Feature

Mastama ADI Jatim: Dakwah Harus Seimbang antara Kabar Gembira dan Peringatan

635
×

Mastama ADI Jatim: Dakwah Harus Seimbang antara Kabar Gembira dan Peringatan

Sebarkan artikel ini
Mastama ADI Jatim mengingatkan kembali misi dakwah dari Surah An-Nisa 165: menyeimbangkan kabar gembira dan peringatan agar umat tak terlena di tengah ketidakadilan.
M. Anwar Djaelani sebagai narasumber (Tagar.co/Sadidatul Azka)

Mastama ADI Jatim mengingatkan kembali misi dakwah dari Surah An-Nisa 165: menyeimbangkan kabar gembira dan peringatan agar umat tak terlena di tengah ketidakadilan.

Tagar.co – Antusiasme mewarnai kegiatan Masa Taaruf Mahasantri (Mastama) Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Timur hari kedua, Rabu 20 Agustus 2025.

Sejak pagi, para mahasantri mengikuti rangkaian materi dengan penuh perhatian. Salah satu sesi yang paling mencuri perhatian datang dari M. Anwar Djaelani, dosen ADI yang dikenal produktif menulis dengan 13 buku yang telah diterbitkan.

Baca juga: Langkah Pertama sebagai Dai: Mastama ADI Jatim Dibuka

Dakwah Rasul sebagai Teladan

Dalam penyampaiannya, Ustaz Anwar menekankan pentingnya memahami dakwah sebagaimana dicontohkan para Rasul. Ia menampilkan Surah An-Nisa 165 yang menjelaskan peran Rasul sebagai penyampai kabar gembira bagi orang beriman sekaligus pemberi peringatan bagi yang menolak kebenaran.

“Sering kali, dakwah hari ini lebih menonjolkan kabar gembira. Padahal, Rasulullah diutus untuk menyampaikan keduanya. Kabar gembira dan peringatan adalah dua sisi yang harus berjalan beriringan,” ujarnya menekankan keseimbangan.

Baca Juga:  Menuju Puncak Salat: Menapaki Empat Tingkatan
Mastama ADI Jatim mengingatkan kembali misi dakwah dari Surah An-Nisa 165: menyeimbangkan kabar gembira dan peringatan agar umat tak terlena di tengah ketidakadilan.
M. Anwar Djaelani bersama mahasiswi panitia Mastama ADI Jatim 2025 (Tagar.co/Sadidatul Azka)

Dakwah dengan Hikmah dan Kelembutan

Lebih jauh, Ustaz Anwar mengaitkan pesan itu dengan Surah An-Nahl 125 yang memerintahkan berdakwah dengan hikmah, kelembutan, dan dialog yang baik. “Inilah bekal utama seorang dai ketika menghadapi masyarakat yang beragam,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan Surah Ali Imran 104 tentang kewajiban adanya sekelompok umat yang konsisten menyeru kebaikan, menegakkan amar ma’ruf, dan mencegah kemungkaran.

Pesan ini, tambahnya, dipertegas lagi dalam Surah Ali Imran  110 yang menempatkan umat Islam sebagai khairu umah—umat terbaik—selama tetap menjalankan peran dakwahnya.

M. Anwar Djaelani bersama mahasiwa peserta dan panitia Mastama ADI Jatim 2025  (Tagar.co/Sadidatul Azka)

Islam sebagai Agama Sempurna

Dalam kesempatan itu, Ustaz Anwar juga menyinggung Surah Al-Maidah ayat 3 yang menegaskan kesempurnaan Islam. Menurutnya, ayat ini menjadi pengingat bahwa Islam telah memberi pedoman hidup yang lengkap sehingga tidak perlu mencari sistem lain di luar ajarannya.

“Islam adalah agama sempurna. Kita hanya perlu mengamalkan dan menghidupkannya dalam keseharian,” tuturnya penuh keyakinan.

Baca Juga:  Rasuna Said: Jejak Perempuan Cendekia yang Mengguncang Kolonial

Materi Ustaz Anwar berakhir pukul 09.40 WIB, ditutup dengan sesi foto bersama. Suasana hangat dan penuh keakraban itu menegaskan bahwa Mastama bukan hanya pengenalan akademik, melainkan juga momentum memperkuat persaudaraan dan meneguhkan semangat dakwah.

Mastama tahun ini mengusung tema Membentuk Kader Dai yang Siap Mengabdi untuk Umat dan Negeri. Harapannya, semangat perjuangan dakwah bisa tertanam sejak dini pada para mahasantri baru. Mereka diharapkan benar-benar menjadi penerus perjuangan generasi Islam dengan kesungguhan. (#)

Jurnalis Sadidatul Azka Penyunting Mohammad Nurfatoni