Feature

Buah Kesabaran, Tangan Mungil Sukses Mengukir Mawar dari Tomat

87
×

Buah Kesabaran, Tangan Mungil Sukses Mengukir Mawar dari Tomat

Sebarkan artikel ini
Rina Ariani mendemokan cara mengukir lobak menjadi garnish yang cantik. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik belajar seni garnish tumpeng pada kelas memasak. Mereka menggunakan bahan alami seperti lobak, timun, tomat, dan wortel untuk meningkatkan nilai estetika serta ekonomi.

Tagar.co — Seulas senyum merekah saat sebutir tomat merah berubah wujud menjadi mawar ranum di tangan mungil seorang bocah. Di kantin SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School), sayur-mayur tak lagi sekadar bahan pangan yang tersaji di atas piring.

Di bawah bimbingan guru ekstrakurikuler memasak, Rina Ariani, 11 siswi dan seorang siswa duduk melingkar. Mereka fokus menyulap lobak hingga wortel menjadi karya seni garnish yang menawan, Jumat (23/1/2026) siang.

Ustazah Rina, sapaan akrab sang instruktur, memulai demonstrasi dengan gerakan tangan yang lincah. “Iris bagian bawah mentimun agar bisa berdiri, lalu kita potong sisinya seperti ini,” ujar Rina sambil memegang pisau kecil yang tajam.

Ia menjelaskan, bentuk sayuran yang tidak sempurna pun tetap memiliki nilai guna. “Timun tidak harus tegak lurus. Yang bengkok pun tetap bisa kita manfaatkan,” tambahnya menyemangati para siswa.

Fokus utama hari itu adalah mengolah garnish, menghias tumpeng. Rina menekankan, ketajaman alat pemotong menjadi kunci utama keberhasilan. Para siswa memang bisa menggunakan pisau khusus maupun pemotong (cutter) untuk mendapatkan detail yang presisi.

Baca Juga:  PKDA Spemdalas: Siswa Diajak Mendalami Sirah Nabawi

Salah satu tantangan tersulit adalah mengolah lobak menjadi bunga tulip yang anggun. “Tekan bagian tengah lobak, dorong dari luar ke dalam,” jelasnya sambil mengukir pakai alat khusus dengan ujung runcing.

Rina juga mengajarkan mereka untuk mengoleskan kuas pewarna makanan guna memberikan rona alami pada bagian tengah sayur tersebut. “Ini untuk bagian putiknya,” ujarnya.

Askarilkah Azzam Sonya, siswa kelas III Brunei Darussalam, fokus mengiris dan mengukir permukaan wortel. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Kesabaran di Balik Sepotong Wortel

Bagi siswa kelas III, memegang pisau dan mengoordinasikan tangan untuk mengiris tipis bukanlah perkara mudah. Askarilkah Azzam Sonya, siswa kelas III Brunei Darussalam, fokus menunduk selama sekitar 7 menit saat mencoba menaklukkan tekstur wortel yang keras. Meski tangannya sesekali gemetar, ia pantang menyerah. Menjadi satu-satunya peserta lelaki di kelas siang itu tak membuatnya berputus asa.

“Susah, tetapi aku berusaha memotong wortel yang aku bawa,” kata Azzam bangga.

Senyumnya kian lebar saat melihat cabai merah miliknya mulai “mekar” menyerupai bunga. Pasalnya, sambil memotong wortel, Azzam merendam cabainya di baskom berisi air dingin.

Rina terus memantau siswa di sekelilingnya. Ia memberikan instruksi detail, termasuk tips menjaga kesegaran hasil karya. “Rendam ke air es agar makin kencang sayurnya,” pesannya.

Baca Juga:  Psikolog Eko Hardi Ansyah Membedah Segitiga Sukses Ahmad Dahlan

Ia juga mengingatkan agar siswa tidak terburu-buru memberikan pewarna makanan. “Rendam air dulu. Jangan beri pewarna dulu. Kalau sudah siap, baru beri pewarna,” imbuhnya.

Menurut Rina, teknik ini sangat krusial karena hiasan sayur meningkatkan nilai ekonomi sajian. “Kalau kita taruh di tumpeng, nilai jualnya bisa mahal sekali. Menciptakan tumpeng itu tidak semudah yang kita kira,” tegasnya.

Kinar Athaya Fahrizalni dari kelas III Cheko menunjukkan senyum penuh syukurnya saat berhasil mengubah tomat menjadi bunga mawar yang cantik. Ia mengakui, proses mengukir tomat tanpa terputus membutuhkan konsentrasi tinggi. “Susah-susah gampang membuatnya,” cetus Kinar.

Rina memvalidasi hal tersebut dengan menyarankan penggunaan tomat berukuran besar agar hasil lipatan mawar terlihat lebih mewah dan proporsional. “Tapi tetap kita sesuaikan kebutuhan ya,” imbuhnya.

Baca Juga: Mugeb Primary School Sambut Hangat Menu Makan Bergizi Gratis 

Shabrina Amelia Larasati—atau yang akrab disapa Amel—menunjukkan mentimun ukirannya mekar sempurna. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Warisan Kreativitas untuk Sang Ibu

Di sudut lain, Shabrina Amelia Larasati—atau yang akrab disapa Amel—bersyukur melihat mentimunnya mekar sempurna. Siswa kelas IV itu membuang bagian isi mentimun agar kelopak sayur tersebut melengkung cantik.

Baca Juga:  Menembus Gelap, Siswa Mugeb Jelajah Rasi Bintang di Museum Loka Jala Crana

Berikutnya, selain mentimun, Rina juga memperkenalkan penggunaan sawi daging yang gemuk serta pepaya sebagai alternatif bahan hiasan. “Pakai sawi daging yang gemuk juga bisa,” tambah Rina kepada anak-anak kelas III dan IV itu.

Untuk bagian putik bunga, Rina mengajarkan teknik mengerat bagian atas wortel hingga permukaannya terlihat bergelombang. “Kita kerat bagian atas sampai permukaannya bergelombang. Iris agak segitiga dan menyerong, berikan jarak yang pas,” instruksinya.

Setiap detail kecil ini melatih motorik halus siswa. Pesan keselamatan pun tak henti-hentinya ia gaungkan, mengingat mereka menggunakan alat potong yang sangat tajam. “Awas, hati-hati dengan tangannya!” tuturnya.

Sesi cooking class ini berakhir dengan deretan bunga warna-warni yang memenuhi meja. Sebelum menutup kelas, Rina memberikan apresiasi dan motivasi terakhir. “Hasilnya boleh kalian bawa pulang. Tunjukkan kepada Mama,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, Rina sukses membuktikan, dari sepotong lobak dan wortel, anak-anak mampu menciptakan nilai keindahan yang tinggi melalui kesabaran dan ketelatenan. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni