
Presiden Prabowo Subianto besok berpidato di Sidang Umum PBB setelah Indonesia sepuluh tahun absen di masa Jokowi. Banyak warga menunggu apakah pidato itu menambah keren nama Indonesia.
Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran
Tagar.co – Selasa, 23 September 2025 besok, Presiden Prabowo Subianto akan berpidato pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Saat ini presiden sudah berada di New York setelah lawatan dari Jepang. Presiden Prabowo tampil pada sesi ketiga setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Brasil Lula da Silva.
Pidato Presiden Prabowo ini merupakan yang pertama kalinya setelah Indonesia absen dalam satu dekade pada saat pemerintah di bawah Presiden Joko Widodo.
Dua hal yang menarik perhatian publik dunia, pertama, Sidang Majelis Umum PBB kali ini dilakukan di saat terjadinya pergeseran konstelasi dunia. Supremasi AS sudah mulai runtuh.
Sekarang pandangan negara-negara di PBB terpecah karena hilangnya konsensus lima negara pemegang hak veto. Keputusan-keputusan mereka sudah tidak bermanfaat bagi masyarakat internasional.
Kontras antara 142 negara yang mendukung kemerdekaan Palestina dan hanya 10 negara yang menolak, termasuk Amerika Serikat, menunjukkan pergeseran dinamika global. Satu lainnya Jepang tiba-tiba menarik dukungan kepada kemerdekaan Palestina.
Bisa dipahami karena Jepang masih trauma dengan dibomnya Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945. Termasuk bebasnya militer AS menduduki satu pulau di Jepang, Okinawa.
Pulau ini berfungsi sebagai pangkalan militer penting bagi Amerika Serikat dengan sekitar 70 persen wilayahnya menjadi pangkalan yang menampung puluhan ribu tentara AS. Ini menjadikan lokasi strategis untuk proyeksi kekuatan di Asia.
Sikap Barat
Perubahan sikap negara-negara Barat terhadap Palestina merupakan tanda-tanda baru dalam konflik Timur Tengah.
Prancis dan Inggris terlihat melawan Netanyahu, karena tindakan Israel dinilai telah melampaui batas nilai-nilai kemanusiaan.
Nilai-nilai modern yang mengutamakan penghormatan terhadap kemanusiaan menjadi landasan bagi perubahan sikap ini.
Negara-negara Eropa seperti Swedia, Irlandia, Norwegia, dan Slovenia telah mengambil langkah berani dengan mengakui Palestina sebagai negara yang harus merdeka.
Di luar Eropa, negara-negara seperti Afrika Selatan, Aljazair, dan Mesir juga lantang menyuarakan hak Palestina di forum internasional.
Dukungan mereka bukan hanya bersifat retoris, tetapi juga diwujudkan dalam berbagai aksi konkret, termasuk bantuan kemanusiaan dan dukungan diplomatik.
Di Asia, negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Pakistan secara konsisten mendukung Palestina.
Dukungan global ini menunjukkan bahwa isu Palestina bukan hanya masalah regional, tetapi juga global yang memerlukan perhatian dan kerja sama internasional untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.
Namun, dalam konteks dukungan yang lebih besar terhadap Palestina, Israel tidak akan diam. Dunia harus waspada terhadap upaya-upaya radikal Israel yang akan terus berjuang melakukan perlawanan dengan berbagai cara untuk menggagalkan kemerdekaan Palestina.
Situasi ini berpotensi memanas dan memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional.
Kiblat Ekonomi Bergeser
Kedua, penampilan Presiden Prabowo di forum internasional itu dilakukan di saat tone keberpihakan ekonomi Indonesia terhadap IMF dan Bank Dunia susah pudar.
Belakangan kiblat Indonesia bergeser keberpihakannya pada BRICS sebagai langkah memperkuat posisi ekonomi global.
Indonesia resmi bergabung dengan BRICS pada Januari 2024 menandai pergeseran signifikan dalam kebijakan luar negeri dan ekonomi negara.
BRICS adalah organisasi antar-pemerintah yang fokus pada kerja sama ekonomi dan politik global, terdiri dari 10 negara anggota, yaitu Brazil, Rusia, India, Cina, South Africa, Indonesia, Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab.
Dengan bergabungnya Indonesia di BRICS, negara ini dapat memanfaatkan potensi kerja sama ekonomi dan politik yang lebih luas, serta meningkatkan pengaruhnya dalam forum internasional.
Pertanyaan besarnya dengan bergabungnya Indonesia ke BRICS yang condong ke Tiongkok dan Rusia akan menjadikan seteru baru AS terhadap Indonesia di PBB. Kita tunggu sikap AS berikutnya.
Pertanyaan kedua, momentun melemahnya supremasi AS dalam rangka pengambilan keputusan terhadap kemerdekaan Palestina akan menjadi kenyataan?
Yang jelas waktu sisa sehari ini adalah ruang pendek yang memungkinkan perubahan konstelasi berpihak pada kemerdekaan Palestina atau justru terjadi sebaliknya.
Kita tunggu seberapa besar dinamika Sidang Umum PBB menyelesaikan perang Israel-Palestina menjadi dua negara yang berdamai. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












