
Rencana tindak lanjut (RTL) Baitul Arqam tak berhenti di atas kertas. Muhammadiyah Babat menjadikannya aksi nyata: kolaborasi Ortom dan AUM hidupkan masjid dan semai kader unggul.
Tagar.co – Suasana Masjid Al-Marwah di Babat selatan, Lamongan, Jawa Timur, tampak berbeda dari biasanya pada Ahad (23/3/2025). Sejak tengah hari, puluhan anggota Kelompok 5 Baitul Arqam Karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bersama Dewan Amaliyah Hizbul Wathan (DA HW) SMA Muhammadiyah 1 Babat (SMA Muhiba) telah bersiaga. Mereka membawa peralatan kebersihan, krayon warna-warni, dan perlengkapan kegiatan lainnya.
Bukan hanya datang untuk beribadah, mereka hadir membawa semangat kebersamaan dalam aksi “Gerebek Masjid” — membersihkan area masjid secara gotong-royong. Kegiatan ini menjadi pembuka dari rangkaian acara yang menyemarakkan sore Ramadan.
Baca juga: Di Hizbul Wathan Hormat untuk Manusia dan Jenazah
Setelah salat Asar, halaman dan serambi masjid semakin ramai. Anak-anak usia taman kanak-kanak (TK) terlihat antusias mewarnai gambar yang mereka bawa sendiri, sementara anak-anak sekolah dasar (SD) terlibat dalam permainan outbond penuh canda tawa. Di sisi lain, remaja dan orang dewasa berlatih menjadi master of ceremony (MC), dipandu oleh anggota Kelompok 5.
Berbagai aktivitas itu mengubah suasana masjid menjadi lebih hidup dan dinamis—jauh dari kesan sepi—hingga menjelang Kajian Senja Ramadan sekitar pukul setengah lima sore.
Kajian Senja Ramadan: Menyatukan Gerak Ortom dan AUM
Puncak acara hari itu adalah Kajian Senja Ramadan bertema “Sinergi Ortom dan AUM dalam Mencetak Kader Unggul dengan Spirit An-Nisa”. Kegiatan ini merupakan bagian dari rencana tindak lanjut (RTL) hasil Baitul Arqam Karyawan AUM PCM Babat yang digelar beberapa bulan sebelumnya.
Hadir sebagai narasumber, Imam Ghazali, Ketua Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai Spirit An-Nisa dalam proses kaderisasi.
“Kader unggul tidak cukup hanya cerdas secara intelektual. Ia harus memiliki rasa keadilan, kesadaran sosial (filantropi) tanggung jawab, dan kepemimpinan yang bijak,” tegasnya.
Spirit An-Nisa mengacu pada pesan moral surat ke-4 Al-Quran yang tak hanya bicara tentang wanita tapi juga soal kehidupan sosial dan kepemimpinan.
“Kolaborasi antara ortom dan AUM seperti hari ini adalah contoh nyata bagaimana potensi organisasi dapat dimaksimalkan.”
Imam Ghazali juga mengapresiasi langkah kreatif Kelompok 5 yang tidak hanya bergerak di lingkup AUM masing-masing, tetapi juga menggandeng ortom seperti Hizbul Wathan.
“Dari delapan kelompok hasil Baitul Arqam, Kelompok 5 ini berani tampil beda dengan RTL yang menjangkau akar rumput. Ini terobosan yang patut diapresiasi,” tambahnya.

Program Berkelanjutan Enam Bulan
Program ini bukan kegiatan sekali jadi. Ketua PRM Babat Selatan, Muzahid, mengungkapkan bahwa agenda kerja Kelompok 5 dirancang untuk berkelanjutan selama enam bulan, dengan ragam kegiatan yang menyentuh semua kalangan.
“Mulai dari pelatihan mewarnai, melukis atau kaligrafi, pelatihan MC, Kajian Senja Ramadan, bela diri praktis Tapak Suci, hingga bakti sosial sebagai penutup. Harapannya, kegiatan ini benar-benar memberi manfaat nyata bagi jamaah dan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Sekretaris Kelompok 5, Wisuda Riyanto, turut menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan banyak pihak. Bersama Ketua Kelompok 5, Aminulloh Fatkhur Roziqi, ia berharap sinergi ini menjadi inspirasi.
“Kami sangat menghargai kerja sama PRM Babat Selatan, DA HW SMa Muhiba, dan seluruh anggota Kelompok 5. Tanpa kerja keras dan kekompakan, kegiatan ini tidak mungkin berjalan seperti sekarang,” ungkapnya.
Menjelang malam, rangkaian acara ditutup dengan salat Tarawih berjamaah yang dilanjutkan dengan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) oleh kader Hizbul Wathan dari SAM Muhiba—sekolah yang dikenal sebagai lumbung kader Muhammadiyah di Kabupaten Lamongan.
Lewat kolaborasi antara Ortom dan AUM, kegiatan ini tak sekadar mempererat silaturahmi, tetapi juga memperkuat proses kaderisasi dalam Muhammadiyah. Generasi muda yang tumbuh dari masjid, diasah lewat nilai-nilai Islami, dan ditempa melalui sinergi—menjadi harapan baru bagi umat. (#)
Jurnalis Aminulloh Fatkhur Roziqi Penyunting Mohammad Nurfatoni












