
Tiga hari kebersamaan Mastama ADI Jawa Timur ditutup dengan lomba gerak jalan, fun game di Edupark, serta pembagian penghargaan. Sorak pekik semangat dan tawa peserta meninggalkan jejak mendalam bagi calon kader dai.
Tagar.co – Langit pagi masih berbalut sejuk ketika langkah-langkah penuh semangat para mahasantri Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Timur menapak di hari terakhir Mastama (Masa Taaruf Mahasantri).
Selama tiga hari mereka ditempa kebersamaan, dikenalkan pada wajah baru perjuangan, dan hari itu menjadi penutup yang penuh warna.
Baca juga: Mastama ADI Jatim: Dakwah Harus Seimbang antara Kabar Gembira dan Peringatan
Kamis (21/8/2025) pagi dimulai dengan kejutan. Tanpa latihan dan persiapan, para peserta Mastama diminta turut serta dalam lomba gerak jalan yang digelar Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI untuk memeriahkan HUT RI. Sekitar pukul 07.50 WIB, derap kaki para santri berpadu dengan lantang pekik slogan:
“ADI Jawa Timur?”
“Siap mengabdi untuk umat dan negeri!”
Sorakan itu disusul dengan teriakan penuh gelora, “Hidup mulia, atau mati syahid!” yang terdengar makin kokoh ketika diucapkan dalam bahasa Arab.

Pekikan tersebut menggema, bukan sekadar kalimat, melainkan kobaran semangat yang menyusup hingga ke relung hati. Wajah-wajah peserta yang semula letih pun berubah sumringah, menampakkan kebahagiaan murni.
Selepas gerak jalan, pukul 09.00 WIB, perjalanan berlanjut ke Edupark eLKISI. Di sanalah keseruan berganti rupa. Mahasantri putra diajak menjelajah alam, sementara mahasantri putri larut dalam permainan penuh tawa.
Dengan gamis dan kerudung panjang, mereka tetap lincah, tak kalah riang. Gelak tawa yang pecah di antara mereka menjadi bukti bahwa semangat bukan ditentukan pakaian, melainkan lahir dari hati yang ikhlas dan jiwa yang berani.

Penghargaan dan Kesan Peserta
Menjelang pukul 11.30 WIB, kegiatan dihentikan sejenak untuk kembali ke pondok, melaksanakan salat Zuhur sekaligus melepas lelah. Namun kisah belum selesai. Bakda Asar, suasana kembali ramai dengan pembagian hadiah lomba. Selain itu, diumumkan pula penghargaan khusus untuk kategori mahasantri teraktif dan paling api.
Empat nama terpilih sebagai penerima penghargaan: Galung Hasibuan Rochman asal Jombang, Sekar Yasin dari Nusa Tenggara Timur, Ummu Hasna asal Sidoarjo, dan Muthiah Rahma juga dari Sidoarjo. Dari empat nama itu, dua di antaranya—Galung dan Ummu Hasna—dipercaya mewakili peserta untuk menyampaikan kesan dan pesan.
Baca juga: Langkah Pertama sebagai Dai: Mastama ADI Jatim Dibuka
Galung dengan penuh haru menyampaikan, “Saya sangat berterima kasih kepada panitia yang telah bekerja keras demi berjalannya kegiatan Mastama ini. Terutama kepada panitia putra yang membela-belakan hadir di hari pertama, padahal malam sebelumnya hujan deras dan mereka baru sampai setelah perjalanan panjang dari Banyuwangi.”
Sementara itu, Ummu Hasna menuturkan pesan yang lebih reflektif. “Saya berterima kasih kepada seluruh panitia dan teman-teman yang ke depan akan menjadi teman seperjuangan di jalan dakwah. Saya berpesan agar kita tetap semangat dan bersama-sama melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Mari kita bantu meningkatkan kembali nilai-nilai adab yang mulai menurun di pondok putri,” ujarnya.
Sebagai alumni eLKISI yang baru lulus tahun ini, Ummu Hasna juga menambahkan, “Setelah saya lulus, saya merasa penerapan adab di pondok putri sudah sangat menurun.” Karena itu, ia berharap para mahasantri putri bisa menjaga sekaligus memperkuat kembali tradisi adab yang menjadi ruh pondok.

Penutupan Penuh Kesan
Menjelang akhir acara, Master of Ceremony (MC) Alisia Yuniar Rohmah kembali mengajak peserta menyampaikan kesan bersama.
“Bagaimana kesan dan pesan kalian terhadap kegiatan ini?” tanyanya. Serempak peserta menjawab, “Seru banget!” disambung dengan celetukan Galung yang menambahkan, “Rating-nya 100 per 10.”
Sorak tawa pun pecah, menutup Mastama dengan suasana hangat penuh keakraban. Hari itu, Mastama 2025 resmi ditutup. Namun, kenangan tiga hari penuh itu akan terus hidup dalam ingatan: semangat kebersamaan, gelora perjuangan, serta tawa riang yang kelak menjadi bahan bakar perjalanan panjang para kader da’i.
Kegiatan ini memang hanya berlangsung singkat, tetapi jejaknya akan melekat dalam kehidupan para peserta. Sebagaimana setiap langkah dakwah, selalu ada yang menyiapkan, ada yang mendampingi, ada yang berkorban.
Semoga seluruh ikhtiar yang tercurah dalam Mastama 2025 ini menjadi bekal berharga dalam perjalanan panjang, menuju satu tujuan besar: melanjutkan risalah dakwah Nabi Muhammad Saw. (#)
Jurnalis Sadidatul Azka Penyunting Mohammad Nurfatoni












