Feature

Menembus Gelap, Siswa Mugeb Jelajah Rasi Bintang di Museum Loka Jala Crana

62
×

Menembus Gelap, Siswa Mugeb Jelajah Rasi Bintang di Museum Loka Jala Crana

Sebarkan artikel ini
Siswa SD Mugeb belajar sejarah TNI AL di Museum Loka Jala Crana dan mengenal benda langit melalui proyektor langka yang hanya ada empat di Indonesia.
Siswa Mugeb Primary School antusias menyaksikan rasi bintang di planetarium. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Siswa Mugeb Primary School belajar sejarah TNI AL di Museum Loka Jala Crana dan mengenal benda langit melalui proyektor langka yang hanya ada empat di Indonesia.

Tagar.co — Udara pagi yang segar menyelimuti halaman SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School), Senin, 26 Januari 2026. Riuh suara siswa kelas IV memenuhi atmosfer sekolah saat mereka bersiap mengikuti field trip edukatif. Sebelum tiga mesin bus menderu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Siti Latifah, S.Pd., berdiri di depan barisan siswa untuk memberikan pengarahan. Wajahnya cerah, memancarkan semangat yang sama dengan anak-anak di hadapannya.

“Hari ini kita jalan-jalan sambil belajar. Ada yang tahu planetarium itu tempat apa? Kita akan belajar tentang planet-planet di dunia dan mengenal lebih dekat Angkatan Laut kita,” ujar Latifah dengan nada antusias.

Ia tidak hanya melepas keberangkatan mereka dengan tangan kosong, tetapi juga membekali para siswa dengan tiga pesan utama sebagai pedoman selama perjalanan. Pesan-pesan ini menjadi “bekal” karakter bagi para siswa di luar kelas.

“Pertama, anak-anak harus menurut kepada ustazah. Kedua, karena kita belajar di luar kelas, kalian harus tertib. Ketiga, anak-anak harus saling menyayangi dan membantu sesama teman. Kalau ada teman di sebelahmu yang mengalami kesulitan, kita wajib membantu,” tegas Latifah sembari tersenyum.

Tepat pukul 07.30 WIB, rombongan tiba di destinasi pertama: Museum Loka Jala Crana. Museum ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan pusat pendidikan bagi siswa hingga mahasiswa untuk menyelami kejayaan bahari Indonesia.

Baca Juga:  Kenakan Kostum Superhero, SPPG Ini Ciptakan Kedekatan dengan Murid

Membedah Makna Loka Jala Crana

Begitu memasuki ruang lobi, seorang pemandu museum, Akhmad Subkhan, menyambut para siswa dengan hangat. Ia segera mengajak anak-anak menyelami arti nama museum yang tampak gagah tersebut. Subkhan menjelaskan bahwa nama museum tersebut berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki makna mendalam terkait fungsi instansi tersebut.

“Loka artinya tempat, Jala artinya laut, dan Crana artinya sarana. Jadi, Loka Jala Crana berarti tempat untuk menyimpan sarana milik TNI Angkatan Laut,” jelas Subkhan di hadapan mata-mata mungil yang berbinar penuh rasa ingin tahu.

Ia kemudian menunjuk ke arah luar dan beberapa sudut ruangan. “Di depan tadi kalian melihat tank, roket, meriam, rudal, dan sebagainya. Itu semua adalah bagian dari sejarah pertahanan laut kita,” tambahnya.

Sebelum penjelajahan lebih jauh, Subkhan menekankan aturan main yang harus siswa sepakati bersama. Disiplin adalah napas utama di lingkungan militer. Ia meminta para siswa untuk tidak menginjak rumput dan dilarang menyentuh koleksi museum demi menjaga kelestarian benda-benda bersejarah tersebut.

Setelah kesepakatan tercapai, para siswa pun mulai menyisir berbagai ruangan di bangunan yang terpisah. Mulai dari Ruang Senjata, Ruang Kepemimpinan, Ruang Dewaruci, Ruang Armada, Ruang Akademi, hingga puncaknya di Planetarium.

Di Ruang Akademi, suasana berubah menjadi lebih formal namun tetap menarik. Di sini, para siswa melihat langsung potret kehidupan para taruna yang menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Laut (AAL). Mereka tampak terpukau saat menilik video sejarah melalui layar Naval History Interactive.

Siswa Mugeb Primary School belajar sejarah TNI AL di Museum Loka Jala Crana dan mengenal benda langit melalui proyektor langka yang hanya ada empat di Indonesia.
Siswa Mugeb Primary School antusias menyaksikan detail KRI Bima Suci di panel digital. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Jejak Gagah di Kapal Legendaris

Pemandu lainnya, Agus Wahyono, mengambil alih estafet penjelasan saat rombongan memasuki Ruang Prodi. Di sana berjajar rapi koleksi prestasi para taruna hingga peralatan drumben yang megah. Agus memotivasi para siswa agar berani bermimpi menjadi penjaga samudra di masa depan.

Baca Juga:  Ada Kehangatan di Kajian Ramadan dan Bukber SD Alam Al-Ghifari Kota Blitar

“Kalau kalian sudah lulus SMA nanti, kalian bisa bergabung menjadi taruna TNI AL. Kalian akan memasuki gerbang AAL di Magelang, bahkan merasakan tradisi mandi lumpur sebagai bagian dari latihan,” ungkap Agus yang disambut sorak kagum para siswa.

Keriuhan semakin memuncak saat para siswa mendapat kesempatan menaiki miniatur kapal putih legendaris, KRI Dewaruci, yang terparkir gagah di tengah halaman. Di Ruang Armada, Agus menunjukkan bahwa TNI AL tidak hanya soal perang. Ada koleksi kapal ambulans yang membuktikan bahwa pelayanan kesehatan juga hadir di tengah laut.

“Rumah sakit tidak hanya ada di daratan. Kita juga punya Kapal Pintar yang menghadirkan perpustakaan bagi saudara-saudara kita di pulau terpencil. Kapal ini membantu mereka belajar membaca dan menulis,” tutur Agus menjelaskan sisi kemanusiaan dari TNI AL.

Siswa SD Mugeb belajar sejarah TNI AL di Museum Loka Jala Crana dan mengenal benda langit melalui proyektor langka yang hanya ada empat di Indonesia.
Siswa Mugeb Primary School mempelajari alur pendidikan taruna di Akademi Angkatan Laut. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Menembus Gelap, Menuju Langit Digital

Petualangan beralih dari laut menuju angkasa saat siswa memasuki gedung Planetarium. Di sana, seperti halnya di ruang lain, ada teknologi Interactive Planetary Explorer telah menanti.

Mereka pun memasuki ruangan khusus bernama planetarium. Bangunan melingkar itu memberi kesempatan siswa duduk rapi melingkar di atas kursi biru yang mengelilingi sebuah alat besar nan unik di tengah ruangan.

Baca Juga:  Wajah Baru Muhammadiyah Banjarsari Siap Beraksi

Joko, sang pemandu planetarium, memberikan pengantar sebelum pertunjukan dimulai. “Mohon maaf, kalian tidak akan melihat planet digital seperti menonton film di bioskop. Kita akan melihat planet secara manual, tapi ini jauh lebih asyik karena rasanya seperti menonton langit asli,” jelasnya.

Proyektor planetarium yang berdiri di tengah mereka ternyata bukan alat sembarangan. Mesin buatan Jerman tahun 1968 tersebut merupakan barang langka. Di Indonesia, alat seperti ini hanya ada empat unit. Tiga lainnya berada di Taman Ismail Marzuki Jakarta, UIN Semarang, dan sebuah museum di Yogyakarta.

“Pastikan tidak ada polusi cahaya agar bintang-bintang terlihat jelas,” pinta Joko. Perlahan, ia mematikan lampu ruangan hingga gelap gulita. Seketika, titik-titik cahaya muncul di atap kubah.

“Apa itu bintang? Bintang adalah benda angkasa yang bercahaya dan memiliki cahayanya sendiri,” terang Joko di tengah kekaguman siswa melihat simulasi langit malam. Ia lalu menunjukkan beragam nama bintang, planet, hingga rasi bintang yang tersebar di atas mereka. Mata siswa pun mengikuti petunjuk laser yang Joko arahkan.

Petualangan di Museum Loka Jala Crana pun berakhir tepat pukul 10.00 WIB. Meski lelah, wajah para siswa Mugeb Primary School tetap cerah saat mereka melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya: Museum Pusat TNI AL. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni