
UMM panen melon dari greenhouse berteknologi smart farming. Kendali jarak jauh, pupuk racikan, hasil manis crunchy. Inovasi pertanian modern, wujud nyata kontribusi pada ketahanan pangan.
Tagar.co – Bukan sekadar tanaman hias, Edupark Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini menghadirkan sensasi baru: petik melon langsung dari greenhouse berteknologi smart farming. Inovasi ini diresmikan melalui acara open greenhouse pada 25 Januari 2025, menandai panen perdana melon yang ditanam dengan sentuhan teknologi canggih dan pupuk racikan khusus.
Baca juga: Ribuan Guru Baru Siap Mengabdi, UMM Kukuhkan 8.089 Lulusan PPG
Mengusung konsep smart farming, greenhouse yang semula untuk tanaman hias ini disulap menjadi kebun melon produktif. Muhidin, Kepala Laboratorium Edupark UMM, menjelaskan keunggulan sistem ini, “Kita bisa mengendalikan penyiraman secara otomatis melalui aplikasi di smartphone. Jadi, perawatan bisa dilakukan dari jarak jauh,” ujarnya.
Dengan sistem hidroponik dan fertigasi, greenhouse ini menjadi rumah bagi melon jenis Intanon dan Lavender. “Keunggulan lain dari greenhouse adalah mudahnya pengendalian hama dan penyakit karena strukturnya yang tertutup,” tambah Muhidin, dikutop dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Senin (27/1/25) sore.

Rahasia Manis: Pupuk Racikan dan Perhatian Khusus
Lebih dari sekadar teknologi, rahasia di balik manisnya melon UMM terletak pada pupuk racikan khusus dan perhatian terhadap detail. “Banyak petani melupakan pentingnya penggunaan pupuk yang tepat di awal penanaman. Kami juga memberikan pupuk tambahan di pertengahan proses,” jelas Muhidin.
Ia menekankan pentingnya membedakan jenis pupuk saat tanaman berbunga dan berbuah. “Mari kita belajar dan sharing ilmu bersama terkait hal ini,” ajaknya.
Uniknya, greenhouse ini dibangun di antara gedung-gedung kampus, sehingga mendapatkan cahaya matahari yang terbatas. Namun, tim Edupark UMM tak kehabisan akal. “Kami mengubah material atap greenhouse agar bisa mendapat cahaya dengan maksimal,” ungkap Muhidin.

Panen Berkah, Masa Depan Cerah
Hanya dalam waktu tiga bulan atau sekitar 70 hari, melon-melon ini siap dipanen. Dengan harga Rp25.000 per kilogram, pengunjung dapat menikmati manisnya melon yang crunchy dan berair ini.
Rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, dalam sambutannya menyatakan bahwa perguruan tinggi harus proaktif dalam memecahkan masalah kemasyarakatan yang praktis. “Adanya smart farming ini dapat menjawab kebutuhan dan tantangan menuju kualitas manusia yang lebih unggul di masa depan,” tegasnya.
Prof. Nazaruddin berharap smart farming ini dapat terus dikembangkan dan diteliti lebih lanjut. “Mudah-mudahan kegiatan open greenhouse petik melon ini juga dapat memberi berkah, menjadi bentuk komitmen kuat kita terhadap ketahanan pangan bangsa,” pungkasnya.
Inovasi smart farming di greenhouse UMM ini menjadi bukti bahwa teknologi dan pertanian dapat berjalan beriringan, menghasilkan panen yang melimpah dan berkualitas. Lebih dari itu, ini adalah langkah nyata UMM dalam berkontribusi pada ketahanan pangan dan mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












