Rileks

Kota Lama Surabaya: Dari Ingatan Remaja ke Wajah Baru yang Menawan

31
×

Kota Lama Surabaya: Dari Ingatan Remaja ke Wajah Baru yang Menawan

Sebarkan artikel ini
Berfoto0foto di Pos Bloc Surabaya

Berpuluh tahun setelah menyusuri jalan-jalannya dengan sepeda, saya kembali ke Kota Lama Surabaya. Kini kawasan itu tampil lebih rapi dan berkarakter, menghadirkan pengalaman wisata sejarah yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Oleh dr. Mohamad Isa

Tagar.co – Kawasan Kota Lama Surabaya di wilayah Surabaya Utara bukanlah tempat asing bagi saya. Masa sekolah di SMP Negeri 2 Surabaya pada 1972–1974 di Jalan Kepanjen membuat saya akrab dengan kawasan ini.

Setiap hari, bangunan-bangunan peninggalan Belanda menjadi pemandangan rutin—mulai saat berangkat sekolah, pulang, hingga ketika bersepeda santai menyusuri lorong-lorong Kota Lama.

Baca juga: Surabaya yang Dirindukan: Kuliner Jadi Identitas Budaya

Gedung-gedung tua yang kokoh namun kurang terawat, beserta jalan-jalan yang tampak kusam, melekat kuat dalam ingatan masa remaja saya.

Peserta “Gathering Family” Alumni Fakultas Kedokteran Unair Angkatan 1979 (PISO)

Revitalisasi Kawasan Kota Lama

Seiring berkembangnya perhatian terhadap pelestarian situs bersejarah di berbagai kota di Indonesia, Surabaya pun ikut berbenah. Kota ini tidak ingin tertinggal dalam merawat kawasan cagar budaya yang kaya nilai sejarah sekaligus potensial menjadi destinasi wisata unggulan.

Pada 9 November 2025, saya kembali menjejakkan kaki di Kota Lama Surabaya. Kali ini dalam suasana berbeda, bertepatan dengan acara “Gathering Family” Alumni Fakultas Kedokteran Unair Angkatan 1979 (PISO) yang berlangsung di Hotel Kokoon, salah satu ikon kawasan bersejarah tersebut.

Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk melihat langsung bagaimana wajah Kota Lama kini ditata ulang menjadi kawasan yang lebih elok dan hidup.

Di depan Pabrik Limoen J.C. Van Drongelen & Hellfach

Tempat-Tempat Bersejarah

Kota Lama Surabaya terbagi dalam empat zona: Eropa, Pecinan, Arab, dan Melayu. Masing-masing memiliki kekhasan yang memancarkan jejak panjang perjalanan kota. Berikut beberapa tempat penting yang dikunjungi atau dicatat Penulis:

  • Gedung Internatio
    Dibangun pada 1931, gedung tiga lantai ini dahulu merupakan kantor Internationale Crediet- en Handelsvereeniging “Rotterdam”. Arsitekturnya yang megah masih berdiri kokoh hingga kini.

  • Jembatan Merah Surabaya
    Salah satu destinasi paling ikonik sekaligus saksi sejarah perjuangan rakyat Surabaya. Dibangun pada 1809 di era Gubernur Jenderal Daendels, jembatan ini mengabadikan perlawanan heroik warga Surabaya terhadap penjajah.

  • Pabrik Limoen J.C. Van Drongelen & Hellfach (Siropen)
    Pabrik sirup tertua di Indonesia yang berdiri sejak 1923. Tempat ini memadukan unsur sejarah dengan cita rasa autentik khas Surabaya.
Gedung Internatio
  • De Javasche Bank
    Didirikan pada 1828 dengan gaya arsitektur Neo-Renaissance yang megah. Kini menjadi Museum Bank Indonesia, sekaligus salah satu latar foto favorit wisatawan.

  • Museum Hidup Polrestabes (Museum Hoofdbureau)
    Bangunan kolonial yang masih aktif sebagai kantor polisi sekaligus museum dengan koleksi menarik, menjadikannya cagar budaya yang unik.

  • Pos Bloc Surabaya
    Dahulu merupakan Hogere Burgerschool (HBS) tempat Bung Karno menimba ilmu. Kini menjadi bagian dari jaringan Pos Bloc yang dikelola Pos Indonesia sebagai ruang kreatif dan publik.
Di depan Gedung Cerutu
  • Gedung Cerutu
    Berdiri sejak 1916, gedung ini dulu merupakan kantor pabrik gula NV Maatschaapij Tot Explotatie van Het Bereau Gebroeders Knaud.

  • Taman Sejarah
    Di taman ini terdapat monumen mobil Buick 8 milik Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, yang tewas dalam peristiwa pertempuran Surabaya 1945. Mobil tersebut mengajak pengunjung merenungkan dahsyatnya peristiwa sejarah yang membentuk identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

  • Kya-Kya Surabaya
    Dahulu merupakan pasar malam ramai di kawasan Pecinan. Sepanjang Jalan Kembang Jepun berdiri kios-kios makanan Tionghoa, hidangan khas Surabaya, dan aneka kuliner lainnya. Nama “kya-kya” berasal dari dialek Tionghoa yang berarti “jalan-jalan”.

  • Kompleks Makam Sunan Ampel
    Tempat peristirahatan Raden Rahmat (Sunan Ampel), ulama besar yang wafat pada 1481. Selain menyebarkan Islam, beliau mendirikan pesantren pertama di Surabaya yang menjadi pusat pendidikan masyarakat.

  • Gedung PTPN I Regional 4
    Kini menjadi kantor PTPN XI, gedung ini dahulu milik HVA (Handels Vereeniging Amsterdam). Dibangun pada 1920–1921 dan diresmikan pada 18 April 1925, gedung ini mencerminkan kejayaan perdagangan gula pada zamannya.

Kawasan Sunan Ampel

Intospeksi Diri

Melihat bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh hingga hari ini, saya seolah diajak menyelami kembali bagaimana sebuah karya arsitektur dapat bertahan melampaui generasi. Keutuhan bangunan itu berbicara banyak hal.

Pertama, kekokohan gedung-gedung itu menunjukkan adanya perencanaan arsitektur yang matang serta perhitungan teknik sipil yang dilakukan dengan sangat cermat.

Kedua, ketahanan strukturalnya mengisyaratkan manajemen pembangunan yang bersih—tanpa praktik korupsi yang bisa merusak kualitas material maupun hasil akhir bangunan.

Ketiga, dalam proses pembangunannya tampak jelas adanya pengawasan ketat, tanpa kompromi terhadap standar dan tanpa pandang bulu kepada siapa pun.

Keempat, setelah bangunan berdiri, pemeliharaan yang dilakukan dengan baik pada masanya membuatnya tetap kokoh hingga kini, menghadirkan warisan fisik yang masih bisa kita nikmati dan pelajari hari ini.

Gedung PTPN I Regional 4

Penutup

Bangunan peninggalan Belanda di kawasan Kota Lama menjadi bukti bahwa Indonesia pernah berada di bawah pemerintahan kolonial. J

ika dulu gedung-gedung ini menjadi target serangan para pejuang, kini bangunan yang sama justru berubah menjadi kebanggaan kota. “Tidak ada yang abadi di dunia ini.”

Kawasan ini patut dipertahankan dan dikembangkan sebagai inspirasi untuk membangun Kota Baru Surabaya yang dirancang putra-putri bangsa, dan kelak menjadi warisan peradaban Indonesia.

Pariwisata yang baik memerlukan kerja keras—terutama dalam menyediakan ruang publik yang nyaman, aman, dan menyenangkan bagi siapa pun yang berkunjung. (#)

Banjarmasin, 15 November 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni