
Kecerdasan buatan telah mengubah wajah pendidikan secara drastis. Namun, di tengah kemajuan teknologi yang semakin canggih, pendidikan akhlak tetap menjadi fondasi utama agar manusia tidak kehilangan empati, tanggung jawab, dan nilai kemanusiaannya.
Oleh Hanif Asyhar, S.HI., M.Pd.l; Praktisi Parenting Nasional dan Konsultan Pengembang Pendidikan.
Tagar.co – Masa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mampu mengubah peta pendidikan secara fundamental. Pada tahun 2026, AI tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi telah menjadi mitra belajar yang mendominasi, mempersonalisasi materi, serta meningkatkan efisiensi pembelajaran.
Meskipun kita merasakan kemudahan akses teknologi yang sangat cepat, terdapat tantangan serius yang harus dihadapi dalam dunia pendidikan, yakni pendangkalan karakter, ketergantungan pada mesin, dan hilangnya empati. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan berbasis akhlak menjadi mutlak diperlukan agar teknologi AI tetap menjadi pelayan manusia, bukan tuan yang mengendalikan.
Baca juga: Menyiapkan Anak Tangguh lewat Kisah Teladan Islami
Pendidikan di era kecerdasan buatan menghadapi tantangan ganda, yaitu kecanggihan kognitif yang nyaris tak terbatas serta risiko degradasi nilai kemanusiaan. Ketika mesin memiliki kemampuan berpikir jauh lebih cepat daripada manusia, urgensi pendidikan berbasis akhlak menjadi kebutuhan krusial sebagai kompas moral yang menjaga agar teknologi tetap menjadi sarana kemaslahatan, bukan penghancur tatanan etika.
Dominasi Algoritma terhadap Akhlak
Menyusun esai, menjawab persoalan logika, hingga menciptakan karya seni kini mampu dilakukan oleh AI. Namun, AI tidak memiliki hati (damir) dan integritas. Oleh karena itu, pendidikan berbasis akhlak hadir untuk mengisi kekosongan yang tidak mampu diberikan oleh baris kode mana pun.
Dalam perspektif Islam, pendidikan bukan sekadar transfer informasi (transfer of knowledge), melainkan proses pembentukan karakter (tazkiatun nafs). Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (Ahmad dan Al-Adab al-Mufrad).
Hadis di atas menunjukkan bahwa puncak pencapaian intelektual manusia, termasuk kemampuan menciptakan teknologi secanggih AI, harus bermuara pada keluhuran budi pekerti.
High-Tech dan High-Touch Harus Seimbang
Pendidikan di era AI harus bertransformasi dari sekadar apa yang diketahui menjadi bagaimana menggunakannya secara benar dan bertanggung jawab. Howard Gardner dalam teori Five Minds for the Future menyebutkan adanya The Ethical Mind. Ia berpendapat bahwa di masa depan, kemampuan teknis akan kalah penting dibandingkan kemampuan seseorang untuk bertindak secara bertanggung jawab demi kepentingan masyarakat luas.
Dalam konteks akhlak, hal ini selaras dengan konsep adab sebelum ilmu. Para ulama terdahulu, seperti Imam Malik, berpesan, “Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari ilmu.”
Di era digital, adab tersebut dapat diterjemahkan menjadi etika digital (digital ethics), yang meliputi:
1. Tabayyun (Verifikasi)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan yang akhirnya membuat kamu menyesal.” (Al-Hujurat: 6).
Oleh karena itu, ketika menggunakan AI untuk mencari informasi, manusia harus tetap kritis terhadap kebenarannya agar tidak menyebarkan fitnah maupun hoaks.
2. Keadilan (Justice)
Sebagai manusia yang beriman dan berakal, kita menyadari bahwa AI memiliki bias data. Karena itu, manusia harus tetap adil dalam mengambil keputusan berdasarkan keluaran mesin.
3. Kemanusiaan (Ihsan)
Kita harus memastikan bahwa penggunaan teknologi selalu bertujuan memberi manfaat (rahmatan lil ‘alamin), bukan menjadi alat diskriminasi ataupun penghancuran martabat manusia.
Peran Guru di Era AI
Di era AI, guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi. Namun, guru tetap menjadi sumber inspirasi akhlak (uswatun hasanah). Mesin dapat memberikan data, tetapi tidak dapat menghadirkan empati, kasih sayang, maupun teladan kesabaran.
Secara sosiologis, Albert Bandura dalam Social Learning Theory menyatakan bahwa manusia belajar melalui observasi terhadap perilaku orang lain. Jika pendidikan hanya diserahkan kepada layar dan algoritma, generasi mendatang akan kehilangan teladan manusiawi dalam kehidupan sosialnya.
Oleh karena itu, pendidikan berbasis akhlak memastikan bahwa interaksi manusia tetap menjadi inti proses pembelajaran, tempat nilai-nilai seperti hormat (ta’zim), kerja sama, dan kepedulian dipraktikkan secara nyata.
Integrasi antara kecanggihan AI dan pendidikan akhlak merupakan sebuah keniscayaan. Kita tidak boleh menolak teknologi, tetapi juga tidak boleh membiarkan teknologi mendikte sisi kemanusiaan kita. AI merupakan alat yang sangat kuat, namun tanpa kendali akhlak, ia dapat menjadi pedang yang melukai penggunanya.
Pendidikan masa depan harus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga bijak secara spiritual. Sesuai visi Islam tentang keseimbangan dunia dan akhirat, teknologi harus digunakan sebagai wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik melalui pengabdian kepada sesama manusia.
Dengan menempatkan akhlak sebagai fondasi, kecerdasan buatan tidak akan menggantikan peran manusia, melainkan memperkuat martabat manusia sebagai khalifah fil ardh yang membawa kedamaian serta kemajuan yang beretika. (#)
Penyunng Mohammad Nurfatoni












