Feature

Mageni Akbar Santri PEM Gondanglegi: Merayakan Khataman, Berbuka Penuh Kehangatan

40
×

Mageni Akbar Santri PEM Gondanglegi: Merayakan Khataman, Berbuka Penuh Kehangatan

Sebarkan artikel ini
Dalam sepekan, santri PEM Gondanglegi khatam Al-Qur’an lalu berbuka bersama dalam hangatnya Mageni Tasyakuran Akbar—ritual bulanan yang sarat spiritualitas, kebersamaan, dan semangat cinta ilmu.
Suasana Mageni alias Malam Anugerah Generasi Qurani dengan Tasyakuran Akbar di PEM Gondanglegi (Tagar.co/Shabrinuha)

Dalam sepekan, santri PEM Gondanglegi khatam Al-Qur’an lalu berbuka bersama dalam hangatnya Mageni Tasyakuran Akbar—ritual bulanan yang sarat spiritualitas, kebersamaan, dan semangat cinta ilmu.

Tagar.co – Sepekan terakhir, Pesantren Entrepreneur Muhammadiyah (PEM) Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, dipenuhi suara-suara lembut nan khusyuk. Lantunan ayat-ayat suci mengalun hampir tanpa henti, dari pagi hingga malam hari.

Inilah suasana yang menyertai santri PEM dalam menyambut agenda bulanan Mageni: Malam Anugerah Generasi Qurani- Tasyakuran Akbar. Untuk edisi Ramadan, selaian puncak khataman Al-Qur’an ada buka puasa bersama.

Baca juga: PEM Gondanglegi: Pesantren Modern yang Mengutamakan Kesehatan Santri

Berbeda dari hari-hari biasa, para santri tampak lebih tekun. Mushaf tak pernah jauh dari tangan mereka. Beberapa membaca sambil duduk bersila di serambi masjid, yang lain menyimak sambil bersandar di tiang-tiang aula. Semangat mereka bukan sekadar untuk menyelesaikan bacaan, tapi meresapi makna dan menyatukan hati dalam setiap ayat yang dilafalkan.

Khataman yang Bukan Sekadar Target

Puncak acara digelar pada Jumat (21/3/25) sore, ditandai dengan doa khatmilquran yang dipimpin bergantian oleh perwakilan santri. Suasana begitu hening saat nama-nama surah disebut satu per satu—pertanda bahwa khataman telah rampung dalam waktu kurang dari sepekan. Sebuah capaian yang jarang terjadi, apalagi dilakukan secara kolektif.

Baca Juga:  Nabi Musa, Laut Terbelah, dan Presisi Waktu Ilahi: Membaca Kembali Mukjizat di Era Sains

Para ustaz dan ustazah turut hadir, duduk bersaf bersama para santri. Beberapa tampak menahan haru. Tak sedikit santri pemula yang baru pertama kali khatam, namun berhasil menuntaskan dengan bimbingan teman seangkatan.

Al-Qur’an Bukan Hanya Dibaca, tapi Dihidupkan

Kepala Bidang Kurikulum PEM Gondanglegi, Ustaz Ahmad Rosyidi, S.Pd.I, menyebut capaian ini sebagai buah dari disiplin dan kekompakan seluruh elemen pondok.

“Alhamdulillah, sepekan yang padat tapi penuh berkah. Mageni Akbar ini bukan cuma target khataman, tapi upaya kami membentuk karakter santri lewat kedekatan dengan Al-Qur’an. Yang membanggakan, hampir semua bisa khatam kurang dari sepekan,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa Mageni Akbar telah menjadi agenda bulanan pondok—bukan hanya ritual ibadah, tapi bagian dari strategi pendidikan karakter Qur’ani.

Dalam sepekan, santri PEM Gondanglegi khatam Al-Qur’an lalu berbuka bersama dalam hangatnya Mageni Tasyakuran Akbar—ritual bulanan yang sarat spiritualitas, kebersamaan, dan semangat cinta ilmu.
Peserta Mageni alias Malam Anugerah Generasi Qurani dengan Tasyakuran Akbar di PEM Gondanglegi (Tagar.co/Shabrinuha)

Detik-detik Menjelang Magrib

Menjelang waktu berbuka, aroma masakan mulai menyebar dari dapur pondok. Para santri yang telah berwudu berbaris rapi di masjid. Nasi hangat, sayur lodeh, tempe goreng, dan kolak pisang tersaji dalam besek bambu. Air mineral dan kurma diletakkan di samping, menanti adzan Magrib berkumandang.

Baca Juga:  Santri PEM Gondanglegi Raih Hasil Membanggakan di Olimpycad Makassar

Saat bedug terdengar, suasana berubah. Lelah sepekan seolah hilang dalam satu tegukan air dan sebutir kurma. Santri saling menyapa, berbagi piring, tertawa pelan di sela-sela suapan. Tidak ada hiruk-pikuk berlebihan—yang ada hanya kehangatan yang terasa nyata, seperti keluarga besar yang lama tak bertemu.

Lebih dari Sekadar Acara Bulanan

Mageni Akbar bukan semata-mata agenda rutin. Di balik lantunan ayat dan hidangan berbuka, tersimpan misi besar: membentuk generasi yang tak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tapi juga menjadikannya cahaya hidup.

Harapan besar pun terus menyala, bahwa kelak dari ruang-ruang sederhana di Gondanglegi ini akan lahir pemimpin masa depan yang Qur’ani, mencintai ilmu, dan menjunjung tinggi akhlak mulia.

Jurnalis Shabrinuha Penyunting Mohammad Nurfatoni