
PPIC eLKISI Mojokerto bersama Dewan Dakwah memberangkatkan 272 dai muda dalam program Praktik Dakwah Ramadan 1447 ke berbagai wilayah di Indonesia hingga Singapura dan Timor Leste untuk memperkuat dakwah dan pendampingan masyarakat.
Tagar.co — 272 dai muda resmi dilepas dalam program Praktik Dakwah Ramadan (PDR) 1447/2026 di Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) eLKISI Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Senin (16/2/26).
Mereka akan bertugas di berbagai wilayah Indonesia hingga luar negeri, membawa misi dakwah sekaligus pendampingan sosial di tengah masyarakat.
Para peserta diberangkatkan ke sejumlah daerah seperti Jawa Timur, Kalimantan Barat, Lombok, serta wilayah perbatasan di Nusa Tenggara Timur, termasuk Atambua dan Kupang. Sebagian lainnya akan menjalankan tugas di Singapura dan Timor Leste. Untuk daerah dengan akses terbatas, beberapa dai telah diberangkatkan lebih awal melalui jalur laut.
Baca juga: Santri eLKISI Mojokerto Berangkat Dakwah ke NTT dan Timor Leste
Acara pelepasan dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto Amsar Azhari Siregar, Wakil Ketua Dewan Dakwah Islamiah Indonesia Dr. Misbahul Anam, serta ulama internasional Syekh Dr. Magdi Ali Abdul Magied.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kaderisasi dakwah yang dijalankan secara terstruktur oleh pesantren dan Dewan Dakwah.
Rangkaian pelepasan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ahmad Syahab Royyan yang melantunkan ayat secara tartil. Pembacaan ini menjadi pembuka sekaligus penegasan bahwa gerakan dakwah berangkat dari wahyu dan berlandaskan nilai-nilai Ilahiyah.

Dakwah sebagai Kewajiban Syar’i
Dalam tausiahnya, Pengasuh PPIC eLKISI Mojokerto, K,H. Dr. Fathur Rohman, mengingatkan firman Allah Swt. dalam Surah An-Nahl 125 tentang seruan berdakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog dengan cara terbaik.
Dia menegaskan bahwa dakwah bukan pilihan, melainkan kewajiban syar’i. “Dakwah itu bukan pilihan, tetapi kewajiban. Ada dakwah bil-lisan, bil-kalam, dan bil-hal. Semua harus berjalan sinergis,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam kaderisasi dai.
“Pesantren membina secara sistematis, tetapi rumah adalah madrasah pertama. Orang tua harus terlibat dalam membentuk kader-kader dai yang kuat iman dan akhlaknya,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan bahwa eLKISI kini telah menjadi cabang resmi Al-Azhar University Kairo, Mesir.
Sejumlah alumninya juga telah diterima di berbagai kampus internasional di Libya dan Maroko. Hal ini menunjukkan bahwa visi pendidikan eLKISI tidak hanya lokal, tetapi berorientasi global.

Dai Harus Jadi Tabib Umat
Misbahul Anam, dalam sambutannya menyampaikan kebanggaan kepada para kader yang siap terjun ke tengah masyarakat. Menurutnya, peran dai tidak cukup sebatas menjadi penceramah, tetapi harus mampu memahami persoalan masyarakat dan hadir membawa solusi.
“Saya bangga kepada anak-anak yang siap menjadi dai muda. Kalian bukan sekadar khatib atau penceramah. Dai itu harus mampu membaca realitas,” tegasnya.
“Dai itu laksana tabib yang mendiagnosis penyakit masyarakat, lalu memberikan terapi yang tepat. Jangan hanya pandai berbicara, tetapi tidak memahami problem umat,” katanya.
Ia menambahkan, dai perlu hadir sebagai mantri di tengah masyarakat — figur yang mendampingi, membimbing, dan memberikan solusi konkret atas problem sosial, moral, dan keagamaan.
“Jadilah dai yang solutif. Ketika ada konflik, hadirkan rekonsiliasi. Ketika ada kegelisahan, hadirkan ketenangan,” pesannya.
Program kaderisasi Dewan Dakwah sendiri dilakukan secara berjenjang. Untuk wilayah Jawa Timur, pembinaan dilaksanakan melalui ADI, sedangkan skala nasional berada di bawah Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Mohammad Natsir (STID Moh. Natsir) yang dikelola Dewan Dakwah Pusat.

Titipan Amanah dari Wali Santri
Mewakili wali santri, Heru Arroyanu menyampaikan rasa bangga atas keberangkatan para dai muda.
“Kami sebagai orang tua merasa bangga melihat putra-putri kami dipercaya untuk berdakwah di berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri. Ini amanah besar,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa para wali santri mendukung penuh proses kaderisasi yang dijalankan pesantren dan Dewan Dakwah.
“Kami titip putra-putri kami. Semoga mereka diberi kekuatan, keikhlasan, dan mampu menjaga nama baik lembaga serta memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat,” tambahnya. (#)
Jurnalis Muhammad Hidayatulloh Penyunting Mohammad Nurfatoni












