Telaah

Menyingkap Makna Mendalam di Balik Ucapan Insyaallah

60
×

Menyingkap Makna Mendalam di Balik Ucapan Insyaallah

Sebarkan artikel ini
Ridwan Ma’ruf

Ucapan insyaallah menyimpan pengakuan akan keterbatasan manusia, prasangka baik kepada Allah, dan kesadaran bahwa semua terjadi hanya dengan izin-Nya. Lebih dari sekadar kata, ia adalah pengikat janji antara hamba dan Tuhannya.

Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiya  (PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.

Tagar.co – Kata insyaallah secara bahasa bermakna “jika Allah menghendaki”. Kata ini sering dipakai seseorang tanpa mengetahui makna yang sebenarnya sehingga berpotensi melanggar janji yang telah disepakati.

Baca juga: Egoisme: Penghalang Kearifan Hati

Tidak semua pengucap kata insyaallah berniat untuk mengingkari janji. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 23–24:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok pagi,’ kecuali (dengan mengatakan), ‘insyaallah.’ Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku agar aku lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.’”

Baca Juga:  Ucapan Lebaran yang Lebih Dekat dengan Sunah

Ayat ini mengandung makna betapa pentingnya mengingat Allah dalam setiap niat dan rencana, bahwa segala sesuatunya terjadi atas kehendak Allah Swt.

Maka di balik kata insyaallah terkandung rahasia agung dan makna mendalam, di antaranya:

1. Optimisme dan Prasangka Baik kepada Allah

Mengandung harapan dan prasangka baik kepada Allah. Dengan mengucapkan ini, seseorang meyakini bahwa Allah akan memberikan yang terbaik, meskipun hasilnya belum pasti. Dalam hadis qudsi Nabi Saw. bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

“Allah Ta‘ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (yakni para malaikat).” (Muttafaq ‘alaih)

Berbaik sangka kepada Allah membantu menjaga kedamaian hati, bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari rencana terbaik Allah. Dengan begitu, hati akan lebih tenang dan tidak mudah stres.

Baca Juga:  Iqra dan Kalam, Revitalisasi Tradisi Peradaban

2. Manusia Berencana, tetapi Allah yang Menentukan

Kata insyaallah bermakna pengakuan atas kelemahan seorang hamba di hadapan Allah. Perencanaan dan kerja manusia pada akhirnya bermuara kepada keputusan Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam surah An-Nisa’ ayat 28:

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Allah menghendaki meringankan kalian dalam hukum-hukum agama, sementara manusia diciptakan dalam kondisi lemah.”

Maksud ayat tersebut adalah bahwa manusia mudah dipengaruhi hawa nafsu dan berpotensi inkonsisten dalam melaksanakan rencana yang telah disepakati.

3. Puncak Kesadaran Tauhid

Bahwa hanya Allah tempat bergantung segala sesuatu. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Ikhlas ayat 2:

ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.”

Makna ayat tersebut: Dialah Allah Ta‘ala yang diserahi untuk mengabulkan segala kebutuhan, karena hanya Dia yang mampu mengabulkannya.

4. Kesadaran akan Qada dan Kadar

Insyaallah erat kaitannya dengan konsep qada dan qadar, yang mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan ketentuan Allah. Firman-Nya dalam surah Yasin ayat 82:

Baca Juga:  Krisis BBM dan Seruan WFH Menurut Kaidah Fikih 

إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia.”

Makna ayat tersebut: jika Allah menentukan sesuatu, maka hal itu akan terwujud dengan cepat.

Oleh karena itu, jika seseorang ingin terkabul hajatnya, hendaklah ia berkata insyaallah agar apa yang diharapkannya terwujud, karena hal itu hanya terjadi dengan kehendak Allah. Wallāhua‘lambisawāb.

Penyunting Mohammad Nurfatoni