangat yang luar biasa.

Baca Juga:  Dari Sarangan ke Miniatur Dunia, Perjalanan Guru TK Menganti Mengisi Energi dan Inspirasi

“Semoga kamu juara ya, Nduk. Ibu yakin kamu punya bakat. Tunjukkan kemampuanmu, jangan pernah takut gagal,” kata Ibu, matanya berkaca-kaca. “Sekarang, antar dulu sarungnya,” lanjut Ibu mengingatkanku sambil tersenyum.

“Kirain hari ini aku bebas tugas,” jawabku sambil nyengir kuda. Kukayuh kembali sepeda bututku, kali ini dengan tenaga ekstra, seolah ingin segera menuntaskan kewajibanku dan memulai petualangan baru dalam lomba menulis.

Keesokan harinya, aku menghadap Pak Kadir di ruang guru. Beliau sudah siap dengan berbagai petuah dan memberiku selebaran berisi informasi lomba. “Lombanya adalah membuat sinopsis dari sebuah karya sastra. Kamu bebas memilih novel yang ada di perpustakaan sekolah. Waktunya hanya satu pekan ya, Sekar. Kalau sudah selesai, segera serahkan ke Bapak. Nanti akan Bapak kumpulkan ke kabupaten, untuk diseleksi ke tingkat provinsi,” jelas Pak Kadir. Jika beruntung, tulisanmu bisa lanjut ke tingkat nasional, imbuhnya.

Sinopsis? Karya sastra? Novel? Satu pekan? Kata-kata itu berputar-putar di kepalaku, membuatku sedikit pusing.

Waktu istirahat tak kusia-siakan. Kakiku melangkah cepat menuju perpustakaan. Pandanganku tertuju pada deretan novel di rak. Aku mengabaikan Sisi yang kulihat sudah siap dengan rencana jahilnya. Entah apa yang dia katakan, telingaku seolah tuli.

Merasa diabaikan, Sisi melemparku dengan sepatunya, tepat mengenai kepalaku. Sakit, tapi aku berusaha menahannya.

“Dasar bocah kere! Berani sekali kamu mengacuhkanku!” teriaknya, wajahnya merah padam. Aku menoleh, melihatnya berkacak pinggang dengan angkuh.

“Bukan cuma kamu yang jadi delegasi sekolah. Aku juga ikut lomba itu!” Dia berteriak lagi, suaranya bergetar. Aku tidak akan kalah darimu, anak gembel, lanjutnya sinis lalu mengambil sepatunya dan berlalu.

Amarah yang selama ini kupendam, akhirnya meledak. “Kebetulan sekali! Ayo kita bertaruh. Jika aku menang, kamu harus berhenti menyiksaku, baik dengan kata-kata maupun perbuatanmu!” teriakku, menantangnya.

“Oke, aku setuju. Tapi jika aku yang menang, kamu harus menuruti semua perintahku,” jawab Sisi dengan nada meremehkan.

Baca Juga:  Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Ego dan Polarisasi, Dorong Persatuan Substantif Berbasis Gagasan dan Amal

Di antara deretan novel, mataku tertuju pada sebuah buku bersampul coklat. Layar Terkembang, karya Sutan Takdir Alisjahbana, terbitan Balai Pustaka. Tanpa ragu, kuambil novel itu, kubaca lembar demi lembar, mencari inti cerita yang akan kutuang dalam sinopsis.

Sepekan berlalu, aku dan Sisi sama-sama mengumpulkan karya kami kepada Pak Kadir. Ketegangan menyelimuti hari-hari berikutnya. Kabar baik datang dari Pak Kadir, karya kami berdua lolos seleksi kabupaten dan akan melaju ke tingkat provinsi. Rasa cemas dan harap bercampur aduk. Seminggu kemudian, penantian panjang itu mencapai puncaknya.

“Jangan terlalu berharap, Sekar. Yang terpenting kamu sudah berusaha. Hasilnya, serahkan saja kepada Tuhan,” Ibu menenangkanku, seolah mengerti kegelisahan yang kualami.

Hari Senin itu, saat upacara bendera, Pak Kadir bertindak sebagai pembina. Di tengah amanatnya, beliau mengumumkan hasil lomba menulis tingkat provinsi. Jantungku berdegup kencang. Saat nama Layar Terkembang disebut sebagai pemenang, dan namaku disebut sebagai penulisnya, tubuhku seakan membeku. Aku menang! Air mata haru menggenang di pelupuk mataku.

Dari kejauhan, kulihat Sisi menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Usai upacara, Pak Kadir menghampiriku, wajahnya berseri-seri. Di belakangnya, dua orang guru mendorong sebuah sepeda baru yang cantik.

“Ini hadiah untukmu, Sekar. Atas kegigihan dan prestasimu,” kata Pak Kadir, matanya berkaca-kaca. Hadiah beasiswa selama satu tahun juga diberikan oleh panitia penyelenggara untukmu, lanjutnya dengan bangga.

Sisi, yang selama ini selalu merundungku, mendekat. Sesuai janjinya, dia tak lagi menggangguku. Bahkan, terkadang dia bersikap baik. Aku tak peduli apa alasannya. Yang terpenting, aku akan selalu berusaha bersikap baik kepada semua orang, tanpa perlu membalas keburukan dengan keburukan.

Kemenangan ini bukan hanya tentang hadiah dan beasiswa, tapi juga tentang pembuktian diri, dan yang terpenting, tentang memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. Dan aku, Sekar, siap menyongsong masa depan dengan sepeda baru dan hati yang baru. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni