
Muhammadiyah tak hanya dampingi saat tanggap darurat bencana, tapi juga proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Muhammadiyah terus hadir memberikan solusi nyata bagi masyarakat dan bangsa
Tagar.co – Aula Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Yogyakarta menjadi tempat pelaksanaan Rapat Koordinasi (Rakor) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), Selasa (23/12/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. menghimbau Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) untuk terus berperan aktif dalam usaha penanggulangan bencana banjir yang melanda di Aceh dan Sumatera.
“PTMA merupakan bagian integral dari One Muhamadiyah One Response (OMOR) yang digalakkan Muhammadiyah dalam penanganan bencana di Aceh dan Sumatera. Muhammadiyah harus terus menunjukkan peran aktif dan terus bergerak membantu saudara-saudara sebangsa yang menjadi korban bencana alam. Perjalanan masih panjang karena tahap rehabilitasi dan rekonstruksi menuntut peran aktif kita. Maka kita harus terus bergerak,” ungkap Haedar dikutip dari muhammadiyah.or.id, Rabu (24/12).
Bencana Domestik dan Internasional
Sejarah panjang Muhammadiyah dalam menangani isu bencana alam di lingkup domestik maupun internasional, Haedar meyakini bahwa Muhammadiyah saat ini semakin menunjukkan kemajuannya dalam mengambil peran lebih bagi masyarakat terdampak bencana.
“Dana terkumpul yang telah tercapai dari hasil penggalangan (infak Jumat) warga Perserikatan untuk korban terdampak bencana telah menyentuh angka 39 miliar rupiah lebih. Dengan dukungan luar biasa dari warga perserikatan dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), tentu ini menjadi modal sekaligus pendorong optimisme bagi Muhammadiyah untuk terus berdampak lebih serta meningkatkan perolehan hasil penggalangan yang selama ini telah berjalan selama kurang lebih 3 pekan,” paparnya.
“Kita sekarang sudah tidak lagi berada di posisi pinggir. Semua lembaga dan masyarakat telah menempatkan kita sebagai organisasi yang ada di garda terdepan dalam segi pengalaman dan kemampuan. Maka, ini adalah satu tantangan nyata bagi kita untuk wujudkan semua itu dengan sebaik-baiknya,” tambahnya.
Sinergi dan Kolaborasi
Dia menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi seluruh AUM, khususnya PTMA dan Rumah Sakit Muhammadiyah Aisyiyah (RSMA). Hal ini berguna supaya kedepan AUM dapat memiliki skema yang baik dalam mengakselerasi langkah tanggap darurat kedepan.
“PTMA dan RSMA itu ibaratkan sayap bagi Muhammadiyah, maka ini harus bergerak beriringan. SDM dari amal usahanya begitu luar biasa dan itu patut terus dimaksimalkan dan etos kemajuan ini perlu kita bangkitkan bersama untuk melahirkan spiritualitas yang dapat mendorong untuk bangkit,” ajaknya.
Di bagian akhir, Haedar menegaskan, PTMA memiliki fungsi yang baik untuk menghadirkan pusat-pusat kajian akademis yang nantinya akan bisa berdampak untuk sektor kebijakan di negeri ini. Maka, dia mengimbau agar PTMA dapat melakukan kajian-kajian strategis yang selaras dengan visi dan kiprah dari perserikatan.
“PTMA bisa menjadi pusat-pusat pengkajian yang bersifat akademis dan inisiatif yang perlu lahir dari kita. Maka, komunikasi antara PTMA dan PP Muhammadiyah perlu terus dilakukan agar kajian yang dihasilkan kedepan dapat selaras dengan visi dan kiprah-kiprah persyarikatan,” pesannya.
Dengan komitmen kolektif tersebut, Muhammadiyah melalui PTMA dan seluruh AUM diharapkan mampu untuk terus memperkuat peran strategisnya dalam penanggulangan bencana. Tidak hanya pada tahap tanggap darurat, tetapi juga dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Sinergi keilmuan, kemanusiaan, dan spiritualitas kemajuan menjadi modal penting bagi Muhammadiyah untuk terus hadir memberikan solusi nyata bagi masyarakat dan bangsa. (#)
Jurnalis Sugiran.












