Feature

Dunia Tak Baik-Baik Saja, Lulusan Smamdela Dibekali Enam Pesan Lukmanul Hakim

79
×

Dunia Tak Baik-Baik Saja, Lulusan Smamdela Dibekali Enam Pesan Lukmanul Hakim

Sebarkan artikel ini
Dr. Eko Hardi Ansyah, S.Psi., M.Psi., Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur saat memberikan pesannya di Haflah Akhirisanah Ke-36 dan Tahfizul Qur’an Ke-5 SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik, Ahad (10/5/2026).(Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Dr. Eko Hardi Ansyah mengajak lulusan Smamdela kembali pada enam pesan Lukmanul Hakim untuk menghadapi tekanan zaman, mulai dari krisis mental generasi muda, FOMO, hingga budaya pamer di media sosial.

Tagar.co – Di tengah meningkatnya tekanan hidup yang dihadapi generasi muda saat ini, enam pesan kehidupan dari Lukmanul Hakim menjadi bekal penting bagi lulusan SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela) dalam Haflah Akhirisanah Ke-36 dan Tahfizul Qur’an Ke-5 SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik, Ahad (10/5/2026).

Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur Dr. Eko Hardi Ansyah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, di hadapan para wisudawan, orang tua, dan tamu undangan.

Baca juga: Rektor UMG Ingatkan Lulusan Smamdela: Ijazah Saja Tak Cukup Hadapi 2030

Dalam motivasinya, Eko mengingatkan bahwa kelulusan bukan akhir perjalanan, melainkan awal memasuki kehidupan yang sesungguhnya. Setelah lulus, para siswa akan menghadapi fase baru sebagai mahasiswa maupun pekerja dengan tanggung jawab yang jauh lebih besar.

“Ini bukan akhirnya. Ini adalah awal dari kalian menempuh kehidupan yang sebenarnya,” ujarnya.

Menurutnya, ketika memasuki dunia dewasa, para lulusan dituntut lebih mandiri karena orang tua tidak lagi selalu bisa membantu secara langsung sebagaimana saat mereka masih berstatus pelajar. Karena itu, ia meminta para siswa mempersiapkan diri dengan semangat dan karakter yang kuat.

Baca Juga:  Campus Festival Synfest 2026, Alumni Smamdela Buka Jalan ke Dunia Kampus

Eko juga menyinggung kondisi global dan sosial yang menurutnya sedang tidak baik-baik saja. Situasi ekonomi yang tidak menentu, konflik internasional, hingga perubahan sosial membuat generasi muda menghadapi tekanan yang semakin besar.

Ia menyebut, berdasarkan sejumlah penelitian, tingkat kecemasan, stres, dan tekanan mental anak muda saat ini lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan media sosial yang berlebihan.

“Yang dibuka macam-macam, yang di-scroll macam-macam. Yang seharusnya tidak perlu tahu, sekarang jadi tahu gara-gara scrolling,” katanya.

Menurutnya, kondisi itu memunculkan berbagai tekanan psikologis seperti fear of missing out (FOMO), kecemasan sosial, hingga dorongan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain.

Enam Pesan Lukmanul Hakim

Karena itu, Eko mengajak para lulusan kembali pada pesan Lukmanul Hakim dalam Al-Qur’an yang dinilainya tetap relevan meski telah melintasi zaman.

“Pesan ini sederhana, tetapi nilainya luar biasa dan melintasi sejarah,” ujarnya.

Pesan pertama adalah pentingnya bersyukur. Menurutnya, semua pencapaian yang dimiliki saat ini berasal dari Allah Swt dan harus disyukuri dengan penuh kebahagiaan.

Baca Juga:  Psikolog Eko Hardi Ansyah Membedah Segitiga Sukses Ahmad Dahlan

“Orang yang paling bersyukur itu cirinya mudah bahagia,” tuturnya. Ia mengingatkan para siswa agar tidak terjebak dalam keinginan tanpa batas hingga lupa menikmati kehidupan yang sedang dijalani.

Pesan kedua adalah larangan menyekutukan Allah dengan orientasi duniawi semata. Ia menilai banyak orang terlalu menempatkan materi sebagai ukuran utama kebahagiaan dan kesuksesan.

“Jangan sampai semuanya dititikberatkan pada materi,” pesannya. Menurutnya, orientasi hidup yang semata-mata berpusat pada materi justru membuat seseorang sulit merasa cukup dan bahagia.

Pesan ketiga adalah berbakti kepada orang tua. Eko menegaskan bahwa membahagiakan orang tua harus menjadi prioritas dalam kehidupan para lulusan, baik ketika bekerja maupun melanjutkan pendidikan.

“Dengan membahagiakan orang tua, insyaallah Allah juga akan memberikan rida dan kemudahan untuk menjadi orang yang sukses,” katanya.

Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur Dr. Eko Hardi Ansyah, S.Psi., M.Psi., saat memberikan piagam penghargaan kepada salah satu hafizah di acara Haflah Akhirisanah Ke-36 dan Tahfizul Qur’an Ke-5 SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik di Hall Sang Pencerah Universitas Muhammadiyah Gresik, Ahad (10/5/2026). (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah)

Pesan berikutnya adalah menjaga integritas karena Allah Maha Mengetahui segala perbuatan manusia, sekecil apa pun.

Karena itu, ia mengingatkan para siswa agar bijak menggunakan media sosial dan tidak terlibat dalam perilaku negatif seperti perundungan siber, membuka aib diri sendiri, maupun mencari validasi dengan menjatuhkan orang lain.

Baca Juga:  Nuansa Betawi Hangatkan Pembukaan Haflah Akhirissanah Smamdela

“Jadilah orang-orang yang memiliki integritas,” ujarnya.

Pesan kelima adalah menjaga salat, terus berbuat baik, dan bersabar menghadapi kehidupan. Menurutnya, perjalanan setelah lulus tidak akan selalu mudah, tetapi setiap kegagalan harus dipandang sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan.

“Kalau gagal, itu adalah awal bagaimana kita bisa menjadi orang yang sukses,” tuturnya.

Adapun pesan terakhir adalah larangan bersikap sombong dan gemar memamerkan pencapaian di media sosial. Ia mengajak para lulusan menjadi pribadi yang rendah hati dan tulus dalam berbuat baik.

“Kebaikan itu tidak muncul dari apa yang kita pamerkan, tetapi dari niat hati yang tulus,” tegasnya.

Menurutnya, sikap rendah hati, sopan santun, dan etika akan menjadi modal penting bagi generasi muda untuk dihormati di mana pun mereka berada.

Di akhir penyampaiannya, Eko berharap para lulusan Smamdela mampu menjalani fase kehidupan baru dengan baik dan tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, agama, dan bangsa. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni