Opini

Pesantren di Tengah Badai Opini: Antara Fakta, Framing, dan Kebencian Digital

55
×

Pesantren di Tengah Badai Opini: Antara Fakta, Framing, dan Kebencian Digital

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni

Ketika linimasa berubah jadi ruang penghakiman, pesantren kembali diuji bukan oleh kemiskinan atau keterbatasan, melainkan oleh persepsi publik yang kehilangan empati. Di saat warganet menghujat, santri tetap berdoa.

Oleh Sadidatul Azka, Mahasantri Pengabdian ADI Jatim

Tagar.co – Di media sosial hari-hari ini, linimasa kita semakin penuh dengan ujaran kebencian yang diarahkan kepada pesantren, santri, bahkan para kiai. Fenomena ini terasa makin menyedihkan ketika komentar-komentar itu lahir bukan dari pemahaman, melainkan dari prasangka dan kebodohan digital.

Sejak tragedi robohnya bangunan musala di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, pandangan masyarakat terhadap dunia pesantren seolah berubah drastis. Banyak yang langsung menuding, mencemooh, bahkan merendahkan tanpa pernah mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik peristiwa itu.

Baca juga: Tragedi Al-Khoziny: Antara Takdir, Kelalaian, dan Krisis Cara Berpikir Umat

Padahal, kejadian tersebut tentu tidak sesederhana kesalahan lembaga pesantren semata. Ada banyak faktor: teknis, struktural, hingga kebijakan pembangunan.

Namun sayangnya, masyarakat yang haus sensasi lebih cepat menyalahkan daripada mencari kebenaran. Sejak saat itu, muncul gelombang ujaran yang menghakimi pesantren — dan ironisnya, yang paling lantang justru mereka yang tidak pernah sekalipun merasakan hidup di lingkungan pesantren.

Baca Juga:  Ramadan di Ujung Waktu: Belajar Menahan, Belajar Bertahan

Pesantren: Pilar Sejarah yang Kini Dihina

Sungguh miris, ketika pesantren yang selama ratusan tahun menjadi pilar pendidikan Islam di Indonesia kini justru dinilai buruk oleh sebagian rakyatnya sendiri.

Apakah mereka lupa bahwa Indonesia merdeka tak lepas dari peran santri dan para kiai? Bahwa Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh K.H. Hasyim Asy’ari di Surabaya pada 22 Oktober 1945 adalah bara semangat kemerdekaan yang membakar jiwa bangsa ini?

Bahwa dari bilik-bilik pesantrenlah lahir tokoh-tokoh pejuang dan ulama yang menjaga keutuhan negeri ini dengan ilmu dan keikhlasan?

Namun hari ini, sebagian masyarakat justru memandang pesantren dengan kacamata sempit: dianggap kolot, tertinggal, bahkan dicurigai.

Betapa dangkal pandangan itu. Betapa menyesakkan ketika generasi yang lahir dari rahim kemerdekaan malah melupakan siapa yang ikut melahirkan bangsa ini.

Media dan Kejatuhan Empati Publik

Kehancuran moral publik tidak selalu dimulai dari perbuatan dosa besar; kadang ia lahir dari kehilangan empati dalam melihat sesama. Media sosial menjadi ruang yang melipatgandakan suara tanpa menimbang makna.

Potongan video, keterangan provokatif, dan komentar tanpa dasar kini menjadi “fakta baru” di mata publik.

Baca Juga:  Mudik Penuh Kejutan: Bus Oleng, Hujan Menghadang, dan Rumah yang Menunggu

Kasus tayangan Trans7 melalui program Xpose Uncensored yang menyoroti kehidupan pesantren dengan narasi merendahkan memperparah luka yang belum sembuh.

Tayangan itu menampilkan kehidupan santri dengan nada sinis, seolah pesantren hanyalah tempat orang tertindas dan kiai hidup berlimpah harta. Dalam sekejap, muncul tagar #BoikotTrans7, dan jutaan orang kembali memperdebatkan eksistensi pesantren.

Tapi ironinya, di tengah amarah itu, banyak pula warganet yang malah semakin membenci pesantren—bukan karena tahu, tetapi karena tersesat oleh framing media.

Umat Islam yang Hilang Rohnya

“Apa yang terjadi dengan umat Islam di Indonesia?”

Pertanyaan ini seakan menggema di hati setiap orang yang masih mencintai nilai-nilai Islam dan tradisi pesantren.

Mengapa umat Islam kini mudah diadu domba oleh opini? Mengapa mudah tersulut kebencian terhadap saudara sendiri?

Apakah kita hanya Muslim di KTP, tapi mati rasa di hati?

Islam mengajarkan tabayun—klarifikasi sebelum menilai, menelusuri kebenaran sebelum menghakimi. Namun realitasnya, sebagian umat lebih cepat memencet tombol share daripada membuka hati untuk memahami.

Akibatnya, pesantren—tempat lahirnya ilmu, akhlak, dan kebijaksanaan — justru menjadi sasaran olok-olok.

Baca Juga:  Diingat Guru setelah Sewindu: Kehormatan yang Tak Tertulis

Refleksi: Kembali ke Akar Iman dan Akal Sehat

Bangsa ini kehilangan banyak hal: empati, hormat kepada guru, dan kesadaran sejarah. Pesantren bukanlah lembaga sempurna; ia juga bisa salah, bisa khilaf.

Tapi membenci pesantren berarti membenci akar peradaban Islam di Nusantara.
Jika kita ingin bangsa ini kuat, maka hormatilah pesantren—bukan sekadar karena sejarahnya, tetapi karena di sanalah ruh bangsa ini ditempa dengan ilmu, kesabaran, dan doa.

Ya Allah, ada apa dengan bangsa Indonesia?

Mengapa mereka begitu cepat menuduh dan begitu lambat memahami?
Mungkin karena kita lebih sibuk mencari kesalahan orang lain daripada memperbaiki diri sendiri.

Ujian terbesar pesantren hari ini bukan lagi pada kemiskinan atau keterbatasan fasilitas, melainkan pada ujian citra dan persepsi publik. Namun seperti halnya sejarah, pesantren selalu mampu bertahan — bukan dengan amarah, tetapi dengan kesabaran dan ilmu.

Karena sejatinya, hujatan warganet akan berlalu, tetapi doa para kiai dan santri akan tetap mengalir, menegakkan langit keimanan bangsa ini agar tak runtuh oleh kebencian. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni