
Aku, Nadhira yang kompetitif dan selalu ingin berprestasi, merasa seperti pecundang. Di satu sisi, aku harus menuruti keinginan suami, menjunjung tinggi peranku sebagai istri dan ibu, mengikuti norma yang berlaku di masyarakat.
Di sisi lain, aku merasa tidak berguna jika hanya di rumah, tanpa penghasilan sendiri, tanpa aktualisasi diri.
Panggilan Jiwa; Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK Aisyiyah 41 Menganti, Gresik, Jawa Timur.
Tagar.co – Menikah adalah komitmen seumur hidup, sebuah janji suci antara seorang lelaki dan perempuan. Bagi kami, menikah adalah ibadah terpanjang yang akan dijalani berdua.
Akhir tahun 2008, dengan mantap aku melangkah ke pelaminan, meninggalkan status lajangku dan menyambut peran baru sebagai seorang istri.
Aku, Nadhira, seorang wanita karier yang independen, harus menyesuaikan diri dengan kehidupan baru ini. Aku dan Bayu, suamiku, memilih tinggal di rumah kontrakan sederhana, karena kami berdua sama-sama jauh dari orang tua.
Harapanku sederhana, hidup tenang dan damai. Namun, kenyamanan yang kuharapkan tak kunjung datang. Pak Broto, pemilik rumah yang kami tempati—sebenarnya adalah ahli waris dari pemilik asli yang meninggal beberapa minggu sebelum kami tempati—ternyata terkenal sangat rewel di lingkungan sekitar.
Baca juga: Luka Fatimah
Baru beberapa bulan tinggal, inspeksi mendadak sudah dilakukan. Aku merasa seperti sedang diaudit. Segalanya diperiksa dengan detail, layaknya kantor yang kedatangan tim audit yang terkenal killer.
Cat dinding harus tetap mengkilat bak sepatu baru yang dipajang di etalase toko atau semua lampu harus menyala sempurna tanpa kedip sedikit pun.
Belum lagi segudang aturan lain yang harus kami patuhi, tidak boleh memaku sembarangan, tidak boleh ada noda sedikitpun di dinding, dan sederet larangan lainnya.
“Wah, kalau begini terus, bisa mati berdiri aku,” gerutuku dalam hati, merasa tertekan dan terkekang. Aku yang terbiasa hidup bebas, kini harus terikat aturan-aturan yang menurutku berlebihan.
Setelah kurang lebih empat tahun hidup bagaikan dalam sangkar emas di kontrakan Pak Broto, alhamdulillah, aku dan Bayu berhasil mewujudkan mimpi memiliki rumah sendiri.
Berbekal tekad dan tabungan yang kami kumpulkan dengan susah payah, akhirnya kami bisa membeli sebuah rumah mungil di perumahan asri di wilayah Gresik Selatan. Aku ingat betul senyum lega Bayu saat akad jual beli itu. Lega karena akhirnya kami memiliki tempat yang benar-benar milik kami, bebas dari aturan-aturan Pak Broto yang menyebalkan.
Baca juga: Lelaki selepas Subuh
Babak baru kehidupanku pun dimulai. Karena lokasi rumah yang jauh dari pusat kota Surabaya, tempatku bekerja, aku berencana mencari tempat penitipan anak untuk Aisyah, anak pertama kami yang saat itu masih berusia dua tahun. Dengan begitu, aku bisa tetap bekerja dan meniti karirku. Namun, rencanaku itu tidak disetujui oleh Bayu dan ibuku.
“Ibu tidak rela kalau cucu Ibu diasuh orang lain, Nadhira,” ujar Ibu mertuaku saat kami berkunjung ke rumahnya di akhir pekan. Nada suaranya tegas, tidak menyiratkan ruang untuk bernegosiasi.
“Jalan satu-satunya, kamu berhenti bekerja,” lanjut Ibu, yang langsung diamini Bayu dengan anggukan mantap.
Duniaku serasa runtuh seketika. Berhenti bekerja? Kalimat itu bagai vonis mati bagi mimpiku, bagi cita-citaku. Selama ini aku berjuang, meniti karier di sebuah perusahaan multinasional di Surabaya, membuktikan bahwa aku, Nadhira, bisa mandiri dan berprestasi. Aku ingin menjadi wanita karier yang sukses, yang bisa menginspirasi banyak orang.
Dan kini, semua harus kutinggalkan? Semua harus kurelakan demi peran sebagai ibu rumah tangga? Rasa sesak menjalar di dada, menyesakkan napas. Tidak! Aku tidak mau hanya menjadi ibu rumah tangga! Tapi suara protes itu hanya bergema dalam hati, tak sanggup kuucapkan.
Aku menatap wajah Bayu, mencari setitik celah untuk bernegosiasi, untuk mengajaknya berdiskusi. Namun, yang kutemukan hanya ketegasan yang tak terbantahkan, sorot mata yang mencerminkan prinsipnya yang kuat. Aku tahu, Bayu adalah pria yang teguh pendirian. Sekali dia memutuskan sesuatu, sulit untuk mengubahnya.
Perasaanku berkecamuk hebat. Haruskah kulepaskan pekerjaanku yang sudah menjadi bagian hidupku, dengan gaji yang cukup menggiurkan dan posisi yang terus menanjak? Bayangan rekan kerja yang terus melaju, posisi yang terus menanjak, seolah mengejek keputusanku kelak.
Aku, Nadhira yang kompetitif dan selalu ingin berprestasi, merasa seperti pecundang. Di satu sisi, aku harus menuruti keinginan suami, menjunjung tinggi peranku sebagai istri dan ibu, mengikuti norma yang berlaku di masyarakat. Di sisi lain, aku merasa tidak berguna jika hanya di rumah, tanpa penghasilan sendiri, tanpa aktualisasi diri.
Ego dan idealismeku berontak hebat. Apakah ini akhir dari segala ambisiku? Apakah aku akan terkurung dalam rutinitas domestik yang membosankan? Apakah aku akan menjadi “Nyonya Bayu” saja, tanpa identitasku sendiri?
Berbagai pikiran negatif berkecamuk dalam benak, membuatku semakin tertekan, merasa terjebak dalam pilihan yang sulit. Bahkan bisikan-bisikan halus mulai terdengar, “Apa kata orang nanti? Apa kata teman-teman kerjaku? Sarjana sepertiku, dengan IPK cumlaude, hanya menjadi ibu rumah tangga?”
“Percayalah, Nadhira, menjadi ibu rumah tangga itu pahalanya luar biasa,” Ibu kembali menasihati, seolah membaca kegelisahanku, memahami pergulatan batinku.
“Kamu akan lebih sakit jika melihat anakmu lebih dekat dengan pembantu daripada denganmu. Percayalah, Nak.” Ibu mengelus punggungku lembut, berusaha menenangkanku. Kata-katanya menyiratkan ketulusan dan kasih sayang seorang ibu. Namun, tetap saja, bayangan kehidupan sebagai ibu rumah tangga full time terasa menakutkan bagiku.
##
Awalnya, menjadi ibu rumah tangga full time terasa seperti memasuki dunia baru yang asing, bahkan menyesakkan. Dunia dalam kotak, yang hanya diisi tingkah polah Aisyah, anak pertamaku. Aku yang terbiasa dengan deadline, meeting, dan hiruk pikuk dunia kerja, kini harus beradaptasi dengan tangisan bayi, popok yang harus diganti, dan rutinitas rumah tangga yang monoton.
Ternyata, banyak momen berharga yang terlewat saat aku sibuk bekerja. Dulu, aku berangkat pagi-pagi buta dan pulang saat hari sudah petang, bahkan seringkali lembur hingga larut malam. Banyak perkembangan Aisyah yang tak kusadari, tak kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri.
Kini, aku benar-benar menjadi ibu seutuhnya, orang tua sekaligus teman bermain bagi Aisyah. Aku menikmati setiap momen bersamanya, melihatnya tumbuh dan berkembang. Meski begitu, terkadang kerinduan akan dunia kerja itu masih menyergap, diam-diam menyelinap di antara momen-momen bahagiaku bersama Aisyah. Melihat laporan di grup kantor, mendengar cerita teman-teman tentang proyek yang sedang mereka kerjakan, diam-diam membuatku iri.
Aku merindukan tantangan, pencapaian, dan pengakuan yang kudapatkan dari dunia kerja. Apakah aku sudah membuat keputusan yang tepat? Apakah aku menyesal? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui, membuatku ragu.
Baca juga: Temon
Setahun berlalu, tak terasa Aisyah sudah waktunya bersekolah. Usianya tiga tahun saat itu. Aku dan Bayu mulai mencari play group terdekat. Setelah survei ke sana kemari, dari sekolah yang berbasis agama hingga sekolah internasional, kami menemukan tempat yang cocok, yang sesuai dengan harapan dan nilai-nilai yang kami yakini.
TK Aisyiyah, namanya. Berbeda dengan PAUD pada umumnya di daerah kami, sekolah ini mengharuskan anak bersekolah mandiri dan tidak boleh ditunggui oleh orang tua. Sebuah aturan yang menantang, mengingat Aisyah yang sangat lengket denganku.
Namun, karena selama setahun terakhir Aisyah hanya mengenalku sebagai sosok yang selalu ada untuknya, sekolah menjadi tempat yang asing dan menakutkan baginya. Saat anak-anak lain menikmati kegiatan sekolah dengan riang gembira, Aisyah justru penuh drama, dengan tangisan dan rengekan yang memilukan hati.
Tangisannya memaksaku untuk berlama-lama di sekolah, berdiri di barisan belakang, memperhatikannya dari kejauhan. Aku pun ikut berbaris, ikut senam, bahkan bernyanyi layaknya anak TK, demi menenangkan Aisyah.
Kegiatan ini menjadi rutinitasku selama kurang lebih tiga bulan. Aku seperti asisten guru, membantu menenangkan anak-anak yang menangis, menemani mereka bermain. Aku, Nadhira, yang dulu terbiasa memimpin rapat dan presentasi di depan klien, kini harus berlutut dan merayu anak-anak yang tantrum. Pengalaman ini memberiku perspektif baru, membuatku lebih memahami dunia anak-anak. Aku jadi memahami karakter anak-anak seusianya, belajar tentang kesabaran dan kasih sayang yang tak terhingga.
Beberapa waktu kemudian, Bu Ratih, salah satu guru di sekolah Aisyah, mengundurkan diri karena harus pindah ke luar kota mengikuti suaminya. Entah apa yang merasukiku saat itu, mungkin karena aku sudah mulai nyaman dengan lingkungan sekolah Aisyah, atau mungkin karena aku rindu untuk kembali berkegiatan, aku memberanikan diri untuk menawarkan diri kepada Bu Dina, kepala sekolah, untuk menggantikan posisi Bu Ratih.
Lamaran pekerjaan itu kutulis dengan tangan gemetar, tinta biru di atas kertas putih seolah merefleksikan gundah di hatiku. Antara harapan dan keraguan, antara keinginan untuk kembali berkarya dan ketakutan akan kegagalan. Apakah aku mampu? Apakah aku pantas? Apakah ini hanya pelarian sesaat dari rasa bosan di rumah?
Aku, Nadhira, yang terbiasa dengan pekerjaan yang terstruktur dan terukur, kini harus terjun ke dunia pendidikan anak usia dini yang penuh dengan ketidakpastian. Bu Dina, dengan senyum keibuannya yang menenangkan, menyambut baik tawaranku. Saat ditanya motivasiku melamar sebagai guru TK, yang notabene sangat tidak sesuai dengan latar belakang pendidikanku sebagai sarjana ekonomi, aku hanya bisa menjawab dengan suara bergetar, “Hanya ingin mengisi waktu, Bu… biar tidak bosan di rumah.”
Aku sendiri ragu dengan jawabanku yang terdengar klise itu. Apakah aku benar-benar menginginkannya? Atau hanya ingin membuktikan kepada diriku sendiri, dan mungkin juga kepada orang lain, bahwa aku, Nadhira, masih bisa berkarya, masih bisa berprestasi, meskipun di bidang yang berbeda? Mungkin karena tenagaku memang sedang dibutuhkan, dan mungkin juga karena kebaikan hati Bu Dina, aku diterima di taman kanak-kanak tempat Aisyah bersekolah.
Awal menjadi guru TK, wow… amazing! Ternyata, tidak semudah yang kubayangkan selama ini, jauh dari bayanganku yang hanya duduk manis di depan kelas. Satu anak berlarian ke sana kemari dengan energinya yang seolah tak ada habisnya, satu lagi berceloteh tanpa henti dengan pertanyaan-pertanyaan polosnya, yang lain menangis meraung-raung karena berebut mainan, belum lagi yang minta diantar ke kamar mandi, dan masih banyak lagi tingkah polah yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Apakah aku sanggup menghadapi semua ini? Pertanyaan itu terus menghantui, berputar-putar di kepalaku. Aku merasa seperti impostor, berpura-pura menjadi guru yang kompeten, padahal hatiku masih terbelenggu keraguan dan ketakutan. Aku merasa tidak pantas, merasa salah tempat.
Baru satu pekan mengajar di kelas A, aku terserang radang tenggorokan akut. Suaraku habis, kalah oleh teriakan dan celotehan anak-anak. Maklum, suara biasa-biasa saja, suara lembut yang biasa kugunakan di kantor, tak mampu menetralisasi hiruk-pikuk dan keriuhan anak-anak. Butuh volume di atas rata-rata, butuh tenaga ekstra, agar mereka mendengarkanku dengan seksama. Aku bahkan harus menggunakan bahasa tubuh dan ekspresi wajah yang berlebihan agar mereka paham.
“Bunda Nadhira, suaranya ke mana? Kok hilang?” tanya Fatih, salah satu muridku yang paling aktif dan kritis, dengan tatapan polos dan penuh rasa ingin tahu.
“Iya, Fatih, suara Bunda kalah sama anak-anak. Akhirnya, suara Bunda sembunyi di dalam perut,” jawabku memelas, dengan sedikit drama, berharap mereka kasihan dan mau mendengarkanku. Mereka pun luluh, terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan iba.
“Wah, berhasil juga,” gumamku dalam hati dengan senyum kemenangan yang terasa hambar, pahit. Apakah aku harus terus-terusan seperti ini?
Satu bulan menekuni profesi sebagai guru TK ini, aku ditugaskan oleh Bu Dina untuk menghadiri rapat pertemuan guru di salah satu TK di kecamatan yang sama. Di pertemuan itulah, di tengah ruangan yang penuh dengan guru-guru TK yang berpengalaman, hatiku tergugah, mendapatkan pencerahan.
Aku tersentil oleh ucapan Bu Sinta, seorang guru senior yang duduk di sebelahku. Kata-katanya sederhana, diucapkan dengan lembut, namun menamparku dengan keras, menyadarkanku dari keraguanku selama ini.
“Menjadi guru itu panggilan hati, Mbak Nadhira. Sebuah pengabdian yang tak ternilai dengan uang, tak bisa diukur dengan materi. Imbalannya adalah pahala yang akan menuntun kita kelak, yang akan menjadi bekal kita di akhirat.”
Kata-kata Bu Sinta bagaikan cambuk bagiku, menguliti lapisan-lapisan keraguanku selama ini, menyadarkanku dari kekeliruanku. Maknanya begitu dalam, menyentuh relung hati yang terdalam, menggetarkan jiwaku.
Awalnya, peralihan dari pegawai kantoran yang terhormat di mata masyarakat menjadi guru TK memang membuatku kurang percaya diri, merasa rendah diri, bahkan sempat merasa malu. Apalagi saat melihat teman-temanku yang terus menanjak kariernya, sukses di bidangnya masing-masing. Ada yang menjadi jaksa, berwibawa dengan toganya, ada yang menjadi pengacara sukses, dengan kasus-kasus besar yang ditanganinya, ada yang menjadi notaris, dengan penghasilan fantastis, bahkan ada yang menjadi anggota dewan, mengabdi pada masyarakat. Sungguh jauh di atasku.
Mereka bersinar terang, dengan pencapaian mereka yang gemilang, sementara aku? Hanya seorang guru TK di desa, di pinggiran kota, yang gajinya tak seberapa. Namun, setelah mendengar kata-kata Bu Sinta, aku malu pada diri sendiri. Betapa aku kurang bersyukur selama ini. Betapa aku telah dibutakan oleh ambisi duniawi, mengukur kesuksesan hanya dari materi, jabatan, dan pengakuan sosial. Aku telah salah memaknai hidup.
“Ya Allah, selama ini aku salah memaknai hidup. Aku mengejar apa yang kuinginkan, apa yang menurutku baik, bukan apa yang aku butuhkan, bukan yang terbaik menurut-Mu. Engkau Maha Tahu apa yang terbaik bagiku, apa yang sebenarnya kubutuhkan,” batinku, diiringi rasa sesal yang mendalam, namun juga kelegaan yang luar biasa. Seperti menemukan oase di tengah padang pasir.
Sejak saat itu, sejak pencerahan di pertemuan guru itu, perjalananku sebagai pendidik, sebagai guru TK, benar-benar menjadi lembaran kehidupan baru, sebuah perjalanan spiritual bagiku.
Aku menemukan makna yang sesungguhnya dari sebuah pengabdian, dari sebuah profesi. Bukan lagi materi, bukan lagi jabatan, bukan lagi pengakuan sosial yang menjadi tolok ukur kesuksesan, melainkan keberkahan, ketulusan, dan keikhlasan yang kukejar. Keraguan yang dulu membelenggu, yang membuatku merasa salah tempat, perlahan sirna, menguap, tergantikan oleh ketulusan dan keikhlasan dalam mendidik anak-anak. Aku mulai mencintai pekerjaanku, menikmati setiap momen bersama anak-anak, belajar dari kepolosan dan ketulusan mereka.
Pekan berganti bulan, bulan berganti tahun, aku semakin menyatu dengan lingkungan tempatku mengajar, dengan dunia anak-anak yang penuh warna. Libur sehari saja sudah membuatku rindu kembali ke sekolah, rindu celotehan dan tingkah polah mereka.
Semua terasa indah saat melihat wajah-wajah polos mereka, saat mendengar tawa riang mereka. Tak ada lagi beban di pundak saat menghadapi kenakalan-kenakalan mereka yang terkadang menguras emosi. Semua mengalir seperti air, ringan dan menyenangkan.
Semua bukan tentang materi, bukan tentang gengsi, melainkan pengabdian tulus dan ikhlas yang membawaku menjadi pendidik yang selalu belajar bersyukur di setiap langkah, di setiap hembusan napas.
Aku menemukan kedamaian yang selama ini kucari, bukan di gemerlapnya dunia kantor, bukan di antara tumpukan dokumen dan deadline yang mencekik, tapi di tengah tawa riang anak-anak, di dalam pelukan hangat mereka yang tulus.
Sepuluh tahun telah berlalu sejak aku memutuskan untuk beralih profesi. Jalan yang kulalui sebagai guru TK masih terbentang luas, masih banyak yang ingin kugapai, masih banyak mimpi yang ingin kuwujudkan bersama anak-anak tercinta, murid-muridku tersayang.
Aku bersyukur kepada Allah Swt yang telah menuntunku di jalan yang tepat, jalan yang dipenuhi cahaya, jalan yang membawaku pada panggilan hati yang sesungguhnya, jalan pengabdian yang penuh makna.
Bersama keceriaan anak-anak, aku menyongsong masa depan yang cerah, secerah wajah polos mereka, secerah mentari pagi yang menyinari bumi. Dan aku, Nadhira, bukan lagi sekadar “Nyonya Bayu”, aku adalah Bunda Nadhira, guru TK yang bahagia dan bangga dengan pilihanku. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












