Telaah

Ucapan Lebaran yang Lebih Dekat dengan Sunah

154
×

Ucapan Lebaran yang Lebih Dekat dengan Sunah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Freepik/AI

Ucapan Lebaran ini bukan sekadar tradisi. Di baliknya tersimpan doa, sunah, dan harapan besar—apakah amal kita benar-benar diterima setelah Ramadan berakhir?

Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah  (PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.

Tagar.co – Ucapan “Taqabbalallahu minna waminkum” merupakan bentuk tahniah yang lebih sesuai dengan sunnah dibandingkan sekadar ungkapan populer seperti “Minal aidin walfaizin”, yang maknanya lebih umum. Kalimat ini mengandung doa yang sangat spesifik, yaitu memohon agar Allah menerima amal ibadah kita dan orang lain.

Apabila seseorang mengucapkan “Taqabbalallahu minna waminkum”, kita dapat menjawab dengan kalimat yang sama atau menambahkan doa: “Minna wa minkum taqabbal ya karim” (Wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah amal kami dan kalian).

Baca juga: Lebaran Berbeda: Pemerintah Tetapkan 21 Maret 2026, Muhammadiyah Sehari Lebih Dulu

Ucapan ini bukan tradisi baru. Ia telah menjadi bagian dari praktik para sahabat Nabi ﷺ. Al-Hafidz Ibnu Hajar meriwayatkan dengan sanad hasan dari Jubair bin Nufair bahwa para sahabat Rasulullah ﷺ, ketika bertemu pada hari raya, saling mengucapkan:

Baca Juga:  Menemukan Ketenangan dalam Sunah Tarawih

“Taqabbalallahu minna wa minka.” (Semoga Allah menerima amalan kami dan darimu)

Dalam literatur lain, Ibnu Qudamah dalam Al-Mugni menyebutkan bahwa para sahabat, seperti Abu Umamah Al-Bahili dan lainnya, juga saling mengucapkan kalimat serupa setelah melaksanakan salat Id.

Bahkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa menjelaskan bahwa ucapan selamat hari raya seperti ini memiliki dasar dari praktik para sahabat. Namun, Imam Ahmad memberikan catatan menarik: beliau tidak memulai ucapan tersebut, tetapi akan menjawab jika ada yang mengucapkannya terlebih dahulu.

Hal ini menunjukkan bahwa mengucapkan tahniah bukan kewajiban untuk memulai, tetapi menjawabnya adalah bentuk adab yang dianjurkan.

Makna Spiritual di Balik Ucapan Tahniah

Ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum” bukan sekadar formalitas, melainkan sarat dengan nilai spiritual yang dalam, khususnya pada momen Idulfitri dan Iduladha.

1. Spirit Kebersamaan dan Ukhuah

Penggunaan kata “kami” dan “kalian” mencerminkan nilai kolektif dalam Islam. Amal tidak hanya bersifat individual, tetapi juga menjadi bagian dari kebersamaan umat. Ucapan ini memperkuat ikatan persaudaraan saat momen silaturahmi.

Baca Juga:  Suara Merdu Imam: Terapi Jiwa di Balik Kekhusyukan Salat Berjemaah

2. Harapan dan Optimisme (Rajak)

Kalimat ini mengandung harapan besar agar seluruh ibadah selama Ramadan—puasa, salat, sedekah, dan amalan lainnya—diterima oleh Allah SWT. Karena itu, ucapan ini seharusnya disampaikan dengan penuh kesungguhan.

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (Tirmizi)

3. Motivasi untuk Istikamah

Ucapan ini juga menjadi pengingat agar kebaikan yang telah dilakukan selama Ramadan tidak berhenti begitu saja. Justru, ia menjadi titik awal untuk konsistensi dalam beramal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.” (Muslim)

Catatan tentang Ucapan Lain

Adapun ucapan seperti “Kullu ‘aamin wa antum bikhair” yang juga sering digunakan, tidak memiliki dasar nash yang tegas. Oleh karena itu, sebagian ulama memandang bahwa ucapan yang berasal dari praktik sahabat lebih utama untuk diamalkan.

Kesimpulan

Ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum” merupakan tahniah yang dianjurkan karena memiliki landasan dari praktik para sahabat Nabi ﷺ. Selain bernilai pahala, ucapan ini juga mengandung doa, memperkuat ukhuwah, serta menjadi syiar Islam.

Baca Juga:  Lebaran tanpa Manhaj, Hari Ini Buka Puasa Besok Salat Idulfitri

Lebih dari sekadar tradisi, kalimat ini adalah pengingat bahwa tujuan utama ibadah adalah diterimanya amal oleh Allah SWT. Wallahualam. (#)

Jurnalis