
Fatimah menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. “Aku sudah lama tahu ini akan terjadi,” gumamnya lirih, namun hatinya tetap saja terluka.
Luka Fatimah, Cerpen oleh Nurkhan, Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo, Panceng, Gresik.
Tagar.co – Langit sore memerah, bercampur dengan warna kekuningan, dilengkapi warna kelabu yang datang menyelimuti. Di tepi sungai Bengawan Solo, terlihat Fatimah, perempuan berjilbab ungu, duduk sendiri. Ia tak lagi bermain air dengan kayu kecil seperti biasanya.
Pandangannya kosong, menerawang jauh ke aliran sungai yang tenang, seolah mencari jawaban di dasar Bengawan Solo yang tak terjamah. Kemarau panjang tahun ini membuat air sungai surut, menampakkan pasir dan bebatuan di dasarnya.
Fatimah tak hanya gelisah karena kemarau yang berkepanjangan, tapi juga karena surat undangan pernikahan yang diterimanya dua hari lalu.
Surat itu datang bagaikan hantu dari masa lalu, mengingatkannya pada Zaenal, pria yang pernah mengisi hari-harinya, pria yang pernah ia cintai sepenuh hati. Kini, Zaenal akan menikah dengan perempuan lain bernama Azizah.
Fatimah menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. “Aku sudah lama tahu ini akan terjadi,” gumamnya lirih, namun hatinya tetap saja terluka.
Bukan karena ia masih mencintai Zaenal, tapi karena ada mimpi-mimpi yang dulu mereka bangun bersama, janji-janji yang terucap di bawah langit senja, kini hanya menjadi serpihan kenangan yang pahit.
Lima tahun lalu, Fatimah dan Zaenal adalah sepasang kekasih yang tak terpisahkan. Mereka bertemu di kampus, berbagi mimpi tentang rumah kecil di pedesaan, jauh dari hiruk pikuk kota.
Zaenal, dengan semangatnya yang membara, ingin meraih sukses di kota besar sebelum mewujudkan mimpi itu. Fatimah, dengan jiwa sederhana dan kecintaannya pada kampung halaman, hanya ingin segera pulang dan mengabdi sebagai guru di desa.
Perbedaan itu perlahan menggerogoti hubungan mereka. Zaenal semakin ambisius, mengejar karier dan mengabaikan Fatimah. Puncaknya, Zaenal memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri, meninggalkan Fatimah yang hancur.
“Aku harus pergi, Fatimah,” kata Zaenal waktu itu, “Ada beasiswa S2 di Jerman. Ini kesempatan yang tak mungkin kulewatkan.”
Fatimah terdiam, hatinya bagai diremas. Ia tahu Zaenal ambisius, tapi ia tak menyangka ambisi itu akan membawa Zaenal sejauh ini, meninggalkannya sendiri.
“Mungkin aku memang terlalu naif,” pikir Fatimah, air matanya menetes di pipi. Ia mengusap air mata itu dengan kasar, kemudian menatap langit sore yang mulai dipenuhi bintang.
“Setiap orang punya jalannya masing-masing,” bisiknya, mencoba meyakinkan diri.
Tiba-tiba, suara langkah kaki memecah kesunyian. Fatimah menoleh, dan dilihatnya Aisyah, sahabatnya sejak kecil, berjalan mendekat. Aisyah, dengan senyum hangatnya, duduk di samping Fatimah.
“Fatimah, kenapa sendirian di sini? Kamu kelihatan sedih.”
Fatimah menyerahkan undangan pernikahan Zaenal pada Aisyah. “Aku… aku tidak tahu harus bagaimana, Aisyah.”
Aisyah membaca undangan itu, lalu menatap Fatimah dengan penuh pengertian. “Fatimah, wajar kalau kamu sedih. Tapi, kamu harus kuat. Zaenal telah memilih jalannya, dan kamu juga harus memilih jalanmu.”
“Tapi aku… aku masih terluka, Aisyah,” isak Fatimah.
Aisyah memeluk Fatimah, menenangkannya. “Aku tahu, Fatimah. Tapi percayalah, waktu akan menyembuhkan lukamu. Kamu perempuan yang hebat. Kamu pasti bisa melewati ini.”
Fatimah menangis di pelukan Aisyah, melepaskan semua kesedihan yang terpendam. Ia merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Aisyah, yang selalu ada untuknya.
Malam semakin larut, bintang-bintang bertaburan di langit. Fatimah dan Aisyah masih duduk di tepi Bengawan Solo, berbagi cerita dan menguatkan satu sama lain.
Fatimah mulai merasa tenang. Ia tahu, meski Zaenal telah pergi, ia masih memiliki Aisyah, sahabat yang akan selalu menemaninya menghadapi apapun. Dan di tepi Bengawan Solo yang tenang, Fatimah akhirnya menemukan kekuatan untuk melepaskan masa lalu dan melangkah menuju masa depan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












