Telaah

Memendekkan Angan, Memanjangkan Amal

74
×

Memendekkan Angan, Memanjangkan Amal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Kita sering merasa hidup masih panjang, hingga lupa bahwa waktu tidak pernah menunggu kesiapan. Di antara pasir jam yang terus jatuh dan amal yang kerap ditunda, Islam mengajarkan satu kebijaksanaan sederhana namun menyelamatkan: pendekkan angan-angan, segerakan kebaikan, sebelum pintu kesempatan tertutup tanpa aba-aba.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Dalam perjalanan hidup seorang hamba, sering kali yang paling menipu bukanlah dosa besar, melainkan angan-angan panjang yang membuat hati lalai dan amal tertunda. Waktu terasa luas, usia seolah masih panjang, hingga kebaikan ditangguhkan. Padahal Islam mengajarkan kewaspadaan, kesadaran akan singkatnya hidup, dan kesungguhan beramal sebelum kesempatan dicabut tanpa tanda.

Perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah adalah cermin jernih bagi hati yang ingin selamat. Beliau menegaskan bahwa perkara paling bermanfaat bagi seorang hamba adalah memendekkan angan-angan, dan perkara paling membahayakan adalah menunda amal saleh serta memelihara angan-angan panjang.

Baca juga: Perempuan Salehah dan Arsitektur Rumah Bertakwa

Angan-angan panjang membuat seseorang merasa aman dari kematian, seakan hidup masih lama, sehingga ia menunda tobat, menangguhkan ketaatan, dan meremehkan waktu. Padahal waktu adalah modal utama seorang mukmin, dan setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali.

Baca Juga:  Bayangan yang Berbalik Arah

Al-Qur’an berulang kali mengingatkan manusia agar tidak terperdaya oleh angan-angan kosong. Allah Ta’ala berfirman:

وَذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan, kelak mereka akan mengetahui.” (Al-Hijr: 3)

Ayat ini bukan sekadar ancaman, tetapi peringatan lembut agar manusia tidak menjadikan angan-angan sebagai selimut yang meninabobokkan kesadaran ruhani.

Memendekkan angan-angan bukan berarti pesimis atau anti perencanaan. Islam tidak melarang cita-cita dan usaha duniawi. Yang dilarang adalah angan-angan yang melalaikan akhirat, yang membuat seseorang menunda amal dengan alasan “nanti”, “belum siap”, atau “masih muda”.

Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan: bekerja seakan hidup lama, namun beramal seakan-akan mati esok hari. Kesadaran inilah yang melahirkan kesungguhan, keikhlasan, dan kecepatan dalam kebaikan.

Allah Ta’ala berfirman:

سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ

“Berlomba-lombalah menuju ampunan Tuhanmu.” (Al-Hadid: 21)

Perintah “berlomba” menunjukkan bahwa amal saleh tidak layak ditunda. Dalam perlombaan, siapa yang menunda akan tertinggal. Demikian pula dalam ketaatan, siapa yang menunggu waktu ideal yang tidak pernah datang, akan kehilangan momentum terbaik.

Baca Juga:  Saatnya Mengunci Istikamah di Ujung Ramadan

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dengan bahasa yang sangat menyentuh. Dari Ibnu Umar radiyallahuanhuma, beliau bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (Al-Bukhari)

Ibnu Umar menambahkan nasihatnya: “Jika engkau berada di sore hari, jangan menunggu pagi. Jika engkau berada di pagi hari, jangan menunggu sore.” Ini adalah praktik nyata memendekkan angan-angan dalam kehidupan sehari-hari.

Menunda amal adalah penyakit halus yang sering dibungkus dengan alasan logis. Setan tidak selalu mengajak pada keburukan secara terang-terangan. Ia cukup membisikkan, “Nanti saja,” karena ia tahu penundaan hari ini sering berujung kelalaian selamanya. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سِتًّا

“Bersegeralah kalian beramal sebelum datang enam perkara.” (Muslim)

Hadis ini menegaskan urgensi amal sebelum datang penghalang-penghalang yang tidak bisa ditolak.

Memendekkan angan-angan akan melahirkan hati yang hidup. Seseorang menjadi lebih mudah bertobat, lebih ringan bersedekah, dan lebih khusyuk beribadah. Ia tidak menggantungkan ketaatan pada usia, kondisi, atau kesempatan yang belum tentu datang. Ia sadar bahwa kematian tidak mengenal jadwal, dan perjumpaan dengan Allah bisa terjadi kapan saja.

Baca Juga:  Adab Membaca Al-Qur’an: Berhenti saat Mengantuk

Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (Ali ‘Imran: 185)

Ayat ini sederhana, namun jika benar-benar diresapi, ia akan memotong angan-angan panjang dan menggantinya dengan kesiapan. Bukan ketakutan yang lahir, melainkan kesadaran untuk memperbaiki diri selagi pintu amal masih terbuka.

Akhirnya, perkataan Imam Ibnul Qayim rahimahullah bukan sekadar teori, tetapi peta keselamatan. Memendekkan angan-angan adalah kunci keikhlasan dan kecepatan beramal. Menjauhi penundaan adalah jalan menuju husnul khatimah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sadar akan singkatnya hidup, ringan melangkah dalam ketaatan, dan dipertemukan dengan-Nya dalam keadaan diridai. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni