
Dalam pidato pelantikannya, Mahyuddin Syaifulloh menegaskan pentingnya sinergi dan inovasi di lingkungan sekolah Muhammadiyah. “Ini bukan zamannya superman, tapi superteam,” ujarnya, menandai babak baru kepemimpinan di Miosi.
Tagar.co — Di tengah lantunan doa dan rasa syukur, Mahyuddin Syaifulloh resmi dilantik sebagai Kepala SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo periode 2025-2029, Jumat siang, 7 November 2025, Aula At-Tanwir SMP Miosi.
Pelantikan ini bukan sekadar seremonial, melainkan penegasan komitmen untuk melanjutkan dakwah pendidikan berkemajuan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah.
Baca juga: Buku “Miosi dalam Berita” Jadi Kado Milad Ke-8 SMP Miosi
Acara pelantikan dihadiri oleh Wakil Ketua PDM Sidoarjo, Imam Mahfudzi, S.Ag., M.Fill.; Wakil Ketua PDM Misbah, S.Ag. M.Pd.; Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sidoarjo, M. Kohar, S.Sos., M.Si.; Ketua PCM Sidoarjo, Noerwachid, beserta jajaran; serta perwakilan Majelis Dikdasmen PCM Sidoarjo, Drs. Eko Budi Agus Priatna, M.Pd.
Hadir pula pengawas Dinas Pendidikan Sidoarjo, Titien, serta para kepala sekolah dari AUM sekitar seperti SMA Muhammadiyah 2, SD Muhammadiyah 1 dan 2, MI Muhammadiyah Makkah, serta para kepala SMP/MTs Muhammadiyah se-Sidoarjo.

Semangat Kolaborasi dan Warisan Keteladanan
Mahyuddin mengawali pidatonya dengan nada teduh dan penuh rasa syukur. Di hadapan para tamu undangan, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah menanamkan fondasi kuat bagi tumbuhnya SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo (Miosi).
Menurutnya, keberadaan sekolah ini tidak lepas dari semangat dan kerja keras PCM Sidoarjo dalam mewujudkan pendidikan unggul dan berkarakter.
“Sejak awal berdiri tahun 2017, semangatnya luar biasa. Gedung empat lantai langsung dibangun, kurikulum disiapkan dengan matang, dan rekrutmen guru diikuti lebih dari seratus pelamar,” ujar Mahyuddin yang sedang menempuh pendidikan S3 di Universitas Muhammadiyah Malang ini.
Ia juga mengenang masa-masa awal perjalanan Miosi yang sarat dengan semangat kolaborasi dan solidaritas antar-AUM.
“Kami dulu sering ke Musasi, Muhida, Sdamada, dan Smamda untuk mengambil perlengkapan seperti meja, lemari, mimbar, hingga kendaraan operasional. Semua berawal dari semangat kolaborasi. Saya berharap semangat itu terus hidup dalam naungan PCM Sidoarjo,” imbuhnya.
Kepada kepala sekolah sebelumnya, Muqhir, S.Ag., M.Pd., Mahyuddin menyampaikan apresiasi mendalam atas bimbingan dan keteladanan selama delapan tahun kepemimpinan.
“Beliau selalu menanamkan pentingnya musyawarah, mendorong guru untuk studi lanjut, dan mengingatkan agar rumah kita dihiasi bacaan Al-Qur’an,” tuturnya.

Harmonitas dan Inovasi Jadi Kunci Kemajuan
Mahyuddin menegaskan bahwa keberhasilan amal usaha Muhammadiyah (AUM) tidak hanya bergantung pada visi besar, tetapi juga pada keharmonisan antarsivitas sekolah.
“Kalau hubungan guru dan karyawan tidak harmonis, jangan berharap bisa melaju cepat. Ini bukan zamannya superman, tapi superteam. Mari saling menguatkan,” katanya bersemangat.
Ia kemudian menyoroti perubahan zaman yang menuntut dunia pendidikan beradaptasi cepat terhadap ekspektasi baru masyarakat.
“Dulu orang tua hanya fokus pada nilai akademik dan disiplin. Sekarang mereka menuntut keseimbangan antara akademik, karakter, kreativitas, dan kebahagiaan anak. Maka guru harus siap berinovasi dan berdialog,” ucapnya.
Menurut Mahyuddin, di tengah arus perubahan yang kian cepat, dunia pendidikan hanya memiliki dua pilihan: menjadi subjek atau objek perubahan.
“Kalau kita berhenti belajar dan berinovasi, kita hanya akan menjadi pemilik masa lalu. Mari jadi pelaku perubahan, bekerja keras, cerdas, dan ikhlas,” tegas Mahyuddin yang juga Jurnalis Tagar.co ini.

Miosi sebagai Ladang Dakwah dan Perkaderan
Menutup pidato perdananya, Mahyuddin mengajak seluruh guru dan karyawan menjadikan sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ladang dakwah dan perkaderan Muhammadiyah.
Ia berharap, semangat keislaman dan kolaborasi terus menjadi ruh yang menggerakkan seluruh aktivitas di SMP Muhammadiyah 10 Sidoarjo.
Dalam tiga bulan awal masa kepemimpinannya, ia berkomitmen untuk lebih banyak mendengar, berdialog, dan menyiapkan rencana kerja jangka menengah serta jangka panjang sebagai fondasi arah pengembangan sekolah.
“Semoga Allah memberi kekuatan, petunjuk, dan keberkahan bagi langkah kita ke depan,” tutupnya dengan nada penuh harap.
Penyunting Mohammad Nurfatoni












