Cerpen

Jalan Pulang

×

Jalan Pulang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Kenanga pernah mengira kebebasan adalah berlari sejauh mungkin dari rumah. Hingga satu malam, luka dan keheningan mengajarinya arti pulang yang sesungguhnya.

Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK IT Handanyani, Menganti, Gresik, Jawa Timur

Tagar.co – Jam dinding menunjuk angka 02.00 WIB. Aku masih terjaga. Mulutku kembali menguap entah untuk yang keberapa kali. Udara rumah sakit terasa dingin dan lembap, merayap sampai ke tulang. Selimut tipis tak banyak membantu. Tapi aku tak beranjak. Aku harus bertahan, menjaganya.

Gadis yang dulu kukenal dengan sangat baik. Gadis kecil yang pernah memenuhi rumah dengan suara tawa dan langkah kaki yang berlarian ke sana kemari. Namanya Kenanga.

Baca juga: “Menjahit Kembali Mimpi yang Terbelah”, Karya Nadhirotul Mawaddah Juara I Lomba Cerpen JSIT

Aku mengenalnya jauh sebelum aku bertemu dengan pamannya—yang kini menjadi suamiku. Dulu, Kenanga adalah anak yang nyaris tak pernah diam. Setiap geraknya selalu mengundang kegaduhan kecil. Energinya seperti tak pernah habis. Ia tertawa dengan seluruh tubuhnya, berlari dengan seluruh jiwanya.

Aku masih ingat betul caranya bercerita. Cerita sederhana, mengalir begitu saja dari mulut mungilnya. Tentang sekolah, tentang teman-temannya, tentang apa saja yang membuatnya tak sabar menunggu esok hari.

Baca Juga:  Empat Pintu yang Tak Pernah Terbuka

Waktu berjalan tanpa pernah menoleh ke belakang. Entah sejak kapan, aku tak lagi hafal kisah-kisah Kenanga.

Dulu, ia tahu rasanya pulang sebelum gelap. Ia mengenali aroma kopi buatan ibunya yang menyeruak dari dapur. Ia hafal suara ayahnya yang bersiul kecil saat mengutak-atik motor tua di halaman. Semua itu kini terasa seperti potongan ingatan yang pudar—ada, tapi sulit digenggam.

Sekarang, hidupnya dipenuhi asap rokok, tawa yang terlalu keras, dan musik yang diputar tanpa jeda. Malam menjadi tempatnya bersembunyi. Di sanalah ia merasa tak perlu menjawab pertanyaan siapa pun—termasuk pertanyaan kecil di kepalanya sendiri yang kerap muncul tanpa diundang: Sejak kapan kamu berubah sejauh ini?

Ia tak ingat pasti kapan semuanya bermula. Mungkin sejak ia belajar bahwa perhatian lebih mudah didapat dengan bersikap berani. Mungkin sejak ia tahu, dunia tak selalu ramah pada mereka yang memilih diam dan patuh. Sedikit demi sedikit, batas itu bergeser. Gelap mulai terasa akrab. Menenangkan, meski menyesatkan.

Malam itu hujan turun tiba-tiba. Aspal mengilap seperti kaca pecah. Lampu kendaraan memantul tak beraturan. Kenanga mengendarai motornya terlalu cepat. Angin malam menerpa wajahnya, membawa sisa amarah dan lelah yang ia simpan terlalu lama.

Baca Juga:  Kenyang dari Sampah Masjid

Gas ditarik lebih dalam. Musik di telinganya tak mampu menenggelamkan detak jantung yang berpacu. Lalu—sebuah lubang besar muncul tanpa aba-aba.

Suara rem. Benturan. Cahaya putih yang menyilaukan. Tubuhnya terlempar, udara terhempas dari paru-parunya. Dunia berputar, lalu runtuh dalam sunyi yang panjang.

Bau antiseptik menyambutnya saat mata itu terbuka perlahan. Langit-langit putih. Suara mesin yang berdetak pelan, teratur, seperti jam yang mengingatkan bahwa waktu tetap berjalan—meski nyaris saja ia kehabisan jatah.

“Aku… di mana?” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.

“Di rumah sakit,” jawabku pelan.

Kenanga memejamkan mata. Air mata mengalir begitu saja, tanpa suara. “Mengapa Tuhan membuatku begini?” bisiknya. Ada amarah, ada takut, ada penyesalan yang tak tahu harus diletakkan di mana.

Aku mendekat, menggenggam tangannya yang dingin. “Karena Tuhan masih memberimu waktu,” kataku. “Dan karena Dia sayang padamu.”

Ia terdiam. Tatapannya kosong, tapi di sana aku melihat sesuatu yang runtuh. Bukan tulangnya, bukan kulitnya—melainkan dinding tebal yang selama ini ia bangun untuk menyembunyikan rasa bersalah dan takut kehilangan arah.

Hari-hari di rumah sakit berjalan lambat. Kenanga belajar duduk kembali. Belajar berdiri dengan tubuh yang gemetar. Belajar berjalan tertatih, sambil menahan perih yang sesekali membuatnya terisak. Namun yang paling berat bukan itu semua.

Baca Juga:  Pintu yang Terlambat Dibuka

Yang paling sulit adalah berani jujur pada dirinya sendiri.

Di malam-malam sepi, saat lampu lorong diredupkan, ia menangis dalam diam. Menyesali pilihan-pilihan yang tak bisa diulang. Merindukan versi dirinya yang dulu—yang pulang sebelum gelap, yang masih tahu ke mana harus kembali.

Di sanalah, di antara rasa sakit dan keterbatasan, tumbuh sesuatu yang lama hilang: keinginan untuk hidup dengan lebih benar.

Ia memulainya dari hal-hal kecil. Mengucap maaf. Mengatakan terima kasih. Menolak ajakan yang dulu selalu ia iyakan. Tak semua orang memahami perubahan itu. Ada yang menertawakan, ada yang meragukan. Tapi Kenanga bertahan. Ia tahu, perubahan sejati memang sering berjalan sendirian.

Bekas luka di kakinya tak pernah benar-benar hilang. Setiap langkah yang terasa nyeri menjadi pengingat—bahwa ia pernah hampir kehilangan segalanya.

Kenanga tak menjadi sempurna. Ia masih takut. Masih ragu. Masih sesekali tersandung oleh bayangan masa lalu. Namun kini, saat malam datang, ia tak lagi mencarinya untuk melarikan diri.

Ia menyalakan lampu di kamarnya.
Dan memilih pulang—setiap hari.

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Masjid yang dulu penuh perlahan sepi. Seorang pengurus…