
Tragedi robohnya musala di Pondok Pesantren Al-Khoziny bukan hanya soal takdir, tetapi juga cermin kelalaian dan krisis cara berpikir umat dalam memaknai iman dan tanggung jawab.
Oleh Sadidatul Azka, Mahasantri Pengabdian ADI Jatim
Tagar.co – Suara lantunan doa menjelang Asar di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, tiba-tiba berubah menjadi kepanikan. Di penghujung September lalu, musala yang tengah dalam proses pengecoran lantai atas mendadak roboh. Puluhan santri tertimbun reruntuhan beton dan besi.
Tim SAR, BPBD, dan relawan berjibaku mengevakuasi korban di tengah kondisi bangunan yang tak stabil. Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, tetapi juga potret bagaimana kelalaian manusia dan keyakinan pada takdir sering kali dipahami secara keliru.
Baca juga: Pelajaran Pahit dari Tragedi Robohnya Musala Ponpes Al-Khoziny
Dalam setiap musibah, umat beriman akan spontan berkata, “Semua ini sudah takdir Allah.” Benar, tidak ada yang terjadi di luar kehendak-Nya. Namun, keyakinan terhadap takdir tidak boleh membuat manusia menutup mata terhadap tanggung jawab.
Islam tidak pernah memerintahkan kita untuk pasrah tanpa usaha. Sebaliknya, Allah justru memerintahkan agar manusia berikhtiar dan berhati-hati sebelum menyerahkan hasilnya kepada takdir.
Maka ketika sebuah bangunan runtuh karena kesalahan perhitungan teknis atau lemahnya pengawasan, itu bukan semata-mata “takdir”; di dalamnya ada unsur kelalaian yang harus diakui dan diperbaiki.
Fakta-fakta yang terungkap menunjukkan bahwa bangunan di Al-Khoziny sedang dalam tahap pengecoran ketika musibah terjadi. Fondasi tidak cukup kuat menopang beban, dan proses pembangunan belum sepenuhnya memenuhi izin maupun standar keamanan.
Dalam semangat membangun fasilitas pondok yang lebih layak, mungkin niatnya baik, tetapi kehati-hatian teknis tampaknya kurang diperhatikan. Akibatnya, niat yang baik berubah menjadi musibah besar yang merenggut nyawa santri, anak-anak muda yang datang untuk menimba ilmu dan beribadah.
Tragedi ini seharusnya tidak dihadapi dengan saling menyalahkan, tetapi juga tidak diselesaikan hanya dengan kalimat, “Itu sudah kehendak Allah.” Karena iman bukan alasan untuk berhenti belajar dari kesalahan.
Justru di situlah letak ujian sejati: berani mengevaluasi diri, memperbaiki sistem, dan menegakkan tanggung jawab agar tak ada lagi korban di masa depan.
Jika dalam dunia industri atau pendidikan umum ada standar keselamatan, maka pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam juga harus menegakkan prinsip yang sama. Keselamatan santri adalah amanah besar yang tidak boleh diabaikan.
Tanpa Konteks
Yang menyedihkan, di tengah duka itu, muncul gelombang komentar di media sosial yang menuding pesantren memperlakukan santri seperti “babu” atau “pekerja tanpa bayaran”. Banyak orang yang tidak memahami kehidupan pondok, menilai dari luar tanpa konteks.
Padahal, membantu kegiatan pondok, membersihkan lingkungan, atau menolong kiai bukanlah bentuk perbudakan, tetapi bagian dari pendidikan karakter. Santri dilatih mandiri, belajar tanggung jawab, dan memahami nilai pengabdian.
Mereka tidak bekerja untuk dihina, tetapi berkhidmah demi keberkahan. Budaya “ngabdi” di pesantren bukan eksploitasi, melainkan latihan jiwa agar kelak mereka siap terjun ke masyarakat dengan mental kuat dan hati yang ikhlas.
Namun begitu, pembelaan terhadap nilai pengabdian tidak boleh menghapus kesadaran akan batas. Mengajar santri mandiri tidak berarti melibatkan mereka dalam pekerjaan berisiko tinggi tanpa pengawasan ahli.
Di sinilah keseimbangan itu diuji. Pesantren harus tetap menjadi tempat aman bagi santri menimba ilmu, bukan arena bahaya yang bisa mengancam nyawa. Kesederhanaan boleh dijunjung, tetapi keselamatan tetap nomor satu.
Peristiwa ini juga menyingkap sisi lain dari kondisi umat Islam Indonesia hari ini: munculnya sikap saling curiga dan rasa malu terhadap identitas keagamaan sendiri. Tidak sedikit orang yang justru mencibir pesantren dan santri sebagai “terlalu religius” atau “berlebihan dalam beragama”.
Padahal, pesantren selama ratusan tahun menjadi benteng moral bangsa, melahirkan ulama, pemimpin, dan pendidik yang berperan besar dalam sejarah negeri ini.
Ketika umat Islam sendiri mulai menjauh dan mencurigai nilai-nilai agamanya, maka sebenarnya yang sedang roboh bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga fondasi iman dan pemikiran.
Dua Cermin
Tragedi Al-Khoziny memberi kita dua cermin. Cermin pertama menunjukkan bahwa niat baik tanpa kehati-hatian bisa berbuah petaka. Cermin kedua memperlihatkan bagaimana cara berpikir umat ini mulai bergeser: sebagian cepat menuduh, sebagian lagi enggan introspeksi.
Padahal, Islam tidak mengajarkan ekstrem di kedua sisi itu. Agama ini menuntun kita untuk seimbang, beriman kepada takdir, tetapi juga bertanggung jawab atas sebab-sebab yang kita buat.
Runtuhnya bangunan di Al-Khoziny adalah luka yang dalam. Tapi dari reruntuhan itu, semestinya lahir kesadaran baru: bahwa iman, ilmu, dan amanah harus berjalan beriringan. Takdir memang milik Allah, namun ikhtiar dan kehati-hatian adalah bukti cinta kita kepada-Nya.
Jika pesantren ingin tetap menjadi pelita peradaban, maka keselamatan, tanggung jawab, dan nilai kemanusiaan harus menjadi bagian dari cahaya itu. Karena keikhlasan tanpa ilmu bisa menimbulkan bahaya, dan ilmu tanpa keikhlasan hanya melahirkan kesombongan.
Islam mengajarkan keduanya harus berjalan bersama agar tak ada lagi nyawa yang hilang sia-sia di tempat yang seharusnya menjadi sumber berkah dan keselamatan. (#)
Penyunitng Mohammad Nurfatoni












