Feature

Mendikdasmen: Jadikan Masjid Solusi Generasi Z

29
×

Mendikdasmen: Jadikan Masjid Solusi Generasi Z

Sebarkan artikel ini
Mendikdasmen RI Abdul Mu'ti menyoroti tantangan masjid dan generasi muda di tengah pengajian Banjarmasin, menekankan pentingnya masjid yang inklusif dan ramah.
Mendikdasmen RI Abdul Mu’ti. (Tagar.co/Ichwan Arif)

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyoroti tantangan masjid dan generasi muda di tengah pengajian Banjarmasin, menekankan pentingnya masjid yang inklusif dan ramah.

Tagar.co — Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Mendikdasmen, mengisi pengajian umum di Masjid Al Jihad Banjarmasin pada Jumat (14/11/2025) malam. Malam itu, para pelajar turut menyimak dari halaman parkir Masjid Al-Jihad Banjarmasin.

Sebelumnya, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid Pimpinan Pusat (LPCRPM PP) Muhammadiyah, H. Muhammad Jamaludin Ahmad, S.Psi., Psikolog, melaporkan, 446 peserta hadir dalam ajang CRM Award VI.

Ia bersyukur, banyak penggembira CRM memeriahkan acara. Satu cabang, Ponorogo, bahkan mendatangkan 57 peserta. “Semua tampil di expo kita,” ujar Jamal, sapaan akrabnya. Kemudian ia menambahkan, peserta seluruhnya mendapatkan fasilitas menginap di hotel, tetapi tetap disiplin datang tepat waktu.

Masjid Muhammadiyah, imbuh Jamal, kini berkembang menjadi masjid yang memberdayakan, sesuai dengan slogan: Masjid memakmurkan. “Apapun masalahnya, masjid solusinya,” tegasnya.

Selanjutnya, deklarasi pelajar cinta masjid dan Al-Qur’an pun berlangsung. Hal ini sejalan dengan program Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) bertajuk Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Program tersebut berupaya membentuk generasi yang mencintai masjid dan Al-Qur’an, mulai dengan kebiasaan bangun lebih pagi untuk salat Subuh, berlanjut sarapan pagi, dan tidur lebih cepat agar bisa bangun beribadah di sepertiga malam.

Baca Juga:  Di Balik Busur dan Doa Ibu: Keteguhan Nabilah Memanah di Arena 20 Meter
Mendikdasmen RI Abdul Mu’ti. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Masjid Dunia Akhirat

Prof. Mu’ti mengapresiasi, Masjid Al Jihad Banjarmasin terkenal di dunia karena kualitas pelayanannya. “Semoga di akhirat terdaftar,” doa Abdul Mu’ti.

Pasalnya, masjid ini memiliki mobil jenazah Alphard, kotak amal melimpah, dan jemaah yang luar biasa. “Ini contoh masjid makmur dan memakmurkan,” pujinya.

“Pertama, selamat kepada jajaran LPCRPM PP Muhammadiyah yang sukses menyelenggarakan CRM Awards tiap tahun,” ucap Abdul Mu’ti mengawali.

Ia melanjutkan, tahun lalu, acara serupa terselenggara di Palembang, saat ia masih menjabat sebagai menteri. “Sekarang, Alhamdulillah, insyaallah tidak memalukan.”

Ia menawarkan program dan ajakan untuk bersinergi membangun pendidikan di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dengan LPCRPM dan Lembaga Dakwah Khusus (LDK) sebagai mitra.

Masjid dan Fenomena Generasi Tua

Sebab, banyak anak yang belum mendapatkan pendidikan layak. “Mudah-mudahan, setelah ini bisa kita tindaklanjuti dengan kerja sama. Insyaallah bermanfaat untuk anak-anak kita,” kata Abdul Mu’ti.

Abdul Mu’ti lantas menyoroti tantangan yang dihadapi masjid saat ini. “Di era sekarang, masjid itu jadi masjid tua. Maknanya dua. Masjidnya tua, atau jemaahnya tua,” katanya dengan penekanan.

Untuk menghadapi fenomena tersebut, ia mengharapkan masjid menjadi tempat ibadah yang ramah, menyediakan fasilitas untuk kursi roda, difabel, serta tempat wudu sambil duduk. “Dulu, kita tidak membayangkan hal-hal itu,” akunya. “Ternyata, saya pelakunya. Saya wudu sambil duduk,” tambahnya, menunjukkan betapa pentingnya fasilitas inklusif.

Baca Juga:  Abdul Mu’ti: Ilmu Kunci Manusia Menjalankan Tugas Kekhalifahan

Ia juga menemukan masjid di Bekasi yang menyediakan kacamata baca. “Yang penting, pastikan kacamatanya tidak dibawa pulang,” selorohnya. Kursi seperti yang jemaah senior duduki sudah sangat pas. “Karena rasanya sudah berat untuk seusia saya. Semua ini menggambarkan masjid menjadi tempat ibadah yang tua,” jelasnya.

Jika melihat dari sudut pandang ketaatan beribadah, Abdul Mu’ti mengatakan bahwa generasi Z dan Alpha tidak terlalu menganggap agama itu penting. Buku AI Generation menyebutkan hanya 60 persen generasi Z dan Alpha yang menganggap agama penting.

“Kita lihat realita yang mengarah pada banyaknya persoalan mental (wellbeing) yang dialami generasi muda,” paparnya. Angka bunuh diri generasi muda meningkat drastis.

Para pelajar turut menyimak di lapangan parkir Masjid Al-Jihad Banjarmasin. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Anak Muda Jauh dari Agama, Dekat Media Sosial

Lebih mencemaskan, mereka melakukan upaya bunuh diri di sekolah. “Bulan ini, sudah ada 6 kasus,” ungkap Mu’ti. Ia bertanya-tanya, “Mengapa itu terjadi? Karena tidak dekat dengan agama.”

Ia lalu merujuk pada buku berjudul Anxious Generation. Generasi Z dan Alpha banyak terpapar perundungan (bully) di media digital. “Ini menjadi salah satu masalah, karena sebagian anak kita waktunya lebih banyak mereka habiskan di media sosial,” ujar Mu’ti.

Baca Juga:  Buah Kesabaran, Tangan Mungil Sukses Mengukir Mawar dari Tomat

Ia mendorong jemaah untuk berefleksi: Berapa lama generasi ini bertemu orang tua mereka? Berapa banyak yang ketika ada masalah mengadu kepada orang tua mereka?

“Jadi, tema tadi penting, di mana yang mendeklarasikan cinta masjid adalah anak muda,” imbuhnya.

Ia juga menyinggung buku yang membahas bagaimana masyarakat Barat kehilangan Tuhan. Gereja-gereja mulai kosong dan berubah menjadi tempat wisata. Bahkan, sebagian mulai dijual dan beralih fungsi menjadi masjid.

Adapun di Indonesia, Mu’ti menyebut buku berjudul Muslim Tanpa Masjid karya Kuntowijoyo. Buku tersebut memotret Muslim yang pandai membaca dan menulis Al-Qur’an, tetapi tidak lagi ke masjid, tidak lagi belajar kepada ustaz dan kiai, melainkan hanya belajar dari internet.

“Sebagian anak cukup belajar agama dari guru di sekolah atau guru privat. Secara agama, mereka menjadi Muslim yang taat, tetapi tercerabut dari akar-akar sosialnya,” jelasnya.

Mu’ti menyebut fenomena generasi tanpa masjid inilah yang masyarakat rasakan. Ia menutup ceramahnya dengan pesan, “Jadikan masjid sebagai rumah bagi semua generasi, baik senior maupun anak muda.” (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni