Feature

Menggali Kecerdasan Spiritual ala Nabi Ibrahim di Kajian Ahad Pagi PCM Sedati

54
×

Menggali Kecerdasan Spiritual ala Nabi Ibrahim di Kajian Ahad Pagi PCM Sedati

Sebarkan artikel ini
Kajian Ahad Pagi PCM Sedati penuh makna, bahas cara Nabi Ibrahim membangun iman lewat logika dan kecerdasan spiritual.
Para jamaah Kajian Ahad Pagi tampak khusyuk menyimak materi (Tagar.co/Istimewa)

Kajian Ahad Pagi PCM Sedati penuh makna, bahas cara Nabi Ibrahim membangun iman lewat logika dan kecerdasan spiritual.

Tagar.co — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sedati, Sidoarjo, menggelar Kajian Ahad Pagi, yang berlangsung khidmat dan penuh makna, Ahad (16/6/25).

Kajian yang diadakan sebulan sekali dan bergantian dari ranting ke ranting, itu kali ini bertempat di Masjid Al Islam PRM Sedati Gede. Kajian dihadiri lebih dari 70 jamaah, baik laki-laki maupun perempuan.

Mengawali acara, sambutan ketua PCM Sedati Ir. Arifin Hariyanto. Dalam penyampaiannya, dia menekankan pentingnya penguatan nilai spiritual dan akal sehat dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.

Hadir sebagai narasumber atau pemateri kajian Dr. Ir. Jamaaluddin MM, dosen Universitas Muhammadiyah Sidoaarjo (Umsida). Tema kajian yang dibawakan “Teladan Ibrahim As: Pintu Gerbang Kecerdasan Spiritual”.

Dalam ceramahnya, Dr.Ir. Jamaaluddin, MM, menguraikan soal kecerdasan spiritual bukan sekadar ritual, tetapi sebuah kemampuan mendalam untuk memahami makna hidup. “Termasuk menjalin hubungan erat dengan Allah dan menjalani hidup dengan nilai-nilai moral yang tinggi,” ujarnya.

Baca Juga:  Memberi dan Empati sebagai Jalan Kematangan Spiritual
Kajian Ahad Pagi PCM Sedati penuh makna, bahas cara Nabi Ibrahim membangun iman lewat logika dan kecerdasan spiritual.
Dr. Ir. Jamaluddin, M.M, pemateri Kajian Ahad Pagi PCM Sedati (Tagar.co/Istimewa)

Iman bukan Warisan

Dr. Jamaluddin kemudian menambahkan, jika kita belajar dari Nabi Ibrahim As, bahwa keimanan itu bukan hanya warisan. “Tapi merupakan hasil dari perenungan, logika tajam, dan keinginan untuk memahami kebenaran dengan nalar dan hati,” terangnya di hadapan jamaah.

Kecerdasan rasional Nabi Ibrahim, lanjutnya, tampak juga saat menolak penyembahan benda langit, sebagaimana diuraikan dalam QS. Al-An’am: 76–79. “Nabi Ibrahim menunjukkan, bahwa Tuhan sejati tidak mungkin merupakan sesuatu yang tenggelam atau berubah,” jelasnya.

Kemampuan Ibrahim juga tampak saat debat cerdas dengan Raja Namrud (QS. Al-Baqarah: 258), yang menunjukkan kemampuan argumentatif Bapak Para Nabi itu dengan logika tak terbantahkan.

Juga, sambungnya, kecerdasan simbolik dari Nabi Ibrahim saat menghancurkan berhala dan meninggalkan kapak di leher berhala terbesar. “Hal itu sebagai bentuk sindiran yang tajam untuk mengajak kaumnya berpikir (QS. Al-Anbiya: 63),” kata Jamaluddin.

Spiritualitas dan Akal Sehat

Permintaan Nabi Ibrahim atas Demonstrasi Ilmiah tentang bagaimana Allah menghidupkan yang mati, bukan karena ragu, tapi untuk meneguhkan keimanan (QS. Al-Baqarah: 260).

Baca Juga:  Merayakan Kemanusiaan Era Digital di Masjid Mujahidin

“Doa-doa Nabi Ibrahim juga visioner, yang tak hanya memohon anak saleh, tetapi juga generasi yang mendirikan shalat dan paham agama (QS. Ibrahim: 40),” urainya.

Bagi Dr. Jamaaluddin MM, pelajaran terpenting dari kisah Nabi Ibrahim, yakni spiritualitas sejati tidak pernah bertentangan dengan nalar sehat. “Justru melalui logika, simbol, dan keinginan untuk memahami, iman kita akan semakin kokoh dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Kajian ini ditutup dengan doa bersama, dengan harapan jamaah dapat meneladani nilai-nilai Nabi Ibrahim dalam mendidik keluarga, berdakwah, dan memperkuat kecerdasan spiritual di tengah tantangan zaman. (#)

Jurnalis Haryanti Estuningdyah. Penyunting Darul Setiawan.