Opini

Menata Ulang Etika Berdiskusi

61
×

Menata Ulang Etika Berdiskusi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni

Banyak diskusi berubah menjadi arena menang-kalah. Padahal, yang dibutuhkan justru kejernihan memahami, bukan sekadar memenangkan pendapat.

Oleh Safira Lasomar; Alumnus Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Timur

Tagar.co – Di banyak ruang diskusi hari ini, percakapan kerap bergeser menjadi ajang adu argumen. Orang duduk bersama bukan untuk memahami, melainkan untuk memenangkan pendapat masing-masing. Suara yang paling dominan sering dianggap paling benar, sementara proses berpikir bersama justru terpinggirkan.

Padahal, tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan pola debat. Ada bentuk interaksi yang lebih matang: pertukaran perspektif—sebuah proses untuk mencari kejelasan, bukan kemenangan.

Debat Vs, Pertukaran Perspektif

Perbedaan mendasar terletak pada tujuan. Debat berorientasi pada menang dan kalah. Setiap argumen diarahkan untuk mempertahankan posisi sekaligus melemahkan lawan. Dalam situasi ini, orang mendengar bukan untuk memahami, melainkan untuk menyiapkan sanggahan.

Sebaliknya, pertukaran perspektif berorientasi pada pemahaman. Perbedaan tidak dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai peluang untuk melihat persoalan secara lebih utuh. Fokusnya bergeser: bukan siapa yang benar, melainkan apa yang benar.

Baca Juga:  Tragedi Anak Usia 10 Tahun yang Kehilangan Harapan: Sebuah Refleksi

Akar Masalah: Ego dalam Diskusi

Banyak diskusi sebenarnya gagal bukan karena kurang data atau miskin referensi, melainkan karena ego terlalu dominan.

Ketika seseorang terlalu sibuk membela pendapatnya, ia cenderung memilih argumen yang menguntungkan dirinya, mengabaikan sudut pandang lain, dan menutup kemungkinan untuk berubah. Akibatnya, diskusi menjadi sempit—bukan karena topiknya terbatas, tetapi karena cara berpikir para pesertanya terkunci.

Di titik ini, forum diskusi kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang pencarian makna bersama.

Pentingnya Ketenangan Berpikir

Diskusi berkualitas tidak dibangun dari kecepatan respons, melainkan dari kejernihan berpikir. Ketenangan memberi ruang bagi seseorang untuk mencerna informasi secara utuh, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, dan merespons dengan lebih matang.

Sebaliknya, diskusi yang terburu-buru mudah dipenuhi reaksi emosional. Argumen menjadi dangkal, arah pembicaraan melenceng, dan suasana cepat memanas.

Tenang bukan berarti lemah. Justru di situlah letak kontrol diri dan kedewasaan intelektual.

Menggeser Mindset: Dari Membuktikan ke Memahami

Kualitas diskusi sangat ditentukan oleh cara seseorang memposisikan dirinya. Selama pertanyaan yang mendominasi adalah, “Bagaimana saya bisa membuktikan saya benar?” maka diskusi akan tetap menjadi arena kompetisi.

Baca Juga:  Berkembang, Bukan Tertinggal: Catatan Reflektif untuk Generasi Muda Beriman

Namun ketika pertanyaannya berubah menjadi, “Apa yang belum saya pahami dari sudut pandang ini?” diskusi mulai bergerak ke arah yang lebih konstruktif.

Perubahan ini tampak sederhana, tetapi dampaknya besar. Ia menggeser pusat gravitasi percakapan—dari ego menuju pemahaman.

Pada akhirnya, pertukaran perspektif bukanlah ruang untuk saling mengalahkan, melainkan untuk memperluas cara pandang. Ketika dijalankan dengan tenang dan terarah, tujuan diskusi bukan kemenangan, tetapi kejernihan memahami.

Jika sebuah diskusi masih terasa seperti pertarungan, besar kemungkinan yang sedang bekerja adalah ego, bukan akal. Dan selama itu belum berubah, forum apa pun hanya akan menghasilkan kebisingan—tanpa makna. (#)

Penyunng Mohammad Nurfatoni