
Amal usaha Muhammadiyah (AUM) tidak boleh sekadar melahirkan pegawai profesional. Ia harus tetap menjadi ladang kaderisasi yang menumbuhkan loyalitas ideologis dan pengabdian kepada Perserikatan.
Oleh Mohamad Najib, Wakil Ketua PRM Moropelang, Babat, Lamongan, Jawa Timur.
Tagar.co – Penghargaan bagi karyawan amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang aktif menjadi penggerak Perserikatan atau organisasi otonom Muhammadiyah merupakan langkah strategis, visioner, dan sangat mendesak.
Gagasan ini bukan sekadar bentuk apresiasi personal, melainkan peneguhan nilai dasar Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah, tajdid, dan kaderisasi yang berkelanjutan.
Baca juga: Erdogan dan Seni Mengambil Risiko dalam Kepemimpinan Negara
AUM pada hakikatnya bukan hanya institusi pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, atau ekonomi. AUM adalah alat perjuangan Perserikatan. Karena itu, karyawan AUM idealnya bukan sekadar pekerja profesional, tetapi juga kader Muhammadiyah yang hidup, bergerak, dan berjuang dalam denyut organisasi.
Penghargaan bagi mereka yang aktif sebagai pimpinan Muhammadiyah atau ortom menjadi pembeda yang tegas antara kader tulen dan mereka yang “dadakan” menjadi kader semata-mata karena kepentingan pekerjaan.
Tanpa disadari, dalam praktik sehari-hari, AUM berpotensi melahirkan generasi “pegawai Muhammadiyah”, tetapi miskin roh Muhammadiyah. Mereka hadir tepat waktu, bekerja sesuai kontrak, tetapi tidak memiliki keterikatan ideologis, historis, dan emosional dengan Perserikatan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berbahaya. AUM bisa kehilangan jati diri, dan Muhammadiyah kehilangan kader. Maka, penghargaan ini menjadi pesan moral yang kuat bahwa Muhammadiyah merawat AUM dengan orang-orang yang tepat, yaitu mereka yang ber-Muhammadiyah secara kaffah.
Lebih jauh, penghargaan tersebut juga berfungsi sebagai penyemangat dan teladan. Karyawan AUM akan memahami bahwa loyalitas ideologis, pengabdian organisasi, dan keterlibatan aktif di Perserikatan memiliki nilai yang diakui. Ini bukan tentang mencari fasilitas tambahan, melainkan membangun kebanggaan menjadi kader Muhammadiyah yang utuh: bekerja secara profesional, berorganisasi dengan ikhlas, dan berdakwah dengan konsisten.
Penghargaan ini juga merupakan proses kaderisasi yang sangat tepat. Kader yang aktif di Muhammadiyah akan hafal betul sejarah perjuangan di daerahnya: siapa yang merintis, siapa yang berkorban, dan siapa yang menanamkan fondasi AUM. Kesadaran sejarah ini penting agar mata rantai perjuangan tidak terputus. Tanpa itu, kekecewaan di kalangan generasi pejuang Muhammadiyah dapat terus bermunculan.
Ironi yang sering terdengar, bahkan menyayat hati, adalah kisah pejuang Muhammadiyah yang rela menjaminkan sertifikat rumahnya ke bank demi pengembangan AUM, tetapi anaknya justru merasa tidak mendapat penghargaan, bahkan ditolak bekerja di AUM meski memiliki kompetensi yang sesuai. Nauzubillah.
Kisah semacam ini tidak boleh terus berulang. Muhammadiyah harus hadir dengan kebijakan yang berkeadilan, berkepekaan sejarah, dan berjiwa kaderisasi.
Akhirnya, penghargaan bagi karyawan AUM yang aktif bermuhammadiyah bukanlah bentuk eksklusivitas sempit, melainkan ikhtiar menjaga marwah Perserikatan. Agar AUM tetap menjadi ladang amal, bukan sekadar tempat kerja. Agar Muhammadiyah tetap besar, bukan hanya karena aset, tetapi karena kader-kadernya yang setia, militan, dan berintegritas. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












