
Cintaku hanya angin, berhembus lirih tak berarti, seperti cerita kasih yang berkesudahan dan berduka.
Cerpen oleh Risha Iffatur Rahmah, Guru SMA Muhammadiyah 2 (Smamada) Sidoarjo.
Tagar.co – Pagi itu di tengah Kota Emran, aku berdiri di depan sebuah masjid. Tepat saat azan Subuh berkumandang, langkahku menyeberang jalan, berharap bisa bertatapan dengan senyuman seorang laki-laki yang biasa menjadi imam di masjid tua itu.
Sayangnya, hari itu aku hanya sendiri, bersenandung istigfar. Entah mengapa, rasa rindu memenuhi relung hatiku. Walau hanya melihat barisan giginya yang putih dan temaram, rasanya sudah cukup mengobati luka lama.
Setibanya di teras masjid, aku bergegas menuju tempat wudu. Kutundukkan kepala, merasakan kesegaran air yang membasahi tangan hingga siku. Perasaan yang mengembara tadi lenyap seketika, seperti dihembus angin.
Mukena putih yang kukenakan menjadi saksi bisu lekukan harapan untuk dicintai oleh lelaki yang kudamba. Sambil menunggu salat, satu per satu jemaah berdatangan. Dua, tiga, empat, lima orang. Namun, tetap saja masjid seluas ini terasa sepi. Entah mengapa.
Telingaku menangkap suara yang tak asing. Ya… suara laki-laki itu, yang kembali mengumpulkan serpihan harapanku. Namun, kali ini berbeda. Perasaanku kembali kepada Sang Pencipta, Allah Swt. Kutanggalkan dunia, hanya kembali kepada-Nya. “Allahu Akbar,” suaranya sangat laki-laki dan lembut di hati. Entah ribuan kalimat apa yang meluncur dari hati ini.
Baca juga: Mantan Kekasih
Perasaan itu muncul lagi ketika sslat Subuh usai. Hati yang meronta ingin menemuinya telah kupadamkan. Sengaja, karena itu hanya hasrat yang terikat hawa nafsu.
Waktu berjalan begitu lambat. Satu per satu jemaah pulang. Kini aku sendiri, membuka lembaran ayat suci Al-Quran, membacanya perlahan dengan khidmat. Dua jam lebih tak terasa. Rasa kantuk mulai mendera, mungkin karena semalam aku tak bisa tidur. Mataku kian berat, lalu aku terlelap dan terbang ke padang mimpi.
Mataku yang berat akhirnya terbuka seiring suara azan Zuhur. Aku malu pada diriku sendiri. Bisa-bisanya aku tertidur di masjid, dan kedua orang tuaku tak mencariku. Mungkin mereka mengira aku sudah berangkat kerja.
Kulepas mukena dan segera pulang untuk mandi, lalu salat di rumah. Tak kusangka, sandal yang kupakai berubah warna menjadi biru, padahal tadinya berwarna pink. Terpaksa aku harus memakainya. Jalan setapak menuju rumahku terkadang licin dan berduri, mengingat lokasinya yang berada di lereng gunung.
“Sandal siapa itu?” Tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahku. Suara lelaki yang selama ini kuharapkan.
“M… a…af.., sandalku tidak tahu kemana, mungkin tertukar,” jawabku gugup.
“Apakah warnanya pink?”
“Benar, di mana?”
“Dipinjam Bu Sol, ya sudah pakai saja walaupun terlalu besar untuk kakimu.”
Aku hanya menunduk, mungkin dia tahu wajahku memerah. Mulutku tetap diam sambil berlari meninggalkannya. Bagaimana tidak, kerudungku saja acak-acakan. Siang itu menjadi momen yang paling mendebarkan, yang paling kutunggu selama ini.
Langkahku dipenuhi kenangan, mengembara ringan bersama bunga-bunga cinta. Namun, di sudut gang masuk rumah, aku tersandung. Sandal biru itu putus talinya. Perasaan tak enak menyergap. Bagaimana aku harus mengembalikannya? Waktuku tak banyak. Ke kota saja jauh, apalagi sandal itu terlihat cukup bagus. Ya Allah… Aku termenung, melepas sepasang sandal biru pelipur lara itu.
Pada akhirnya, sandal itu kugantung di dinding kamar. Kutatap setiap saat. Aneh, tapi bagaimana aku harus mengatakannya dan menggantinya? Lalu, perasaan mendebarkan ini harus kuletakkan di mana? Apakah aku sanggup menahan senyumnya? Allah… apakah aku akan baik-baik saja nanti?
Perasaan gugup seakan menjadi candu. Tak ada waktu untuk pergi ke kota. Dari siang sampai petang, hatiku gusar. Tiba-tiba sebuah ide muncul. Ya, sandal bapak saja sebagai gantinya. Di balik bayangan bunga-bunga esok hari, mataku semakin sayu, lalu terlelap ditelan malam.
Ayam berkokok mengusik mimpi kosong. Mataku terbuka, mencari cahaya subuh, dan bergegas menuju masjid. Tak lupa kutenteng sandal bapak. Sebenarnya, bapak belum tahu tentang masalah ini, tapi sudahlah. Sepanjang perjalanan, irama Subuh mengiringi langkahku. Namun sayang, yang kutunggu tak kunjung muncul. Kudengar orang-orang mengatakan bahwa dia berangkat ke Solo untuk menikah.
Subuh yang indah berubah menjadi badai. Baru saja hendak merajut kasih, dia hilang ditelan angin. Cintaku menguap tanpa alasan. Waktu Subuh menjadi memori kelam. Salat menjadi ajang curahan hati, dan akhirnya sandal bapak kutinggalkan begitu saja di masjid, bersebelahan dengan sandal pink milikku.
Wajahku tertunduk, menahan badai angin cemara. Ya, kegelisahan tentang keluarga cemara yang ingin kurajut dengannya. Tangisanku berhias kicauan burung, tak bisa kubendung. Dengan kekalutan hati, aku memutuskan untuk melarikan diri.
Ibu pernah berkata, “Daripada nikah muda, lebih baik kamu ikut mbakmu, kuliah sambil kerja di luar negeri!”
Pagi ketiga selepas sslat Subuh, aku memutuskan berangkat ke bandara dengan uang seadanya, bersama kakakku yang juga harus kembali menjadi pekerja migran. Wajah sembab di balik masker dan kacamata abu-abu menjadi saksi bisu, bahwa cinta tak memerlukan banyak cara untuk tetap bersemi.
Di negeri orang, majikan kakakku sangat sombong. Namun, kakakku sangat lihai mengambil hati mereka. Kami menyewa tempat tinggal yang tak jauh dari rumah majikan, tepatnya di dekat kandang babi. Kamar itu dulunya adalah kamar penjaga kandang. Untunglah, babi-babi itu sudah tidak ada, digantikan dengan itik.
Kutelaah sejarah tempat itu, lalu segera kusucikan seluruh areanya. Kususuri seluk-beluk bekas kandang dengan rapi dan bersih. Butuh waktu setengah hari, dari sore sampai malam, untuk menyelesaikannya. Majikan yang kembali untuk mengecek tempat itu tampak berbinar. Dari bahasanya, dia sangat menyukai hasil kerjaku.
Namun, aku tak akan tinggal lama di sana. Letak kampusku cukup jauh, butuh waktu satu jam perjalanan. Beberapa bulan kupakai untuk mempersiapkan ujian masuk, membuatku sedikit melupakan rasa cinta itu, meskipun terkadang air mata jatuh perlahan.
Dua pekan menunggu pengumuman, kujadikan ajang mencari tempat tinggal baru. Kudapat kamar yang bersebelahan dengan kamar pekerja, mahasiswa, dan pengangguran. Dengan uang pemberian majikan kakak, aku berusaha mencari pekerjaan tambahan. Akhirnya, aku menjadi penjaga toko buku dan aksesoris. Lumayan, untuk membayar uang sewa. Bahkan, di sela-sela kuliah, aku menjual jajanan dari desaku seharga satu dolar Singapura.
Ternyata, uang satu dolar itu lebih dari cukup untuk membayar uang sewa dan memenuhi kebutuhan hidupku. Hanya saja, rasa lelah yang luar biasa kurasakan. Di sini, orang-orang cukup cuek jika tidak kenal. Namun, pada dasarnya mereka juga baik hati.
Tak terasa, sudah empat tahun berlalu. Aku berhasil lulus dan menyandang gelar Bachelor of Education. Di hari wisuda, hanya kakakku yang hadir. “Penjual gorengan berhasil wisuda,” sindirnya penuh bahagia. Sayangnya, hatiku masih bersedih. Kehilangan lelaki selepas Subuh itu masih membekas dan membayangi. Sandal pink darinya masih nyaman kukenakan hingga kini.
Bagaimana aku bisa lupa, ketika aku tak memakai sandal di tengah hujan selepas Subuh? Dia yang tergopoh-gopoh membelikanku sandal. Bajunya basah kuyup, padahal kami berpayung bersama. Waktu hujan subuh yang romantis, tanpa perlu banyak kata. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni











